Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pertanian

Di Balik 10 Ribu Hektare Jagung Lilirilau, Petani Soppeng Bergulat dengan Harga dan Distribusi Pupuk

7
×

Di Balik 10 Ribu Hektare Jagung Lilirilau, Petani Soppeng Bergulat dengan Harga dan Distribusi Pupuk

Sebarkan artikel ini

SOPPENG-BreakingNewspost.id — Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, kian mengukuhkan diri sebagai salah satu lumbung pangan utama daerah. Di balik bentangan lahan pertanian yang menurut data Koordinator BPP Kecamatan Lilirilau, Haji Hamaiar, mencapai sekitar 10 ribu hektare, wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi jagung terbesar di Kabupaten Soppeng sekaligus penopang utama ekonomi masyarakat pedesaan.

Hampir di setiap desa di wilayah Lilirilau, aktivitas pertanian menjadi denyut kehidupan warga. Dari pagi hingga petang, lahan-lahan jagung dipenuhi aktivitas petani yang menggantungkan harapan hidup pada hasil panen musim demi musim. Jagung bukan lagi sekadar komoditas pertanian, melainkan telah menjadi fondasi ekonomi rumah tangga masyarakat.

Dominasi produksi jagung di Lilirilau bukan hanya sebatas kebanggaan lokal. Sejumlah data pertanian dan hasil penelitian menunjukkan kecamatan ini memiliki luas tanam terbesar di Kabupaten Soppeng dan menjadi salah satu kawasan strategis produksi jagung di Sulawesi Selatan. Posisi tersebut membuat Lilirilau memegang peran penting dalam menopang rantai pasok pangan daerah.

Desa-desa seperti Abbanuange menjadi contoh nyata bagaimana sektor pertanian jagung mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Saat musim tanam dimulai, roda ekonomi desa ikut bergerak. Distribusi benih, penjualan pupuk, jasa pengolahan lahan, hingga aktivitas pengangkutan hasil panen menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan banyak warga.

Jagung hibrida menjadi komoditas yang paling banyak dikembangkan petani karena dianggap memiliki produktivitas lebih tinggi dan nilai jual yang lebih menjanjikan. Tidak sedikit keluarga petani yang mengandalkan hasil panen jagung untuk membiayai pendidikan anak, memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga membangun rumah.

Namun besarnya potensi pertanian di Lilirilau belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat kesejahteraan petani. Di tengah produktivitas yang terus meningkat, berbagai persoalan klasik masih membayangi sektor pertanian jagung.

Fluktuasi harga hasil panen menjadi persoalan yang paling sering dikeluhkan petani. Saat panen raya berlangsung serentak, harga jagung di tingkat petani kerap merosot tajam. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya harga pupuk, biaya pestisida, serta ancaman cuaca ekstrem yang mempengaruhi hasil produksi.

Persoalan distribusi pupuk juga menjadi perhatian. Ketua DPD APKAN RI Kabupaten Soppeng, Jamaluddin, menyebut keterlambatan pasokan pupuk di wilayah Kecamatan Lilirilau diduga dipengaruhi kendala distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada proses pengangkutan pupuk ke tingkat petani.

Di sejumlah wilayah pertanian, persoalan irigasi dan distribusi hasil panen juga masih menjadi tantangan. Infrastruktur jalan tani yang belum sepenuhnya memadai membuat biaya pengangkutan hasil panen meningkat, terutama saat musim hujan ketika akses menuju lahan menjadi sulit dilalui.

Situasi itu memunculkan harapan agar perhatian pemerintah tidak hanya berhenti pada slogan ketahanan pangan atau program seremonial semata. Petani berharap adanya langkah konkret berupa stabilisasi harga jagung, kemudahan akses pupuk bersubsidi, pembangunan infrastruktur pertanian, hingga jaminan pasar yang mampu melindungi hasil produksi petani lokal.

Meski menghadapi berbagai tekanan, semangat petani Lilirilau tetap bertahan. Tradisi bertani yang diwariskan turun-temurun membuat sektor pertanian jagung tetap hidup dan terus berkembang di tengah perubahan zaman.

Dengan luas lahan pertanian yang besar, produktivitas yang terus meningkat, serta ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap sektor pertanian, Lilirilau kini bukan hanya dikenal sebagai kawasan penghasil jagung terbesar di Soppeng. Kecamatan ini telah menjelma menjadi salah satu pilar penting ketahanan pangan daerah, di mana jagung menjadi simbol perjuangan hidup sekaligus harapan masa depan masyarakatnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *