BONE | Breakingnewspost.id — Upaya mendorong transformasi pertanian berbasis teknologi di Kabupaten Bone memasuki fase baru. Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (UKM KPI) Universitas Hasanuddin bersama Pemerintah Kecamatan Barebbo memperkuat komitmen keberlanjutan Program Mannennungeng: Smart Hydro Loop melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).
Kesepakatan tersebut bukan sekadar seremoni kerja sama. MoU menjadi pijakan kolaborasi selama tiga tahun untuk menjadikan Desa Kajaolaliddong sebagai desa percontohan (pilot village) smart farming di Kecamatan Barebbo.
MoU ditandatangani Ketua Umum UKM KPI Unhas Aydil Fitra Mulya bersama Camat Barebbo Andi Yusuf, S.STP., M.Si., di Kantor Camat Barebbo, Kamis (6/8/2026).
Penandatanganan turut disaksikan Kepala Desa Kajaolaliddong Muh. Yunus, perwakilan kelompok tani, pengurus P4S Lamellong, serta Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026.
Dari Program Mahasiswa Menuju Model Pembangunan Desa
Kesepakatan ini lahir setelah visitasi internal Universitas Hasanuddin terhadap pelaksanaan Program Mannennungeng. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Camat Barebbo melihat langsung penerapan inovasi yang dikembangkan mahasiswa bersama masyarakat di Desa Kajaolaliddong.
Program Mannennungeng mengusung pendekatan yang mencoba menjawab salah satu tantangan utama pertanian: bagaimana meningkatkan produktivitas sekaligus menggunakan sumber daya secara lebih efisien.
Teknologi Smart Hydro Loop dikembangkan dengan sistem pengairan presisi Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT). Pendekatan tersebut dipadukan dengan konsep pertanian terpadu melalui Integrated Crop-Livestock System (ICLS).
Tidak berhenti pada teknologi, program juga diarahkan pada penguatan kelembagaan kelompok tani serta pembangunan kawasan demonstrasi sebagai ruang belajar dan percontohan.
Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan tidak hanya ditempatkan sebagai proyek teknologi, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun kapasitas petani dan ekosistem pertanian yang lebih adaptif.
Tiga Tahun untuk Menguji Keberlanjutan
Salah satu tantangan terbesar program berbasis pengabdian masyarakat adalah keberlanjutan setelah tim mahasiswa meninggalkan lokasi.
MoU yang berlaku hingga 6 Agustus 2029 mencoba menjawab persoalan tersebut.
Dengan adanya kesepakatan tiga tahun, pengembangan Mannennungeng tidak lagi semata bergantung pada masa pengabdian mahasiswa. Pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat ditempatkan sebagai bagian dari proses keberlanjutan program.
Camat Barebbo Andi Yusuf menilai inovasi tersebut memiliki potensi untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Setelah memantau langsung pelaksanaan program di lapangan pada visitasi hari ini, saya semakin yakin bahwa Program Mannennungeng memiliki dampak nyata bagi petani di Desa Kajaolaliddong. Melalui MoU ini, kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan memastikan keberlanjutan program setelah mahasiswa menyelesaikan pengabdiannya. Kami juga akan mendorong replikasi inovasi ini ke desa-desa lain di Kecamatan Barebbo.”»
Teknologi Harus Berujung pada Manfaat Petani
Ketua Umum UKM KPI Unhas Aydil Fitra Mulya mengatakan MoU tersebut menjadi instrumen penting agar inovasi mahasiswa tidak berhenti ketika masa pengabdian berakhir.
Kami sangat bersyukur atas dukungan penuh dari Camat Barebbo dan jajarannya. MoU ini menjadi jaminan bahwa program Mannennungeng tidak berhenti ketika tim mahasiswa selesai mengabdi, tetapi terus berlanjut melalui sinergi antara pemerintah kecamatan, desa, dan masyarakat. Kami berharap Desa Kajaolaliddong dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam pengembangan pertanian cerdas.”»
Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan keberlanjutan sebagai ukuran penting keberhasilan program.
Sebab, teknologi pertanian pada akhirnya tidak cukup hanya diperkenalkan. Teknologi harus dapat digunakan, dipahami, dipelihara, dan memberikan manfaat nyata bagi petani.
Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026 Fadel Muhammad S. menegaskan bahwa pendekatan Mannennungeng tidak hanya berorientasi pada penerapan teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat.
Dengan adanya MoU ini, kami optimis program Mannennungeng dapat menjadi model pertanian cerdas yang berkelanjutan dan direplikasi di desa-desa lain di Kecamatan Barebbo.”»
Kajaolaliddong Diproyeksikan Jadi Titik Pembelajaran
Kepala Desa Kajaolaliddong Muh. Yunus menyambut baik komitmen tersebut.
Menurutnya, sinergi antara mahasiswa, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan program.
Kami sangat mengapresiasi komitmen UKM KPI Unhas dan Camat Barebbo dalam memastikan keberlanjutan program. Pemerintah desa siap bersinergi untuk mewujudkan pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan di desa kami.”»
Dengan adanya komitmen tersebut, Desa Kajaolaliddong diproyeksikan tidak hanya menjadi lokasi penerapan Smart Hydro Loop, tetapi juga ruang pembelajaran bagi pengembangan pertanian cerdas di tingkat lokal.
Model tersebut diharapkan dapat membuka peluang replikasi ke desa-desa lain di Kecamatan Barebbo apabila implementasinya mampu menunjukkan hasil yang konsisten.
Bukan Sekadar MoU
Penandatanganan MoU ini memperluas arah Program Mannennungeng dari program pengabdian mahasiswa menuju model kolaborasi yang lebih panjang antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.
Namun, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah dokumen kerja sama ditandatangani.
Tiga tahun masa kesepakatan akan menjadi ruang untuk membuktikan apakah inovasi yang dibangun mampu bertahan, apakah petani dapat mengadopsinya secara mandiri, dan apakah manfaatnya dapat diukur secara nyata.
Di titik inilah keberlanjutan tidak lagi menjadi slogan.
Teknologi harus bekerja. Petani harus mampu menggunakannya. Kelembagaan harus tetap bergerak. Pemerintah harus menjaga dukungan. Dan masyarakat harus menjadi penerima manfaat utama.
Jika seluruh unsur tersebut berjalan, Desa Kajaolaliddong berpeluang berkembang menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi perguruan tinggi dapat keluar dari ruang akademik dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Mannennungeng kini bukan lagi sekadar tentang teknologi. Ia menjadi ujian tentang bagaimana inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan dapat dipertemukan untuk menjawab kebutuhan petani di tingkat desa.Versi ini lebih berita-driven: lead diperkuat, konteks diperjelas, kutipan tetap dipertahankan, dan bagian akhir memberi tekanan pada tantangan keberlanjutan setelah MoU, sehingga artikelnya terasa lebih kritis tanpa mengarang fakta.
The gread















