PALU-BreakingNewspost.id — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) sekitar pukul 11.27 WITA memicu kepanikan warga di sejumlah daerah. Guncangan kuat yang dirasakan hingga beberapa kabupaten dan kota membuat masyarakat berhamburan keluar rumah, kantor, sekolah, serta pusat-pusat aktivitas untuk menyelamatkan diri.
Hingga Selasa sore, pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat TNI-Polri, dan berbagai unsur terkait masih melakukan pendataan dampak gempa. Laporan awal menunjukkan adanya kerusakan pada sejumlah bangunan, meski skala kerusakan secara keseluruhan masih dalam proses verifikasi.
Gempa yang berpusat di darat dengan kedalaman 10 kilometer tersebut tercatat berada pada koordinat 1,03 Lintang Selatan dan 120,24 Bujur Timur, atau sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu. Karakteristik gempa dangkal menyebabkan getaran terasa cukup kuat di sejumlah wilayah, termasuk Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Poso, dan beberapa daerah sekitarnya.
Di sejumlah lokasi, warga mengaku sempat mengalami kepanikan karena kuatnya guncangan yang datang secara tiba-tiba. Sebagian masyarakat memilih berkumpul di area terbuka sambil menunggu informasi resmi dari pemerintah dan BMKG mengenai perkembangan situasi pascagempa.
Laporan sementara yang diterima BNPB menyebutkan adanya bangunan rumah warga dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan. Namun hingga berita ini diturunkan, belum seluruh wilayah terdampak berhasil dijangkau tim pendata sehingga angka pasti kerugian maupun jumlah bangunan yang terdampak masih menunggu hasil asesmen lapangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fase tanggap darurat masih berfokus pada dua hal utama, yakni memastikan keselamatan warga dan memperoleh gambaran akurat mengenai tingkat kerusakan. Pengalaman berbagai bencana sebelumnya menunjukkan bahwa data awal sering kali berubah setelah proses verifikasi dilakukan secara menyeluruh.
Selain kerusakan fisik, gempa juga kembali memunculkan trauma bagi sebagian masyarakat Sulawesi Tengah yang pernah menghadapi bencana besar pada tahun-tahun sebelumnya. Tidak sedikit warga yang memilih bertahan di luar rumah untuk sementara waktu karena khawatir terjadi gempa susulan.
Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga diminta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi pemerintah, BMKG, BNPB, maupun BPBD setempat agar tidak terjebak dalam kabar bohong yang berpotensi menimbulkan kepanikan baru.
Para ahli kebencanaan menilai peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi di Indonesia. Karena itu, penguatan mitigasi bencana, kesiapsiagaan masyarakat, serta ketahanan infrastruktur menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Di tengah proses pendataan yang masih berlangsung, perhatian kini tertuju pada kecepatan respons pemerintah dalam memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi, sekaligus melakukan evaluasi terhadap kondisi bangunan dan fasilitas publik yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Hingga Selasa malam, tim gabungan masih melakukan pemantauan dan pendataan di lapangan. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, namun tidak panik, serta segera melaporkan apabila menemukan kerusakan bangunan yang berpotensi membahayakan keselamatan.
@Tim















