Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pendidikan

Gerakan 30 Menit Membaca Digencarkan di Sikka, DISARPUS Turun Langsung ke Sekolah dan Komunitas

4
×

Gerakan 30 Menit Membaca Digencarkan di Sikka, DISARPUS Turun Langsung ke Sekolah dan Komunitas

Sebarkan artikel ini

Maumere-BreakingNewspost.id — Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS) mulai mengintensifkan gerakan literasi di tingkat akar rumput. Salah satu langkah konkret ditunjukkan melalui sosialisasi Gerakan 30 Menit Membaca yang digelar di SDN Bolawolon dan SDN Blatat, Desa Tanaduen, Kecamatan Kangae, Jumat (24/4/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Pantai Nuba Nanga Bola Wolon ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Yuvensius Rafael. Program ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Bupati Sikka tentang penguatan ekosistem literasi, termasuk wisata literasi dan sains.

Dalam arahannya, Yuvensius menegaskan bahwa gerakan membaca tidak boleh berhenti sebagai formalitas program, tetapi harus menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

“Gerakan 30 menit membaca ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membentuk karakter, memperluas wawasan, dan melatih kemampuan berpikir kritis anak-anak,” ujarnya di hadapan siswa, guru, dan orang tua.

Literasi Jadi Isu Strategis Daerah

Langkah ini menandai keseriusan pemerintah daerah dalam merespons tantangan rendahnya minat baca di kalangan pelajar. Literasi kini tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan, melainkan sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menekankan bahwa keberhasilan gerakan ini tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah.

“Literasi adalah kerja bersama. Perlu keterlibatan orang tua, pemerintah desa, komunitas, hingga pegiat literasi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca,” katanya.

Menurutnya, tanpa kolaborasi lintas sektor, gerakan literasi berisiko hanya berjalan di atas kertas tanpa dampak nyata di lapangan.

Libatkan Komunitas dan Pegiat Literasi

Kegiatan ini tidak hanya bersifat sosialisasi, tetapi juga dirancang interaktif. Sejumlah pegiat literasi dilibatkan untuk memberikan pendekatan yang lebih menarik bagi siswa.

Sesi storytelling, motivasi membaca, serta edukasi sains menjadi bagian dari rangkaian acara. Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan, yang dikemas secara ringan namun edukatif.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, di antaranya Kepala Desa Tanaduen Paulus Jonson Aritos, para kepala bidang DISARPUS, serta pegiat literasi dari berbagai komunitas.

Kehadiran komunitas dinilai penting sebagai jembatan antara program pemerintah dan implementasi di masyarakat.

Desa Didorong Jadi Basis Literasi

Kepala Desa Tanaduen, Paulus Jonson Aritos, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran DISARPUS membawa energi baru bagi masyarakat desa dalam membangun budaya membaca.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Harapannya, literasi bisa tumbuh dari desa dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujarnya.

Pendekatan berbasis desa ini dinilai strategis karena literasi tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sosial anak.

Tantangan: Konsistensi dan Keberlanjutan

Meski mendapat respons positif, tantangan utama dari gerakan ini terletak pada konsistensi pelaksanaan. Tanpa pengawasan dan evaluasi berkala, program berpotensi kehilangan momentum.

Sejumlah pihak menilai perlu adanya mekanisme monitoring agar gerakan membaca benar-benar dijalankan secara rutin, baik di sekolah maupun di rumah.

Selain itu, ketersediaan bahan bacaan yang menarik dan akses terhadap buku juga menjadi faktor penentu keberhasilan program.

Menuju Generasi Literat

Pemerintah Kabupaten Sikka berharap Gerakan 30 Menit Membaca tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi berkembang menjadi budaya yang mengakar di masyarakat.

Dengan sinergi antara pemerintah, sekolah, dan komunitas, program ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Di tengah arus informasi yang semakin deras, literasi menjadi kunci utama. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah program ini penting, tetapi sejauh mana komitmen semua pihak untuk menjadikannya nyata.

Penulis: Yuven Fernandez

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *