SOPPENG | BreakingNewsPost.id — Musim kemarau mulai menekan petani bawang merah di sejumlah titik Dusun Peppa’e, kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng. Aktivis Hukum Rudiandi, C.FLE., C.BJ., C.EJ., C.In., meminta pemerintah daerah segera memetakan lahan yang mengalami keterbatasan air dan menyiapkan bantuan pompa untuk mencegah tanaman terdampak kekeringan.
Menurut Rudiandi, jum’at (21/8/2026) kebutuhan pompa semakin mendesak bagi petani yang mengandalkan sumber air yang lokasinya jauh dari lahan. Tanpa sarana pengairan, tanaman bawang merah berisiko kekurangan air ketika musim kemarau berlangsung.
“Pemerintah daerah perlu melihat langsung kondisi petani di lapangan. Kalau sumber air masih tersedia tetapi sulit dialirkan ke lahan, bantuan pompa dapat menjadi solusi agar tanaman tidak kekurangan air,” ujar Rudiandi.
Ia meminta pemerintah tidak menunggu hingga tanaman mengalami kerusakan atau petani menanggung kerugian. Pendataan titik lahan yang membutuhkan pompa, kata dia, perlu dilakukan sejak awal agar bantuan dapat diberikan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Air Menjadi Persoalan Utama
Ketersediaan air merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya bawang merah. Lahan yang tidak terjangkau jaringan irigasi membuat petani semakin bergantung pada sumber air alternatif selama musim kemarau.
Rudiandi menilai pemerintah daerah melalui dinas terkait dan penyuluh pertanian perlu mengidentifikasi sumber air yang masih tersedia di sekitar lahan. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang membutuhkan pompa serta kapasitas sarana pengairan yang diperlukan.
“Jangan hanya menunggu laporan. Pemerintah perlu turun melihat titik-titik lahan yang membutuhkan air sehingga bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran,” katanya.
Menurut dia, kebutuhan pompa di setiap lokasi belum tentu sama. Pendataan karena itu perlu mempertimbangkan luas lahan, jarak sumber air, jumlah petani, serta kondisi sumber air yang tersedia.
Petani Butuh Dukungan Nyata
Bantuan pompa air diharapkan tidak hanya menjaga tanaman tetap tumbuh, tetapi juga membantu petani mempertahankan produksi dan mengurangi risiko kerugian akibat kekeringan.
Rudiandi mengatakan pemerintah juga perlu memberikan pendampingan mengenai penggunaan air secara efisien. Pengaturan jadwal pengairan dan pemanfaatan sumber air secara bersama dapat membantu petani menghadapi keterbatasan air.
Ia berharap bantuan sarana pertanian diberikan berdasarkan kondisi faktual di lapangan, bukan semata berdasarkan usulan administratif.
“Yang dibutuhkan petani sekarang adalah dukungan yang bisa digunakan langsung di lapangan. Pompa air sangat penting bagi lahan yang memiliki sumber air, tetapi tidak memiliki sarana untuk mengalirkannya,” ujarnya.
Pemerintah Diminta Petakan Titik Kekeringan
Rudiandi mendorong pemerintah daerah segera memetakan titik-titik lahan pertanian di Dusun Peppa’e yang mengalami keterbatasan air.
Pemetaan diperlukan untuk menentukan prioritas bantuan sekaligus mengetahui apakah sumber air masih mencukupi selama musim kemarau.
Jika sumber air masih tersedia, pompa dapat digunakan untuk mengalirkannya ke lahan. Namun, apabila debit air semakin menurun, pemerintah perlu menyiapkan langkah lain agar petani tidak menghadapi risiko gagal produksi.
Persoalan air pada musim kemarau perlu ditangani sebelum berdampak lebih luas terhadap produksi pertanian. Bagi petani bawang merah di Peppa’e, ketersediaan pompa menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mempertahankan tanaman selama pasokan air terbatas.Tim/Red















