Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Labuan Bajo ke Polandia: Bambu Manggarai Barat Menembus Pasar Dunia, NTT Didorong Jadi Identitas Rumah Bambu Nasional

12
×

Labuan Bajo ke Polandia: Bambu Manggarai Barat Menembus Pasar Dunia, NTT Didorong Jadi Identitas Rumah Bambu Nasional

Sebarkan artikel ini

Labuan Bajo|BreakingNewspost.id — Potensi bambu di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menunjukkan daya saing yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Di tengah upaya daerah mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor pariwisata, produk bambu dari Kabupaten Manggarai Barat justru berhasil menembus pasar internasional.

Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) di Labuan Bajo mencatat capaian penting dengan mengekspor sekitar 15 ribu batang bambu ke Polandia untuk pembangunan rumah khas NTT. Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi prestasi sebuah lembaga, tetapi juga memberi gambaran bahwa komoditas lokal yang selama ini dipandang sebagai bahan bangunan tradisional ternyata memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikelola secara profesional dan memenuhi standar global.

Capaian itu mendapat perhatian langsung dari Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, saat melakukan kunjungan kerja ke Rumah Bambu YBLL, Selasa (21/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, Wakil Gubernur meninjau proses produksi sekaligus berdialog dengan pengelola mengenai pengembangan industri bambu yang kini berkembang menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif berorientasi ekspor.

Kunjungan ini merupakan kali kedua Johni Asadoma mendatangi Rumah Bambu YBLL setelah sebelumnya mendampingi Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Februari 2026. Intensitas perhatian pemerintah daerah terhadap industri bambu menunjukkan bahwa sektor ini mulai dipandang sebagai salah satu potensi ekonomi strategis NTT.

Project Officer Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Septiani Solfriyansi Maro, menjelaskan bahwa proses ekspor bambu dilakukan melalui tahapan yang cukup panjang untuk memenuhi standar negara tujuan.

Sebanyak kurang lebih 15 ribu batang bambu telah kami kirim ke Polandia untuk pembangunan rumah khas NTT. Sebelum diekspor, bambu diawetkan terlebih dahulu di Manggarai Barat, kemudian dikirim ke Bali untuk menjalani proses karantina sebelum diberangkatkan ke Polandia. Setelah tiba di sana, bambu kembali mendapatkan perlakuan sesuai standar negara tujuan,” ujar Septiani.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa produk bambu bukan sekadar komoditas mentah, melainkan telah melalui proses industri yang memperhatikan aspek kualitas, keamanan, dan standar internasional.

Selain memenuhi pasar ekspor, YBLL juga melayani berbagai permintaan dari dalam negeri. Produk berbahan bambu telah digunakan untuk kebutuhan sektor perhotelan, industri, hingga lembaga pendidikan. Beragam furnitur dan material konstruksi bambu yang diproduksi YBLL disebut telah menghasilkan omzet mendekati Rp600 juta.

Bahan baku bambu diperoleh langsung dari masyarakat desa di Manggarai Barat. Setelah melalui proses seleksi dan pemotongan sesuai kebutuhan produksi, bambu kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Pola ini tidak hanya menciptakan industri hilir, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sebagai pemasok bahan baku.

YBLL juga mengembangkan budidaya bambu berkelanjutan melalui sistem HBL dengan usia panen ideal di atas tiga hingga lima tahun. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pasokan sekaligus memastikan bahwa peningkatan permintaan tidak mengganggu kelestarian sumber daya alam.

Secara teknis, bambu Manggarai Barat memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan bambu dari daerah lain di NTT. Menurut Septiani, bambu dari wilayah ini cenderung memiliki diameter lebih kecil, tetapi berdinding lebih tebal, sehingga cocok digunakan untuk kebutuhan konstruksi dan furnitur.

Dalam proses produksinya, bambu dikeringkan dan diawetkan agar memiliki daya tahan tinggi. Dengan perawatan yang baik, tiang bambu dapat bertahan hingga 10 tahun, sedangkan pelupuh atau atap bambu dapat digunakan sekitar lima tahun.

“Kuncinya adalah perawatan atau maintenance,” kata Septiani.

Produk bambu yang dihasilkan memiliki spesifikasi beragam, dengan ketebalan mulai 3 hingga 25 milimeter, lebar sekitar 28 sentimeter, dan panjang 2,4 meter. Papan bambu dengan ketebalan 25 milimeter dipasarkan dengan harga sekitar Rp460 ribu per lembar. Kualitas perekat dan proses pengolahan menjadi faktor penting dalam menentukan daya tahan produk terhadap air maupun perubahan cuaca.

Meski demikian, pengembangan industri bambu masih menghadapi sejumlah tantangan. Biaya transportasi dari desa ke lokasi produksi, ongkos pengiriman antarwilayah, serta tingginya harga bahan pendukung seperti perekat menjadi kendala yang perlu mendapat perhatian apabila industri ini ingin berkembang lebih besar.

Untuk menjawab tantangan tersebut, YBLL berencana bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengembangan teknologi dan pengujian mutu bambu melalui laboratorium. Kolaborasi riset dinilai penting agar produk bambu Indonesia mampu memenuhi standar pasar internasional yang semakin kompetitif.

Menanggapi perkembangan tersebut, Wakil Gubernur NTT menyampaikan apresiasinya terhadap kreativitas generasi muda yang berhasil mengangkat komoditas lokal menjadi produk bernilai ekspor.

Saya sangat mengapresiasi kreativitas pemuda-pemudi di Yayasan Bambu Lingkungan Lestari. Perkembangannya luar biasa karena produk bambu dari Manggarai Barat kini sudah dipasarkan hingga ke luar negeri. Ini menjadi kebanggaan bagi NTT. Kita harus terus mempromosikan produk ini agar semakin banyak pesanan, tentu dengan tetap menjaga kualitas, keindahan, dan kekuatan bambunya,” ujar Johni Asadoma.

Wakil Gubernur menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa sumber daya lokal dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru apabila dikelola secara profesional, berbasis inovasi, dan memiliki orientasi pasar.

Di tengah dominasi sektor pariwisata sebagai wajah utama NTT, berkembangnya industri bambu memberi pesan lain: daerah ini juga memiliki potensi ekonomi hijau yang berkelanjutan. Bambu bukan sekadar bahan bangunan tradisional, melainkan dapat berkembang menjadi identitas baru daerah sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat.

Menutup kunjungannya, Wakil Gubernur berharap NTT suatu saat dikenal sebagai daerah yang identik dengan rumah bambu, sebagaimana sejumlah daerah lain dikenal melalui arsitektur khasnya.

Kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik, dijaga kualitasnya, dan dipromosikan secara luas, bambu NTT akan semakin dikenal di pasar dunia,” pungkasnya.

Reporter: Bergita Abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *