Breakingnewspost.Id,SOPPENG — Musim tanam jagung telah tiba. Kalender pertanian yang selama ini menjadi pedoman turun-temurun kembali menunjukkan waktunya. Namun, di Desa Abbanuange, harapan itu seakan menggantung di langit yang tak kunjung berawan. Hujan yang biasanya hadir membawa kehidupan, hingga kini belum juga turun.
Di hamparan lahan kering yang mulai kehilangan kelembapannya, para petani hanya bisa menatap langit dengan cemas. Retakan tanah tampak jelas membelah permukaan lahan yang seharusnya siap ditanami jagung. Benih-benih yang telah disiapkan pun masih tersimpan, menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
“Biasanya bulan seperti ini sudah mulai turun hujan,” ujar seorang petani setempat dengan nada lirih. “Sekarang kami hanya bisa menunggu. Kalau dipaksakan tanam, bisa gagal semua.”
Jagung menjadi komoditas utama bagi sebagian besar warga Desa Abbanuange. Ketergantungan terhadap air hujan membuat musim tanam sangat bergantung pada kondisi cuaca. Keterlambatan hujan bukan hanya menunda proses tanam, tetapi juga mengancam siklus produksi dan pendapatan petani.
Sejumlah petani mengaku telah mengeluarkan biaya awal untuk persiapan lahan, mulai dari pengolahan tanah hingga pembelian benih. Namun tanpa kepastian hujan, seluruh upaya tersebut terancam sia-sia.
“Kami sudah siap tanam, tapi kalau tanah masih kering begini, benih bisa mati. Kami tidak berani ambil risiko,” kata petani lainnya.
Angin yang berhembus di kawasan pertanian kini lebih sering membawa debu daripada kesejukan. Saluran irigasi sederhana yang biasanya membantu suplai air pun mulai mengering. Sumber air alternatif seperti sumur atau tampungan air hujan belum mampu mencukupi kebutuhan lahan yang luas.
Kondisi ini turut berdampak pada perputaran ekonomi desa. Aktivitas pertanian yang melambat menyebabkan pendapatan warga ikut tertekan. Sejumlah buruh tani bahkan mengaku kehilangan pekerjaan sementara karena belum dimulainya masa tanam.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, para petani tetap berusaha bertahan. Sebagian memilih menunda penanaman hingga hujan benar-benar turun, sementara yang lain mencoba menanam di lahan terbatas dengan harapan cuaca segera berubah.
Di pematang lahan, doa-doa dipanjatkan. Bagi mereka, hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan penentu hidup. “Turunlah hujan,” menjadi harapan yang terus diulang—bukan sekadar ungkapan, tetapi kebutuhan yang mendesak.
Fenomena keterlambatan hujan ini juga menjadi perhatian, seiring dengan pola musim yang semakin sulit diprediksi dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan iklim diduga turut memengaruhi pergeseran musim, menempatkan petani pada posisi yang semakin rentan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat menghadirkan solusi jangka pendek maupun panjang, seperti penyediaan sarana irigasi, bantuan pompa air, hingga pendampingan pola tanam yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Bagi Desa Abbanuange, hujan bukan hanya soal cuaca. Ia adalah sumber kehidupan, penentu keberlangsungan, sekaligus harapan yang kini dinantikan dengan penuh kegelisahan. Tanpa hujan, musim tanam hanyalah penanda waktu—tanpa kepastian akan masa depan.















