SOE,BreakingNewsPost.id – Persoalan di lokasi pembangunan Koperasi Merah Putih (KMP) Desa Loli, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), memantik polemik baru. Seorang pengurus atau pemasok proyek yang bernama Soleiman Tusi alias Imen Tusi diduga kuat mencatut nama seorang wartawan serta membawa-bawa identitas pejabat desa dalam sebuah percakapan yang memicu kericuhan.
Peristiwa tersebut bermula ketika wartawan Media Jurnal Sepernas, Kimas, datang ke lokasi proyek untuk meminta jasa tukang las memperbaiki bagian sepeda motornya. Namun, situasi berubah menjadi perdebatan hingga Imen Tusi disebut-sebut melontarkan kata-kata kasar dan secara berulang-ulang menyebut nama serta profesi Kimas.
Saya bertanya langsung, apa maksud menyebut nama saya dan profesi saya sebagai wartawan berkali-kali? Apakah ada persoalan pribadi yang belum selesai?” ujar Kimas saat dikonfirmasi, Rabu (2/7/2026).
Menurut pengakuan Kimas, ia bahkan telah meminta anaknya meminjam uang sebesar Rp50.000 di kios terdekat untuk membayar jasa pengelasan tersebut. Namun, uang tersebut disebut tidak diterima atau ditolak oleh Imen Tusi, yang justru semakin emosi.
Dalam percakapan yang memanas itu, Imen juga diduga membawa-bawa nama Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Usapi Tmam Apa, Maksi R. Angket, dengan menyatakan pernah berkomunikasi terkait suatu hal yang dinilai tidak relevan dengan situasi saat itu.
Hal tersebut kemudian dikonfirmasi langsung oleh Kimas kepada Maksi R. Angket melalui telepon. Dalam kesempatan itu, Maksi mengaku tidak mengenal sosok Imen Tusi.
Menanggapi hal tersebut, Imen kemudian menyebutkan pernah bertemu Maksi di ruang Bupati Timor Tengah Utara (TTU) bersama pejabat setempat. Namun, penjelasan itu dinilai tidak jelas konteksnya dan tidak menjawab pertanyaan mendasar mengenai alasan namanya diseret dalam persoalan pribadi.
Kimas menilai tindakan tersebut sangat menyinggung profesi jurnalistik dan etika pergaulan. Ia meminta Yayasan Ningsi Sarif (YNS) selaku pihak pengelola dan penanggung jawab proyek KMP untuk segera mengevaluasi perilaku oknum tersebut.
Kami meminta agar nama profesi wartawan dan nama pejabat tidak digunakan sembarangan untuk kepentingan pribadi atau untuk mengintimidasi pihak lain. Ini soal kehormatan dan kredibilitas institusi,” tegasnya.
Selain soal pencatutan nama, Kimas juga mengemukakan sejumlah dugaan masalah lain yang menyoroti kinerja Imen Tusi selama proyek berlangsung, di antaranya terkait keterlambatan pembayaran upah tukang serta dugaan adanya kerusakan pada tanaman milik warga di sekitar lokasi.
Namun, perlu dicatat bahwa seluruh dugaan tersebut sejauh ini masih merupakan klaim dari satu sisi dan memerlukan pembuktian lebih lanjut serta konfirmasi menyeluruh dari pihak terkait.
@maklon A.angket















