Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Perkuat Layanan Kesehatan Desa, PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas Bekali Kader Posyandu Desa Popo soal ILP

9
×

Perkuat Layanan Kesehatan Desa, PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas Bekali Kader Posyandu Desa Popo soal ILP

Sebarkan artikel ini

TAKALAR | Breakingnewspost.id — Penguatan layanan kesehatan di tingkat desa tak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Kapasitas kader Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat juga menjadi bagian penting. Atas dasar itu, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HIMAKAHA) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin (Unhas) berkolaborasi dengan Puskesmas Bontomarannu menggelar refreshing kader Posyandu se-Desa Popo, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar.

Kegiatan yang berlangsung Selasa (11/8/2026) tersebut digelar di salah satu rumah warga di Dusun Kampung Parang dan diikuti kader Posyandu dari sejumlah wilayah di Desa Popo.

Kegiatan bukan sekadar pembekalan teknis. Forum tersebut menjadi ruang untuk mengevaluasi kembali pemahaman kader sekaligus membahas tantangan yang mereka hadapi ketika memberikan pelayanan kesehatan di tengah masyarakat.

Materi disampaikan Anni Hamdana, S.ST, dari bagian Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Bontomarannu. Ia memberikan penguatan mengenai 7 Langkah Posyandu serta konsep Integrasi Layanan Primer (ILP) yang mencakup enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Dalam pendekatan ILP, paradigma pelayanan Posyandu mengalami perluasan. Posyandu tidak lagi dipahami sebatas tempat pelayanan ibu dan anak, tetapi menjadi bagian dari pendekatan pelayanan kesehatan sepanjang siklus hidup.

Kader kemudian diajak memahami kembali tahapan 7 Langkah Posyandu agar pelaksanaan pelayanan lebih sistematis. Pemahaman tersebut menjadi penting karena kader berada pada titik pertama interaksi pelayanan kesehatan dengan masyarakat.

Pembahasan enam bidang SPM juga menjadi bagian utama. Kader diperkenalkan kembali pada cakupan pelayanan dasar yang lebih luas, mulai dari kesehatan ibu dan anak, kelompok usia produktif, hingga lanjut usia serta kebutuhan kesehatan masyarakat lainnya.

Tantangan terbesar bukan hanya memahami konsep ILP, tetapi menerjemahkannya ke dalam pelayanan yang konsisten di tingkat desa.

Karena itu, kegiatan berlangsung secara interaktif. Para kader tidak hanya menerima materi, tetapi juga menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka temui selama menjalankan Posyandu di wilayah masing-masing.

Diskusi tersebut menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala dalam pelaksanaan pelayanan. Pola seperti ini penting agar materi yang diberikan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan sesuai kondisi masyarakat.

Kolaborasi PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas dengan Puskesmas Bontomarannu juga memperlihatkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam memperkuat kapasitas masyarakat.

Kader Posyandu memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan warga. Mereka membantu menghubungkan masyarakat dengan fasilitas kesehatan, mendukung pemantauan kondisi kesehatan, sekaligus mendorong penerapan perilaku hidup sehat di tingkat keluarga.

Namun, posisi strategis tersebut harus diikuti dengan peningkatan kapasitas secara berkelanjutan. Kader membutuhkan pemahaman yang jelas, pendampingan, serta koordinasi dengan tenaga kesehatan agar pelayanan yang diberikan tetap berada dalam koridor yang tepat.

Melalui kegiatan refreshing tersebut, kader Posyandu Desa Popo diharapkan semakin siap menghadapi perluasan peran Posyandu dalam kerangka ILP.

Penguatan kapasitas kader juga diarahkan untuk mendukung keberlanjutan berbagai program kesehatan di Desa Popo, termasuk upaya pengendalian faktor risiko stunting melalui Program OCEANS.

Bagi masyarakat desa, keberhasilan ILP pada akhirnya tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan Posyandu. Ukurannya adalah sejauh mana pelayanan tersebut mampu menjangkau masyarakat, memperkuat pencegahan, menemukan faktor risiko lebih awal, dan menghubungkan warga dengan layanan kesehatan yang dibutuhkan.

Karena itu, pembekalan kader menjadi investasi penting. Posyandu yang memiliki kader terlatih, didukung tenaga kesehatan dan jejaring kelembagaan yang kuat, memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pintu masuk pelayanan kesehatan primer yang efektif di tingkat desa.Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *