Breakingnewspost.Id,Soppeng, 2 April 2026 — Hamparan tanaman bawang yang semula hijau kini tampak berlubang dan menguning di sejumlah titik lahan di Desa Abbanuange, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng. Serangan hama ulat yang kian meluas dalam beberapa hari terakhir mulai mengancam hasil panen petani, memicu kekhawatiran akan penurunan produksi hingga potensi gagal panen.
Kondisi ini mendorong Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Lilirilau, Musliadi, untuk turun langsung ke lokasi guna meninjau situasi sekaligus memberikan pendampingan teknis kepada petani. Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut atas laporan petani yang mengeluhkan meningkatnya intensitas serangan hama di lahan mereka.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, sejumlah tanaman bawang mengalami kerusakan pada bagian daun. Daun terlihat berlubang, menguning, bahkan sebagian mengering. Kondisi ini diduga kuat akibat aktivitas ulat yang menggerogoti jaringan tanaman secara masif.
“Setiap laporan dari petani menjadi prioritas untuk segera ditindaklanjuti. Kami turun langsung untuk memastikan kondisi riil di lapangan sekaligus memberikan solusi yang tepat agar serangan ini tidak semakin meluas,” ujar Musliadi saat ditemui di lokasi.
Petani setempat menyebutkan bahwa serangan hama mulai terlihat sejak beberapa waktu lalu dan terus mengalami peningkatan, terutama pada lahan dengan tingkat kelembapan yang relatif tinggi. Faktor cuaca dan kondisi lingkungan dinilai turut mempercepat perkembangan hama, sehingga penyebarannya sulit dikendalikan dalam waktu singkat.
“Awalnya hanya sedikit, tapi sekarang sudah banyak yang rusak. Kalau tidak cepat ditangani, hasil panen bisa jauh berkurang. Bahkan ada tanaman yang sudah tidak bisa diselamatkan,” kata salah seorang petani.
Dalam kunjungan tersebut, Musliadi tidak hanya melakukan identifikasi tingkat serangan, tetapi juga memberikan arahan teknis terkait langkah penanganan. Ia mendorong petani untuk menerapkan pengendalian hama terpadu, di antaranya melalui pengamatan rutin, penggunaan pestisida sesuai dosis anjuran, serta pemanfaatan metode ramah lingkungan guna menekan populasi hama.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem pertanian sekaligus menghindari ketergantungan berlebihan terhadap bahan kimia. Selain itu, penggunaan pestisida yang tidak sesuai anjuran justru berpotensi menimbulkan resistensi hama dan memperparah kondisi dalam jangka panjang.
Musliadi juga mengimbau petani untuk meningkatkan koordinasi antarpetani dalam satu kawasan. Pertukaran informasi mengenai perkembangan serangan hama dinilai menjadi kunci untuk mempercepat respons penanganan di lapangan.
“Pengendalian tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi antarpetani dan penyuluh agar penanganannya efektif dan merata,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pendampingan tidak berhenti pada tahap peninjauan awal. Pihaknya akan terus melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan langkah pengendalian berjalan efektif dan tepat sasaran.
Di sisi lain, peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya sistem deteksi dini terhadap serangan hama di sektor pertanian. Respons cepat dari petani dalam melaporkan kondisi di lapangan, serta tindak lanjut dari penyuluh, menjadi faktor krusial dalam menekan potensi kerugian yang lebih besar.
Sejumlah petani kini berharap upaya pengendalian yang tengah dilakukan dapat segera membuahkan hasil. Mereka menggantungkan harapan agar tanaman bawang yang masih tersisa tetap dapat tumbuh optimal dan menghasilkan panen yang layak di tengah ancaman serangan hama yang belum sepenuhnya teratasi.















