Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaDAERAH

Budidaya Pinang Batara di Malaka, Perkuat Tradisi Sambut Tamu Sekaligus Dorong Ekonomi Warga

10
×

Budidaya Pinang Batara di Malaka, Perkuat Tradisi Sambut Tamu Sekaligus Dorong Ekonomi Warga

Sebarkan artikel ini

Malaka, NTT-BreakingNewspost.id Budaya menyambut tamu dengan sirih dan pinang masih menjadi tradisi yang dijaga kuat oleh masyarakat Timor. Di Desa Kota Biru, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka, 17 maret 2026, tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai peluang ekonomi.

Hal tersebut terlihat saat Jurnalis Apkannews melakukan kunjungan ke kediaman Wilhelmus Suri yang akrab disapa Wilem, bersama istrinya Agustina Kolo dan mama Kunera Kolo. Penyambutan sederhana dengan hidangan sirih pinang mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan di tengah masyarakat.

Bagi warga Timor, sirih dan pinang bukan sekadar suguhan, melainkan simbol penghormatan dan penerimaan terhadap tamu. Setiap rumah umumnya menyediakan tempat sirih, yakni wadah anyaman daun lontar yang digunakan untuk menyajikan sirih pinang dalam berbagai kesempatan sosial.

“Sirih dan pinang harus selalu ada di rumah. Ini bagian dari adat dan cara kami menghormati tamu,” ujar Wilem.

Selain menjaga tradisi, Wilem yang sehari-hari bekerja sebagai petani sawah juga mulai mengembangkan budidaya Pinang Batara. Upaya ini dilakukan bersama keluarga dan didukung oleh Jurnalis Apkannews, Bergita Abi, melalui penanaman anakan pinang menggunakan polibag di lingkungan rumah.

Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret menggabungkan nilai budaya dengan kebutuhan ekonomi. Pinang yang selama ini identik dengan ritual adat, kini mulai dilihat sebagai komoditas yang berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga.

Namun demikian, budidaya Pinang Batara tidak memberikan hasil instan. Tanaman ini baru mulai produktif setelah 4 hingga 5 tahun, sehingga membutuhkan kesabaran dan perencanaan jangka panjang dari para petani.

Dukungan terhadap pengembangan ini juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Dinas PUPR Provinsi Nusa Tenggara Timur, Benyamin Nahak, disebut turut membantu mendorong budidaya pinang di wilayah Malaka.

Meski memiliki potensi, pengembangan Pinang Batara masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan pendampingan teknis, akses pasar, hingga kepastian harga jual di masa depan.

Di sisi lain, nilai budaya pinang tetap menjadi fondasi utama. Dalam kehidupan masyarakat Timor, sirih pinang tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan adat dan kemasyarakatan.

Dengan demikian, budidaya Pinang Batara di Desa Kota Biru tidak hanya berperan dalam menjaga tradisi penyambutan tamu, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Keberhasilan program ini ke depan akan sangat bergantung pada dukungan berkelanjutan serta kesiapan petani dalam mengelola potensi tersebut.

Reporter: Bergita Abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *