MAUMERE-BreakingNewspost.id — Di balik perbukitan yang sunyi dan jalan yang tak selalu mudah dilalui, sebuah perubahan perlahan hadir. Senin siang itu, langkah rombongan Pemerintah Kabupaten Sikka bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan membawa jawaban atas persoalan lama: keterisolasian akses internet di sekolah-sekolah terpencil.
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, turun langsung bersama jajaran pemerintah daerah, di antaranya Plt. Kadis PKO Patrisius Pederico, Koordinator Pengawas, serta Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales.
Tujuan mereka jelas: menghadirkan akses internet melalui perangkat Starlink di SDI Mage Lo’o, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda—sebuah wilayah yang selama ini masuk kategori blank spot.
Sinyal yang Selama Ini “Mewah”
Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, internet adalah kebutuhan sehari-hari. Namun di sejumlah wilayah Sikka, sinyal justru menjadi barang langka. Siswa harus berjalan jauh, mencari titik tertentu hanya untuk mengakses materi pelajaran atau mengikuti ujian berbasis komputer.
Sebelumnya, bantuan serupa juga telah diberikan di SD Pau Klor, Desa Pruda, Kecamatan Waiblama. Langkah ini diambil untuk memastikan siswa tetap dapat mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA), yang sebelumnya dikenal sebagai ANBK.
Dalam era digital, akses internet bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan dasar pendidikan. Tanpa itu, kesenjangan belajar semakin melebar.
Data pemerintah daerah menunjukkan, masih terdapat lebih dari 20 titik blank spot di Kabupaten Sikka. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor pendidikan, tetapi juga ekonomi, pelayanan publik, hingga komunikasi sosial masyarakat.
Internet sebagai Jembatan Kesetaraan
Kehadiran Starlink di dua sekolah tersebut menjadi titik awal penting. Bukan sekadar pemasangan perangkat, tetapi langkah konkret menuju pemerataan akses pendidikan.
Kini, siswa di SD Pau Klor dan SDI Mage Lo’o tidak lagi harus mengejar sinyal. Mereka bisa belajar, mengerjakan ujian, dan mengakses pengetahuan dari ruang kelas mereka sendiri.
Namun di balik agenda resmi itu, tersimpan kisah yang lebih personal.
Pulang ke Jejak Masa Kecil
Di SDI Mage Lo’o, Bupati Juventus Prima Yoris Kago sejenak berhenti. Ia tidak hanya melihat bangunan sekolah, tetapi juga mengenang perjalanan hidupnya sendiri.
Di tempat itu, ia pernah menjadi murid—melanjutkan pendidikan dari kelas 3 hingga tamat. Ia kembali bertemu guru lama, menyapa tetangga, dan mengingat masa ketika hidup serba terbatas, bahkan harus mendorong gerobak untuk mengambil air.
Sementara di SD Pau Klor, ia pernah duduk di bangku kelas 1 dan 2.
Semua itu tidak lepas dari sosok ibundanya, almarhumah Ibu Inosensia, seorang guru yang mengabdikan hidupnya di daerah terpencil. Di tengah keterbatasan listrik dan infrastruktur, ia tetap menjalankan tugas tanpa keluh.
Dari situlah, nilai-nilai pengabdian tumbuh.
Seorang anak kecil yang dulu belajar dalam keterbatasan, kini kembali sebagai pemimpin—membawa perubahan agar generasi berikutnya tidak mengalami hal yang sama.
Dari Keterbatasan Menjadi Kekuatan
Kisah ini bukan sekadar tentang teknologi, tetapi tentang keberpihakan. Tentang bagaimana pembangunan hadir hingga ke wilayah yang selama ini terpinggirkan.
Langkah menghadirkan internet di pelosok mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anak-anak di sana, ini adalah jendela dunia.
Dan bagi publik luas, ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal infrastruktur besar, tetapi memastikan tidak ada yang tertinggal—termasuk mereka yang berada jauh di ujung jalan.
(Yuven Fernandez)















