Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaSorotan

Jeritan Warga Dusun Belia Menanti Akses Jalan Layak, Dua Periode Kepemimpinan Bupati Majene Dipertanyakan

12
×

Jeritan Warga Dusun Belia Menanti Akses Jalan Layak, Dua Periode Kepemimpinan Bupati Majene Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini

MAJENE-Breakingnewspost.id — 4 maret 2026, Di tengah narasi pembangunan dan pertumbuhan daerah, warga Dusun Belia, Desa Banua Adolang, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, masih bergulat dengan persoalan mendasar: akses jalan. Selama puluhan tahun, mereka berjalan kaki menempuh jarak 25 kilometer untuk mencapai pasar terdekat. Kondisi tersebut tetap berlangsung meski dua periode kepemimpinan bupati telah berjalan.

Pantauan di lapangan memperlihatkan jalur menuju dusun itu masih berupa jalan tanah tanpa peningkatan infrastruktur berarti. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan berbahaya. Di musim kemarau, debu tebal dan panas terik memperlambat perjalanan warga yang memikul hasil kebun di pundak mereka.

“Sejak kecil sampai sekarang sudah berkeluarga, kami tetap jalan kaki ke pasar. Tidak ada kendaraan yang bisa masuk,” ujar seorang warga.

Keterbatasan akses bukan sekadar persoalan jarak, tetapi berdampak langsung pada ekonomi rumah tangga. Hasil pertanian yang menjadi tulang punggung penghidupan warga terhambat distribusinya. Ongkos angkut melonjak karena harus menggunakan tenaga manusia, sementara harga jual di pasar tidak selalu menutup biaya dan tenaga yang dikeluarkan.

Efek domino juga terasa di sektor pendidikan dan kesehatan. Anak-anak harus berjalan jauh untuk bersekolah. Warga yang sakit menghadapi risiko keterlambatan penanganan medis karena kendaraan roda dua maupun roda empat tidak mampu menjangkau wilayah tersebut.

Secara administratif, Dusun Belia berada di Provinsi Sulawesi Barat. Namun dalam praktiknya, warga mengaku belum merasakan pemerataan pembangunan yang selama ini menjadi bagian dari dokumen perencanaan dan pidato resmi pemerintah daerah.

Sejumlah tokoh masyarakat menilai persoalan ini mencerminkan lemahnya prioritas pembangunan infrastruktur dasar di wilayah pedesaan terpencil. Mereka mempertanyakan konsistensi perencanaan, penganggaran, dan pengawasan proyek infrastruktur selama dua periode kepemimpinan.

“Jalan itu kebutuhan paling dasar. Tanpa akses, kami terisolasi secara ekonomi dan sosial,” ujar Nurdin seorang tokoh masyarakat.

Hingga kini, belum ada penjelasan rinci dari pemerintah daerah mengenai peta jalan (roadmap) pembukaan atau peningkatan akses ke Dusun Belia, termasuk alokasi anggaran dan target waktu pelaksanaan. Ketiadaan kepastian tersebut memperkuat persepsi publik bahwa wilayah pedalaman belum menjadi prioritas utama.

Bagi warga Dusun Belia, jalan bukan sekadar bentangan tanah yang diperkeras. Ia adalah simbol kehadiran negara, ukuran konkret pemerataan pembangunan, dan kunci untuk keluar dari lingkaran keterisolasian. Selama akses itu belum terwujud, evaluasi terhadap capaian pembangunan di Majene akan terus menjadi pertanyaan terbuka di ruang publik.

Reporter:M.arifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *