Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Jalan Putus Akibat Hujan, Warga TTS Minta Dedi Mulyadi Turun Tangan

57
×

Jalan Putus Akibat Hujan, Warga TTS Minta Dedi Mulyadi Turun Tangan

Sebarkan artikel ini

Soe, NTT-BreakingNewspost.id — Kerusakan infrastruktur kembali menjadi sorotan di wilayah timur Indonesia. Hujan yang mengguyur Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, menyebabkan akses jalan di sejumlah wilayah terputus, memicu keluhan warga yang merasa belum mendapat penanganan cepat dari pemerintah daerah.

Sorotan publik mencuat setelah seorang warga Amanatun Utara, Rendy Manhitu, mengunggah kondisi jalan rusak parah melalui akun media sosialnya. Dalam unggahan tersebut, terlihat badan jalan yang tergerus dan sulit dilalui, sehingga menghambat aktivitas masyarakat.

Yang menarik, dalam unggahan itu, warga justru meminta perhatian dari Dedi Mulyadi untuk turun langsung membantu penanganan jalan di TTS. Permintaan tersebut kemudian menyebar luas dan memicu perbincangan di kalangan masyarakat.

Sejumlah warga menilai, langkah tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap lambannya respons pemerintah daerah dalam menangani kerusakan jalan yang disebut telah terjadi cukup lama.

Salah satu warga Kecamatan Polen, Ande Timo, mengungkapkan bahwa kondisi jalan di wilayah Ayotupas, Amanatun Utara, sudah rusak parah sejak beberapa tahun terakhir dan belum mendapatkan penanganan serius.

“Kalau pemerintah daerah tidak mampu, wajar masyarakat berharap bantuan dari pihak lain. Yang penting ada solusi. Jalan ini sudah lama rusak dan sangat mengganggu aktivitas warga,” ujarnya.

Menurutnya, kerusakan jalan tidak hanya berdampak pada mobilitas, tetapi juga pada kondisi ekonomi masyarakat. Akses yang terputus membuat distribusi barang terhambat dan berpotensi meningkatkan biaya hidup warga.

Ia juga mengingatkan bahwa saat ini baru memasuki awal musim hujan. Jika tidak segera ditangani, kerusakan dikhawatirkan akan semakin meluas dan menyebabkan lebih banyak wilayah terisolasi.

“Kalau tidak sigap, dampaknya bisa lebih besar. Masyarakat bisa makin terisolasi dan ekonomi makin tertekan,” tambahnya.

Hingga 25 April 2026, warga mengaku belum melihat adanya penanganan langsung di lokasi terdampak. Kondisi ini mendorong mereka untuk menyuarakan keluhan melalui media sosial dan berharap mendapat perhatian dari pemerintah, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat.

Di sisi lain, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan terkait langkah penanganan jalan yang rusak tersebut. Namun, dalam konteks penanganan bencana dan infrastruktur, koordinasi lintas pemerintah menjadi faktor penting agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Pengamat infrastruktur menilai, kasus ini menunjukkan pentingnya sistem respons cepat terhadap kerusakan jalan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap cuaca ekstrem. Selain itu, transparansi informasi kepada publik juga dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa akses jalan bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat—yang menentukan mobilitas, ekonomi, hingga akses layanan dasar.

Maklon angket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *