Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Menteri Koperasi Kunjungi NTT, Dorong Koperasi Jadi Motor Ekonomi Rakyat

0
×

Menteri Koperasi Kunjungi NTT, Dorong Koperasi Jadi Motor Ekonomi Rakyat

Sebarkan artikel ini

Kupang-BreakingNewspost.com — Pemerintah pusat terus mendorong penguatan koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat. Hal ini ditegaskan dalam kunjungan kerja Ferry Juliantono ke Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (25/4/2026), yang disambut oleh Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johanis Asadoma di Bandara El Tari Kupang.

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat peran koperasi, khususnya melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang tengah didorong sebagai strategi nasional pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Usai penyambutan, rombongan melanjutkan agenda ke Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Manulai II, Kecamatan Alak. Di lokasi tersebut, Menteri Koperasi berdialog langsung dengan pengurus dan anggota koperasi, sekaligus meninjau aktivitas usaha yang telah berjalan.

Dalam kesempatan itu, Ferry Juliantono menegaskan bahwa koperasi memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi masyarakat, terutama bagi kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap sumber daya ekonomi.

“Koperasi adalah alat bagi mereka yang lemah. Ketika yang lemah bersatu, mereka menjadi kuat,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, ia juga menyatakan diri sebagai anggota luar biasa KKMP Manulai II dengan menyetorkan simpanan pokok sebesar Rp50 juta. Langkah ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi penguatan permodalan koperasi.

Transformasi dari Penerima menjadi Pelaku

Menurut Ferry, program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dirancang untuk mendorong transformasi masyarakat dari penerima bantuan menjadi pelaku usaha mandiri. Dalam skema ini, koperasi diharapkan menjadi pusat aktivitas ekonomi lokal.

“Koperasi tidak hanya menjual kebutuhan pokok, tetapi juga harus mampu menyerap dan memasarkan hasil pertanian, peternakan, perikanan, serta produk UMKM,” katanya.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari gudang penyimpanan, alat pengering hasil panen, hingga cold storage bagi produk hortikultura. Selain itu, koperasi juga didorong memiliki layanan keuangan mikro dan fasilitas pendukung lainnya.

Ia menekankan pentingnya integrasi koperasi dalam seluruh rantai ekonomi, mulai dari produksi, distribusi, hingga pembiayaan. Hal ini dinilai sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional.

Peran Daerah dan Tantangan Implementasi

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa koperasi harus menjadi instrumen utama dalam mewujudkan keadilan ekonomi di daerah.

“Kita sudah menjalankan demokrasi politik dengan prinsip satu orang satu suara. Namun dalam ekonomi, prinsip kebersamaan itu belum sepenuhnya berjalan. Koperasi harus menjadi jawabannya,” ujarnya.

Ia juga mendorong masyarakat untuk memperkuat ekosistem koperasi melalui transaksi internal dan kolaborasi antaranggota.

“Selama koperasi ada, mari kita prioritaskan bertransaksi di koperasi. Ini soal membangun kekuatan bersama,” katanya.

Menurut Melki, koperasi di NTT tidak boleh berhenti pada fungsi simpan pinjam, tetapi harus bertransformasi menjadi pelaku usaha yang menguasai rantai nilai, dari produksi hingga pemasaran dan industri.

Namun demikian, sejumlah tantangan masih perlu diantisipasi, seperti penguatan kapasitas manajemen, konsistensi pendampingan, serta akses pasar yang lebih luas. Tanpa itu, pertumbuhan koperasi dikhawatirkan tidak berkelanjutan.

Harapan dari Tingkat Akar Rumput

Dari sisi masyarakat, kehadiran Menteri Koperasi disambut positif. Salah satu warga Manulai II, Lili Mariani Bale, berharap koperasi dapat memberikan dampak nyata, terutama dalam membantu pemasaran produk lokal yang selama ini masih terbatas.

“Kami berharap koperasi ini benar-benar bisa membantu masyarakat, terutama dalam menjual produk lokal,” ujarnya.

Ketua Pengurus KKMP Manulai II, Roby Dami, menjelaskan bahwa koperasi tersebut berdiri sejak 31 Mei 2025 dengan 20 anggota awal. Dengan pendampingan dari KSP TLM Indonesia, koperasi kini mulai menunjukkan perkembangan.

“Kami sudah memiliki gerai sembako yang menjual produk lokal seperti air mineral, kopi, dan beras. Omzet sudah mencapai lebih dari Rp47 juta dan terus meningkat,” katanya.

Menuju Koperasi Berbasis Ekosistem

Kunjungan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah menempatkan koperasi sebagai bagian penting dalam strategi pembangunan ekonomi nasional. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.

Dengan dukungan kebijakan, penguatan kelembagaan, serta partisipasi aktif anggota, koperasi diharapkan mampu berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang tidak hanya inklusif, tetapi juga berkelanjutan.

Bergitha Abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *