Majene-BreakingNewspost.id — Di sepanjang jalur Trans Sulawesi yang membelah pesisir barat Pulau Sulawesi, terdapat sebuah titik singgah yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyimpan kisah mendalam: Tebing Rewata’a.
Terletak di Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, tebing batu yang menjulang di atas laut ini kini dikenal sebagai destinasi favorit para pelancong. Namun di balik keindahan panorama biru laut dan angin pesisir yang menenangkan, tersimpan legenda pilu tentang sosok yang dikenal sebagai To Mettanduk—manusia bertanduk.
Kisah Luka dan Pengucilan
Menurut cerita tutur masyarakat setempat, pada masa lampau hiduplah seorang pria dengan kondisi fisik yang berbeda—memiliki tanduk di kepalanya. Perbedaan itu membuatnya terasing di tengah lingkungan sosialnya.
Rasa malu, tekanan batin, dan beban sosial yang berat perlahan menggerogoti hidupnya. Hingga suatu hari, ia memilih datang ke puncak Tebing Rewata’a—tempat yang kini menjadi saksi bisu kisah tragis tersebut.
Dalam detik-detik terakhirnya, ia menyampaikan pesan menyayat hati dalam bahasa daerah:
“Iyya dzi,e dite,e sekali na,upatei alawe,u Sawa nama, uwanga, tau Idza merrupa tau.”
(Sekarang saya mengakhiri hidup karena dianggap bukan manusia seutuhnya).
Kalimat itu menjadi warisan emosional yang terus hidup dalam ingatan masyarakat—sebuah refleksi tentang pentingnya penerimaan, empati, dan kemanusiaan.
Dari Tragedi Menjadi Destinasi
Kini, Tebing Rewata’a telah bertransformasi menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Majene. Lokasinya yang strategis di jalur utama menjadikannya rest area alami bagi pengendara yang melintas.
Hamparan laut lepas, tebing batu yang kokoh, serta suasana yang tenang menjadikan tempat ini magnet bagi wisatawan lokal maupun luar daerah untuk berfoto dan menikmati perjalanan.
Namun, masyarakat setempat mengingatkan bahwa Rewata’a bukan sekadar tempat swafoto.
“Kami berharap pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati keindahan, tetapi juga memahami cerita di baliknya. Legenda To Mettanduk adalah bagian dari identitas budaya kami,” ujar salah satu tokoh masyarakat Pamboang.
Warisan Budaya yang Perlu Dijaga
Legenda To Mettanduk kini menjadi bagian dari kekayaan budaya lisan Majene yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah arus modernisasi, cerita ini dinilai memiliki nilai edukatif yang kuat—tentang kemanusiaan, penerimaan diri, dan dampak stigma sosial.
Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan dapat mengemas potensi ini secara bijak, menggabungkan keindahan alam dengan narasi budaya sebagai daya tarik wisata yang berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, Kabupaten Majene tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga pengalaman emosional dan reflektif bagi setiap pengunjung yang singgah.
@Red









