MAMUJU-BreakingNewspost.id — Di kompleks pemakaman raja-raja Mamuju, tersimpan sebuah makam yang menjadi saksi bisu sejarah perlawanan rakyat terhadap kekuasaan kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Makam tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan seorang bangsawan Kerajaan Mamuju yang pernah memimpin perlawanan rakyat di Benteng Kayumangiwang, Budong-Budong, Mantarosso Pattana Bone, pada tahun 1907.
Perlawanan yang dipimpin tokoh bangsawan tersebut menjadi bagian penting dari dinamika sejarah perjuangan masyarakat di wilayah pesisir barat Sulawesi. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda tengah memperluas pengaruh dan kontrol politiknya di berbagai wilayah Nusantara, termasuk kawasan yang kini menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Barat.
Ekspansi kekuasaan kolonial tidak jarang memicu perlawanan dari masyarakat lokal yang menolak intervensi terhadap kedaulatan wilayah dan sistem pemerintahan tradisional. Di Mamuju, salah satu pusat perlawanan tersebut terjadi di Benteng Kayumangiwang.
Benteng Kayumangiwang pada masa itu memiliki posisi strategis sebagai titik pertahanan dan konsolidasi kekuatan masyarakat setempat. Dari tempat inilah para tokoh lokal mengorganisasi perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda yang berupaya memperkuat kontrol atas wilayah pesisir dan jalur perdagangan di kawasan tersebut.
Dipimpin oleh seorang bangsawan Kerajaan Mamuju, masyarakat setempat bergerak melawan kekuatan kolonial. Perlawanan tersebut tidak hanya melibatkan unsur bangsawan, tetapi juga rakyat yang berupaya mempertahankan wilayah dan martabat komunitasnya.
Namun, kekuatan rakyat yang terbatas pada akhirnya tidak mampu menandingi kekuatan militer kolonial yang lebih terorganisasi serta didukung persenjataan modern. Setelah melalui serangkaian operasi militer, pasukan gabungan Belanda berhasil mematahkan perlawanan di Benteng Kayumangiwang.
Setelah perlawanan berhasil dipadamkan, pemimpin perlawanan bersama salah satu tokoh penting lainnya, Daenna Maccirinnae, ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda.
Keduanya kemudian dijatuhi hukuman pengasingan dan dibawa keluar dari wilayah Mamuju sebagai bagian dari strategi pemerintah kolonial untuk melemahkan pengaruh para tokoh lokal yang dianggap berpotensi memobilisasi perlawanan rakyat.
Menurut catatan sejarah lokal, kedua tokoh tersebut diasingkan ke Jepara, wilayah yang berada di kawasan Semarang, Jawa Tengah. Masa pengasingan itu berlangsung sekitar tiga tahun sebelum akhirnya mereka diperbolehkan kembali ke tanah kelahirannya di Mamuju.
Sekembalinya dari pengasingan, perjalanan hidup kedua tokoh ini kemudian mengambil arah yang berbeda.
Daenna Maccirinnae beberapa tahun kemudian berangkat menunaikan ibadah haji ke Makkah. Pada masa itu, perjalanan menuju Tanah Suci merupakan perjalanan panjang yang harus ditempuh melalui jalur laut selama berbulan-bulan.
Namun takdir berkata lain. Dalam perjalanan pulang dari Makkah, Daenna Maccirinnae dilaporkan jatuh sakit. Kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya beliau wafat di Ceylon, yang kini dikenal sebagai Sri Lanka.
Kepergian Daenna Maccirinnae di perantauan meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Mamuju. Atas jasa dan pengorbanannya dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda, beliau kemudian dikenang dengan gelar Tomatindo di Selong, sebuah gelar kehormatan yang diberikan pada tahun 1915.
Sementara itu, makam bangsawan Kerajaan Mamuju yang memimpin perlawanan di Benteng Kayumangiwang tetap terjaga di kompleks pemakaman raja-raja Mamuju. Bagi masyarakat setempat, makam tersebut tidak sekadar menjadi tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga simbol keberanian dan semangat perjuangan melawan penjajahan.
Sejumlah tokoh masyarakat dan pemerhati sejarah di Mamuju menilai keberadaan situs tersebut memiliki nilai historis yang penting bagi generasi muda. Jejak perjuangan lokal seperti ini menjadi pengingat bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak hanya terjadi di pusat-pusat kekuasaan besar di Nusantara, tetapi juga di berbagai daerah yang jauh dari pusat pemerintahan kolonial.
Karena itu, upaya pelestarian situs sejarah seperti makam para pejuang dan lokasi Benteng Kayumangiwang dinilai penting untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah perjuangan di daerahnya.
Di tengah perkembangan zaman, jejak-jejak sejarah seperti ini diharapkan tidak hanya menjadi kisah masa lalu, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran tentang keberanian, pengorbanan, serta semangat mempertahankan martabat dan kedaulatan bangsa.
Kronologi Perlawanan Benteng Kayumangiwang 1907
1907
Perlawanan rakyat Mamuju pecah di Benteng Kayumangiwang dipimpin bangsawan Kerajaan Mamuju bersama tokoh lokal, termasuk Daenna Maccirinnae.
Setelah perlawanan dipatahkan
Pasukan militer Belanda melakukan penangkapan terhadap para pemimpin perlawanan.
Pengasingan
Pemimpin perlawanan dan Daenna Maccirinnae diasingkan ke Jepara, Jawa Tengah, selama sekitar tiga tahun.
Kembali ke Mamuju
Keduanya diperbolehkan kembali ke tanah kelahirannya setelah masa pengasingan berakhir.
Beberapa tahun kemudian
Daenna Maccirinnae menunaikan ibadah haji ke Makkah.
Dalam perjalanan pulang
Beliau jatuh sakit dan wafat di Ceylon (Sri Lanka).
1915
Daenna Maccirinnae dikenang dengan gelar Tomatindo di Selong sebagai penghormatan atas jasa perjuangannya.Tim















