Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pemerintah

Persediaan Obat dan KIS ODDP Jadi Kendala, Koordinasi Lintas Sektor di Sikka Diperkuat

25
×

Persediaan Obat dan KIS ODDP Jadi Kendala, Koordinasi Lintas Sektor di Sikka Diperkuat

Sebarkan artikel ini

SIKKA-BreakingNewspost.id — Persoalan keterbatasan persediaan obat dan nonaktifnya Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP) menjadi sorotan utama dalam Pertemuan Koordinasi Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) tingkat Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (28/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Camat Alok ini merupakan bagian dari implementasi Program Bersama untuk Flores Sehat Jiwa (BERSAHAJA) yang diinisiasi oleh Yayasan PAPHA Indonesia bersama sejumlah mitra.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Alok Rudolf M. Cherubim Newar, para Community Organizer (CO) PAPHA Indonesia, kader kesehatan jiwa, tenaga kesehatan, serta unsur pemerintah desa dan kelurahan.

Dalam forum diskusi, para kader kesehatan jiwa mengungkapkan bahwa kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah terbatasnya ketersediaan obat serta adanya ODDP yang KIS-nya tidak aktif, sehingga menghambat akses layanan kesehatan.

“Selama ini kendala utama adalah persediaan obat dan KIS bagi ODDP yang dinonaktifkan. Karena itu, perlu peningkatan kerja sama lintas sektor agar persoalan ini benar-benar bisa diatasi,” ujar salah satu kader dalam forum tersebut.

Community Organizer PAPHA Indonesia, Sofia Maria Dolorosa, menjelaskan bahwa Program BERSAHAJA telah memasuki tahun ketiga pelaksanaan. Program ini dijalankan oleh konsorsium tiga lembaga, yakni Yayasan JPM Kupang, Yayasan PAPHA Indonesia Sikka, dan Yayasan AYO Indonesia Manggarai, dengan dukungan CBM International serta Pemerintah Australia melalui DFAT.

Menurut Sofia, selama kurang lebih dua tahun pendampingan, kader kesehatan jiwa yang dibentuk bersama pemerintah desa dan kelurahan telah menjalankan kegiatan rutin bersama tenaga kesehatan. Namun, berbagai tantangan masih dihadapi di lapangan.

“Pertemuan ini penting untuk koordinasi, evaluasi, dan perencanaan, agar semua pihak memahami perannya dalam pendampingan ODDP, sehingga layanan yang diberikan bisa lebih optimal,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam pertemuan tersebut dibahas empat upaya utama kesehatan jiwa, yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Salah satu fokus utama adalah penyusunan mekanisme rujukan kasus kesehatan jiwa dari tingkat desa hingga fasilitas layanan kesehatan lanjutan.

Selain itu, dilakukan pembaruan dan identifikasi data ODDP, baik yang menjadi dampingan program maupun di luar program. Data tersebut dinilai penting tidak hanya untuk pendampingan oleh puskesmas dan kader, tetapi juga sebagai dasar pengusulan kebijakan kepada dinas sosial dan Bapperida, termasuk dalam penyusunan rancangan peraturan bupati tentang penyandang disabilitas.

Pertemuan ini juga menghasilkan sejumlah target, antara lain tersedianya data terkini jumlah dan kondisi ODDP di masing-masing desa, teridentifikasinya tantangan dan praktik baik dalam pendampingan, serta tersusunnya rencana kerja TPKJM Kecamatan Alok untuk tahun 2026.

Camat Alok, Rudolf M. Cherubim Newar, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Yayasan PAPHA dan para mitra yang dinilai memiliki kepedulian tinggi terhadap ODDP.

“Tidak semua pihak memiliki perhatian terhadap ODDP. Kami mengapresiasi PAPHA, KKI, dan Biara Camillian yang bekerja dengan hati dalam mendampingi mereka,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa persoalan anggaran, khususnya untuk penyediaan obat, masih menjadi tantangan utama. Menurutnya, obat memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas kondisi ODDP.

“Obat ini sangat penting. Jika tersedia dan diminum secara rutin, kondisi mereka bisa stabil. Namun jika tidak ada, risikonya bisa meningkat,” kata dia.

Karena itu, pemerintah kecamatan mendorong keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat dan lembaga terkait, untuk bersama-sama mencari solusi atas persoalan tersebut.

Menutup kegiatan, Camat Alok mengajak seluruh peserta untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelompok rentan, termasuk ODDP, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial bersama.

“Jika kita memberi perhatian kepada mereka yang terpinggirkan, saya yakin itu akan membawa kebaikan bagi kita semua,” ujarnya.

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara puskesmas, kader kesehatan jiwa, pemerintah desa dan kelurahan, serta organisasi masyarakat sipil dalam meningkatkan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas di Kabupaten Sikka.

@yuvenfernandez

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *