Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Sejarah

Desa Pallis di Pegunungan Balanipa, Simpan Jejak Awal Islam dan Bertahan dari Sektor Pertanian

6
×

Desa Pallis di Pegunungan Balanipa, Simpan Jejak Awal Islam dan Bertahan dari Sektor Pertanian

Sebarkan artikel ini

Polewali Mandar-BreakingNewspost.id — Desa Pallis di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menyimpan dua wajah sekaligus: jejak sejarah awal masuknya Islam di Mandar dan realitas kehidupan masyarakat yang masih bertumpu pada sektor pertanian tradisional.

Di tengah lanskap perbukitan, desa ini memiliki situs makam kuno yang diyakini sebagai tempat peristirahatan salah satu tokoh penerima awal Islam pada abad ke-16, yakni Mara’dia Sara atau Kalibani I. Hingga kini, makam tersebut tetap dijaga dan dihormati oleh masyarakat sebagai bagian dari warisan leluhur.

Sejumlah tokoh masyarakat menyebut situs tersebut memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat. Namun, di sisi lain, ketiadaan kajian akademik yang komprehensif membuat aspek sejarahnya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

“Ini sudah lama diyakini sebagai tokoh awal penerima Islam di sini, tapi memang perlu penelitian lebih dalam supaya datanya semakin kuat,” ujar salah satu tokoh masyarakat.

Sementara itu, di balik nilai sejarah yang dimiliki, kehidupan warga Desa Pallis masih bergantung pada sektor pertanian. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani kakao dan cabai rawit, serta mengolah nira menjadi gula aren secara tradisional.

Sebagian warga juga memelihara kambing sebagai sumber penghasilan tambahan, terutama untuk menghadapi ketidakpastian hasil panen.

Kondisi geografis pegunungan menjadi tantangan tersendiri. Akses yang terbatas, fluktuasi harga komoditas, serta faktor cuaca kerap memengaruhi stabilitas ekonomi masyarakat.

Meski demikian, solidaritas sosial di Desa Pallis tetap terjaga. Budaya gotong royong dan sikap ramah menjadi ciri khas yang masih kuat di tengah perubahan zaman.

Di sisi lain, potensi desa dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Sejumlah kalangan menilai, keberadaan situs makam kuno serta kekayaan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata religi dan edukasi, jika didukung pengelolaan yang baik serta perhatian dari pemerintah.

“Kalau ini dikembangkan, bisa jadi potensi besar, bukan hanya untuk sejarah tapi juga ekonomi masyarakat,” ujar seorang pemerhati lokal.

Desa Pallis menjadi gambaran nyata perpaduan antara sejarah dan ketahanan hidup masyarakat pedesaan. Di satu sisi menyimpan jejak penting masa lalu, di sisi lain masih berjuang menghadapi tantangan ekonomi dan pembangunan.@Red

Sumber:yummi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *