Polewali Mandar-BreakingNewspost.id -— Waktu seolah berjalan lebih pelan di Desa Pallis. Di Dusun Tondo, denyut kehidupan masyarakat masih berpijak pada nilai-nilai lama yang diwariskan lintas generasi. Di sanalah berdiri sebuah masjid tua—sederhana dalam bentuk, namun besar dalam makna—yang diperkirakan telah berusia hampir satu abad.
Masjid ini bukan hanya bangunan ibadah. Ia adalah penanda zaman, saksi perjalanan sejarah, dan ruang hidup yang menyatukan masyarakat dalam iman dan kebersamaan.

Tak ada prasasti yang mencatat secara pasti kapan masjid ini pertama kali didirikan. Namun, ingatan kolektif warga menjadi arsip yang tak tertulis. Cerita tentang masjid ini diwariskan dari mulut ke mulut, dari orang tua kepada anak-anak mereka.
Menurut Pak Lamin, masjid tersebut telah ada sejak masa leluhur.
“Kalau dihitung dari cerita orang tua dulu, usianya sudah sekitar 100 tahun. Dari dulu sampai sekarang, masjid ini tidak pernah ditinggalkan,” tuturnya.
Bangunan ini mungkin telah mengalami sentuhan perbaikan, tetapi esensi dan fungsinya tetap terjaga—menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat Dusun Tondo.
Warisan Iman yang Terpelihara
Setiap hari, masjid ini menjadi tempat berkumpulnya warga untuk menunaikan ibadah. Dari lantunan azan hingga kegiatan keagamaan lainnya, semuanya berlangsung dalam kesederhanaan yang sarat makna.
Di tempat inilah anak-anak pertama kali mengenal huruf hijaiyah, belajar mengaji, dan memahami nilai-nilai keislaman. Para orang tua menanamkan ajaran moral, sementara generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang religius dan penuh kebersamaan.
Meski telah berusia tua, kondisi masjid tetap terlihat bersih dan terawat. Hal ini tidak lepas dari peran aktif masyarakat yang secara rutin melakukan perawatan.
Gotong Royong sebagai Penopang
Semangat gotong royong menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan masjid ini. Warga bergotong royong membersihkan, memperbaiki, hingga memastikan fasilitas tetap layak digunakan.
Dukungan dari pemerintah setempat juga turut memperkuat upaya pelestarian ini. Namun, kekuatan utama tetap berasal dari kesadaran kolektif masyarakat bahwa masjid adalah bagian dari identitas mereka.
Bagi warga Dusun Tondo, menjaga masjid berarti menjaga warisan leluhur.
Ruang Sosial dan Budaya
Masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang sosial. Berbagai kegiatan kemasyarakatan berlangsung di sini—mulai dari musyawarah, pendidikan keagamaan, hingga kegiatan sosial lainnya.
Di tengah perubahan zaman, masjid tetap menjadi tempat di mana nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dipupuk.
Keberadaan masjid ini juga mencerminkan karakter masyarakat Mandar yang religius, sederhana, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan.
Menjaga Warisan di Tengah Modernisasi
Di saat banyak bangunan tua tergeser oleh modernisasi, masjid di Dusun Tondo justru tetap bertahan. Ia tidak hanya dipertahankan sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai simbol nilai yang tidak lekang oleh waktu.
Masyarakat berharap, masjid ini akan terus berdiri dan menjadi warisan bagi generasi mendatang. Lebih dari itu, masjid ini memiliki potensi sebagai situs sejarah religi yang dapat dikenal lebih luas.
Dengan pengelolaan yang bijak, keberadaan masjid ini dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak masa lalu.
Simbol Iman dan Persatuan
Bagi masyarakat Kabupaten Polewali Mandar, masjid tua di Dusun Tondo adalah simbol yang hidup—tentang iman yang terjaga, kebersamaan yang kuat, dan tradisi yang terus diwariskan.
Di tempat sederhana ini, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi dijalani setiap hari.Masjid itu berdiri bukan hanya sebagai bangunan, melainkan sebagai cerita yang terus hidup—tentang manusia, iman, dan harapan yang tak pernah pudar.











