Polewali Mandar-BreakingNewspost.id — Desa Pallis di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menghadirkan potret khas wilayah pegunungan yang tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat yang bertumpu pada sektor pertanian.
Di tengah lanskap perbukitan Balanipa, desa ini memiliki situs makam kuno yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai tempat peristirahatan salah satu tokoh penerima awal ajaran Islam pada abad ke-16, yakni Mara’dia Sara atau Kalibani I. Keberadaan makam tersebut hingga kini masih dijaga dan dihormati sebagai bagian dari warisan budaya dan spiritual masyarakat.
Sejumlah tokoh masyarakat menyebut, situs tersebut memiliki makna historis yang kuat dalam konteks penyebaran Islam di wilayah Mandar. Namun demikian, hingga kini belum terdapat kajian akademik yang komprehensif untuk memastikan secara ilmiah identitas tokoh maupun periodisasi sejarahnya.
“Secara turun-temurun diyakini sebagai tokoh awal penerima Islam di sini, tetapi memang perlu penelitian lebih lanjut agar datanya semakin kuat,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Di sisi lain, kehidupan sosial ekonomi warga Desa Pallis saat ini masih didominasi sektor pertanian. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani kakao dan cabai rawit, yang menjadi komoditas utama penggerak ekonomi lokal.
Selain itu, sebagian warga juga mengolah nira menjadi gula aren secara tradisional. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan tambahan, tetapi juga mencerminkan keberlanjutan kearifan lokal yang masih terjaga. Di sektor peternakan, kambing menjadi pilihan usaha sampingan untuk menopang kebutuhan rumah tangga, terutama saat hasil panen tidak menentu.
Kondisi geografis desa yang berada di wilayah pegunungan menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan akses, fluktuasi harga komoditas pertanian, hingga ketergantungan terhadap faktor cuaca yang memengaruhi produktivitas.
Meski demikian, masyarakat Desa Pallis dikenal memiliki kohesi sosial yang kuat. Nilai gotong royong dan sikap ramah masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi modal sosial dalam menghadapi berbagai keterbatasan.
Di tengah potensi yang dimiliki, sejumlah kalangan menilai Desa Pallis belum sepenuhnya mengoptimalkan kekayaan sejarah dan budayanya. Keberadaan situs makam kuno dinilai berpeluang dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan edukasi, apabila didukung dengan pengelolaan yang terencana serta perhatian dari pemerintah daerah.
“Potensi ini sebenarnya besar. Jika dikelola dengan baik, tidak hanya menjaga sejarah, tetapi juga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar seorang pemerhati lokal.
Desa Pallis pada akhirnya menjadi cerminan perpaduan antara warisan sejarah dan ketahanan hidup masyarakat pedesaan. Di satu sisi menyimpan jejak penting masa lalu, sementara di sisi lain terus beradaptasi menghadapi tantangan pembangunan dan perubahan zaman.@Red















