Luwu–Breakingnewspost.id — Suasana Pasar Tradisional Desa Bakti, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, pada Sabtu (2/5/2026) tampak berbeda dari biasanya. Area yang lazim menjadi pusat aktivitas jual beli itu bertransformasi menjadi ruang dialog terbuka dalam forum tudang sipulung, mempertemukan petani dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Forum yang sarat nilai budaya lokal ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga dimanfaatkan untuk merumuskan langkah strategis menghadapi musim tanam serta potensi kekeringan yang diperkirakan melanda dalam beberapa bulan ke depan.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pejabat dan unsur terkait, di antaranya Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Luwu Ruslan, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Andi Hidayat, Kapolsek Ponrang Edi Syamsuri, Babinsa Sertu Muh. Darwis, serta Camat Ponrang Selatan Muhammad Kasim. Kehadiran lintas sektor ini mencerminkan upaya kolaboratif dalam menjawab tantangan pertanian di tingkat lokal.
Dalam forum itu, perhatian utama tertuju pada percepatan musim tanam yang harus berjalan seiring dengan kesiapan sumber daya air. Koordinator penyuluh setempat, Hasri, menjelaskan bahwa distribusi air irigasi telah mulai dioptimalkan sejak pertengahan April melalui pengaturan pintu air oleh pihak pengairan.
“Petani didorong menerapkan sistem pengairan bergantian atau basah-kering untuk menjaga efisiensi penggunaan air,” ujarnya.
Selain pengelolaan air, penggunaan pupuk juga menjadi perhatian. Petani diimbau menerapkan pemupukan secara berimbang agar produktivitas tetap terjaga di tengah keterbatasan kondisi cuaca.
Dari sisi teknis budidaya, Dinas Pertanian menekankan pentingnya kedisiplinan dalam mengikuti jadwal tanam yang telah disepakati bersama. Pola tanam serentak dinilai krusial untuk menekan risiko serangan hama, khususnya tikus, yang cenderung meningkat ketika waktu tanam tidak seragam.
Sementara itu, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Yusri, mengingatkan bahwa berdasarkan prakiraan cuaca, musim kemarau diprediksi mulai terasa pada Juli dan mencapai puncaknya sekitar September 2026. Kondisi ini berpotensi memengaruhi ketersediaan air di sejumlah wilayah pertanian.
Ia mengimbau petani untuk mulai melakukan langkah antisipasi, antara lain dengan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap tekanan iklim serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan hama dan penyakit tanaman sejak dini.
“Kolaborasi antara petani, penyuluh, dan pemerintah menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini,” katanya.
Selain aspek produksi, forum tersebut juga menyoroti persoalan tata niaga hasil pertanian. Kepala Dinas Perdagangan Luwu, Ruslan, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menciptakan sistem perdagangan yang lebih transparan dan berkeadilan bagi petani.
Ia menyoroti praktik penggunaan timbangan gantung yang dinilai kurang akurat dalam transaksi di pasar. Pemerintah, menurutnya, akan mendorong penggunaan timbangan duduk guna menjamin keakuratan dan keadilan dalam penentuan berat hasil panen.
Keluhan petani terkait adanya potongan berat oleh tengkulak juga menjadi perhatian. Ruslan menegaskan bahwa praktik tersebut harus ditertibkan agar tidak merugikan petani sebagai produsen utama.
Selain itu, pemerintah daerah juga berencana melakukan pembenahan fasilitas pasar, termasuk penyediaan sarana dasar seperti toilet dan akses air bersih, guna meningkatkan kenyamanan bagi pedagang dan masyarakat.
Melalui forum tudang sipulung ini, nilai-nilai kearifan lokal kembali menunjukkan relevansinya dalam menjawab persoalan modern. Tidak hanya menjadi ruang diskusi teknis, tetapi juga wahana memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung ketahanan pangan dan membangun sistem ekonomi yang lebih berpihak kepada petani.
Reporter:Asrul















