Kefamenanu-BreakingNewspost.id — 20 April 2026, Upaya penghijauan dan pemulihan lahan kritis di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terus digencarkan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) TTU turun langsung ke lapangan untuk memastikan program berjalan efektif sekaligus memberikan apresiasi kepada kelompok masyarakat yang dinilai berhasil menjalankannya.
Hal itu terlihat dalam kunjungan kerja Kepala DLH TTU, Januarius T. Salem, ST., M.Ap., ke Kelompok Wanita Tani (KWT) Ansaof Mese di Kelurahan Kefamenanu Utara, Senin (20/4/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari evaluasi sekaligus penguatan program Pemeliharaan dan Pemulihan Lahan Kritis (PLK) Tahun 2025–2026.
Di lokasi kegiatan, suasana kebersamaan tampak jelas. Para anggota KWT yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga terlihat aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, hingga menunjukkan hasil kerja mereka dalam program penghijauan. Tidak sekadar seremoni, pertemuan ini menjadi ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat.
Kepala DLH TTU, yang akrab disapa Yan Salem, menegaskan bahwa kehadiran pihaknya merupakan bentuk dukungan nyata terhadap kerja keras kelompok tani.
“Kami hadir untuk memastikan program pemeliharaan dan pemulihan lahan kritis berjalan baik. Tahun 2025, KWT sudah bekerja maksimal, mulai dari pembibitan mahoni, jambu mente, hingga bambu, dan hasilnya sudah terlihat,” ungkapnya.
Menurut dia, capaian tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk melanjutkan program pada tahun 2026. Ia pun mendorong agar semangat anggota KWT tetap terjaga, mengingat penghijauan bukan hanya program pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama masyarakat.
Keberhasilan KWT Ansaof Mese tidak lepas dari kerja kolektif yang konsisten. Salah satu bukti nyata adalah penanaman 425 anakan pohon di kawasan Bukit Kensulat, dengan tingkat keberhasilan hidup mencapai sekitar 90 persen. Angka ini menunjukkan bahwa program tidak hanya berjalan, tetapi juga dirawat dengan baik.
Sebanyak 20 anggota KWT terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. Mereka secara rutin melakukan pemeliharaan, mulai dari penyiraman hingga perlindungan tanaman dari gangguan lingkungan.
Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH TTU, Kristiana M.R.A. Aty Berchmans, S.Si., M.M., dalam kesempatan yang sama memaparkan rencana lanjutan program di tahun 2026. Salah satu fokus utama adalah pembuatan biopori sebagai solusi untuk meningkatkan daya resap air tanah dan menjaga kesuburan lingkungan.
“Biopori dibuat pada tanah gembur di area datar atau rawan genangan, dengan diameter sekitar 10 hingga 30 sentimeter dan kedalaman hingga satu meter. Lubang ini berfungsi menampung air hujan sekaligus menghasilkan kompos alami,” jelasnya.
Selain aspek teknis lingkungan, perhatian juga diberikan pada faktor keamanan dan ketertiban. Bhabinkamtibmas Kelurahan Kefamenanu Utara, M. Virmon, S.H., menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan aparat dalam menjaga kawasan penghijauan, termasuk pengendalian ternak yang berpotensi merusak tanaman.
Ia mendorong adanya kesepakatan bersama antara pihak kelurahan, RW, dan RT agar program penghijauan dapat berjalan optimal tanpa gangguan.
Dukungan juga datang dari unsur masyarakat. Brigita Abi, yang menjabat sebagai Kabiro TTU sekaligus Ketua RT 12, mengaku terlibat langsung dalam kegiatan penghijauan bersama anggota KWT.
“Saya tidak hanya mendukung secara lisan, tetapi juga ikut turun langsung ke lokasi. Apa yang dilakukan KWT ini sangat positif dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Lurah Kefamenanu Utara Yohanes Bana, S.Sos., bersama para Ketua RT dan RW yang hadir, turut menyatakan komitmen untuk mendukung keberlanjutan program tersebut.
Di akhir kegiatan, Kepala DLH TTU menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Ia berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat terus diperkuat, sehingga upaya pemulihan lahan kritis dan penghijauan di wilayah TTU dapat berjalan berkelanjutan.
Program ini dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim. Keterlibatan aktif masyarakat, khususnya kelompok perempuan melalui KWT, menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di tingkat lokal.
Reporter: Bergita Maria Abi















