Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pemerintah

Gubernur NTT Dorong Sinergi Kampus, Pemerintah, dan Industri untuk Percepat Pembangunan Berbasis Riset

4
×

Gubernur NTT Dorong Sinergi Kampus, Pemerintah, dan Industri untuk Percepat Pembangunan Berbasis Riset

Sebarkan artikel ini

Kupang-BreakingNewspost.id — Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong penguatan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan dunia industri sebagai langkah strategis untuk mempercepat pembangunan berbasis riset di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini disampaikannya saat menghadiri Rapat Kerja Terpadu Pimpinan Perguruan Tinggi di Kupang, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Harper Kupang tersebut mengangkat tema penguatan kolaborasi lintas sektor guna mendorong akselerasi pembangunan daerah. Forum ini dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Arif Satria, pejabat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta pimpinan perguruan tinggi di bawah koordinasi LLDIKTI Wilayah XV.

Dalam sambutannya, Melki menegaskan bahwa NTT memiliki potensi besar di berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif. Namun, menurut dia, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung oleh ekosistem riset dan inovasi yang terintegrasi.

“Kita memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi tantangannya adalah bagaimana mengelola potensi itu dengan pendekatan ilmiah berbasis data dan riset. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi sangat penting,” ujar Melki.

Ia menekankan perlunya konektivitas yang lebih kuat antara dunia akademik dengan kebutuhan riil pembangunan daerah. Perguruan tinggi, kata dia, tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga harus berperan sebagai penghasil inovasi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Selain itu, Melki juga mendorong para akademisi dan peneliti di NTT untuk memanfaatkan berbagai skema pendanaan riset yang disediakan pemerintah pusat. Menurutnya, peningkatan jumlah riset akan berbanding lurus dengan lahirnya inovasi yang relevan bagi pengembangan daerah.

Di sisi lain, Arif Satria menekankan bahwa masa depan pembangunan nasional sangat ditentukan oleh kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi. Ia menyebut, ketergantungan pada sumber daya alam tidak lagi cukup untuk mendorong daya saing bangsa.

“Kekuatan negara ke depan ditentukan oleh inovasi dan teknologi. Indonesia memang menunjukkan tren positif, tetapi masih perlu bekerja lebih keras untuk bersaing di tingkat global,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data permohonan paten dunia tahun 2024, posisi Indonesia berada di peringkat ke-34. Capaian tersebut dinilai sebagai perkembangan yang positif, meskipun masih tertinggal dibandingkan negara maju.

Dalam forum tersebut, Arif juga menyoroti pentingnya diferensiasi peran perguruan tinggi. Ia menyebut, setiap kampus perlu menentukan orientasi yang jelas, apakah sebagai teaching university, research university, atau entrepreneurial university, agar kontribusinya lebih terarah.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka, memaparkan kondisi perguruan tinggi di NTT. Saat ini terdapat 57 perguruan tinggi swasta dengan jumlah mahasiswa mencapai lebih dari 79 ribu orang dan didukung oleh lebih dari 3.000 dosen aktif.

Dari sisi kualifikasi akademik, sebagian besar dosen telah bergelar magister, sementara sekitar 10 persen telah menyandang gelar doktor. Adapun dari sisi akreditasi, sebagian perguruan tinggi telah meraih predikat Baik Sekali, meskipun mayoritas masih berada pada kategori Baik.

Data tersebut menunjukkan adanya perkembangan, tetapi juga mengindikasikan ruang perbaikan yang masih terbuka, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan kapasitas riset.

Melalui forum ini, Pemerintah Provinsi NTT berharap terbangun kolaborasi yang lebih solid antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga riset. Sinergi ini dinilai penting untuk memastikan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi motor penggerak inovasi dan pembangunan daerah secara berkelanjutan.

Di tengah tantangan pembangunan yang kompleks, pendekatan berbasis riset menjadi salah satu kunci. Tanpa dukungan ekosistem inovasi yang kuat, potensi daerah berisiko tidak berkembang optimal. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Liputan:Bergitha abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *