SIKKA-BreakingNewspost.id — Suasana ceria dan penuh semangat menyelimuti area lahan praktik SMP PGRI 1 Egon pada Rabu (20/5/2026) sore. Puluhan siswa tampak bahu-membahu memanen ubi ungu yang tumbuh subur di kapling tanah milik kelas mereka masing-masing. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari program kokurikuler berkebun yang diinisiasi pihak sekolah sebagai sarana pembelajaran berbasis praktik dan penguatan karakter siswa.
Kepala sekolah, Irene Sidok, menjelaskan bahwa program berkebun sengaja dirancang dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar sekolah. Mayoritas orang tua siswa yang bekerja sebagai petani turut dilibatkan sebagai sumber belajar bagi anak-anak dalam memahami dunia pertanian secara langsung.
Selain menjadi media pembelajaran, program tersebut juga dimanfaatkan untuk menghidupkan lahan tidur agar lebih produktif dan bernilai ekonomi.
“Fokus pengembangan kokurikuler berkebun ini bukan hanya pada hasil akhir atau banyaknya panen, tetapi bagaimana siswa diberi kesempatan untuk berproses. Banyak dampak positif yang lahir dari kegiatan ini, mulai dari membantu kebutuhan finansial kelas hingga menumbuhkan nilai-nilai kehidupan,” ujar Irene Sidok.
Menumbuhkan Karakter dari Lahan Kebun
Dalam pelaksanaannya, setiap kelas diberikan sebidang kapling tanah yang dikelola secara mandiri dengan pendampingan wali kelas sebagai fasilitator. Para siswa diberi kebebasan menentukan jenis tanaman yang ingin dibudidayakan, mulai dari kangkung, pare, jagung, singkong, pepaya, hingga ubi ungu.
Salah satu fasilitator kelas VIII C, Adolfus Aquirino, mengaku bangga melihat semangat dan antusiasme para siswa saat mengelola kebun sekolah.
Menurutnya, kebun sekolah kini telah berubah menjadi ruang belajar nyata yang mampu membentuk karakter positif siswa.
“Kegiatan berkebun ini memberi dampak luar biasa. Hasil penjualan panen bisa membantu kebutuhan kelas. Lebih dari itu, siswa belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, berpikir kritis, saling menghargai, hingga sikap pantang menyerah,” ungkap Adolfus.
Bangkit dari Kegagalan Panen
Kesuksesan panen ubi ungu kali ini ternyata tidak diraih secara instan. Sebelumnya, para siswa sempat mengalami kegagalan saat masa tanam pertama.
Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang siswi, Voni Sareng. Ia menceritakan bahwa pada penanaman awal, tanaman ubi hanya menghasilkan daun yang rimbun tanpa umbi karena kesalahan teknik penanaman.
“Saya bahagia sekali bisa panen ubi ungu ini. Waktu awal tanam, hanya daunnya saja yang banyak karena kami salah cara menanam,” ujar Voni.
Namun kegagalan itu tidak membuat mereka menyerah. Rasa penasaran melihat hasil panen kelas lain yang berhasil justru memotivasi mereka untuk belajar dan memperbaiki metode bercocok tanam.
Para siswa mulai berdiskusi dengan kelompok lain yang sukses panen, kemudian melibatkan orang tua di rumah untuk mempelajari teknik pertanian tradisional.
Dari proses belajar tersebut, mereka memahami bahwa ubi ungu membutuhkan kondisi tanah yang gembur agar umbi dapat berkembang dengan baik. Pada penanaman berikutnya, mereka membuat gundukan tanah dan menjaga area tanam agar tidak terinjak.
“Dan akhirnya berhasil,” kata Voni sambil tersenyum lebar.
Program kokurikuler berkebun ini rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu untuk pengolahan lahan berskala besar. Sementara untuk penyiraman dan perawatan tanaman dilakukan secara bergilir oleh siswa setiap sore.
Melalui kegiatan tersebut, SMP PGRI 1 Egon membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya tumbuh di dalam ruang kelas, tetapi juga dapat lahir dari proses belajar sederhana di kebun sekolah yang mereka rawat bersama.
Yuvenfernandez















