KEFAMENANU-BreakingNewspost.id – Perayaan Hari Raya Tritunggal Mahakudus di Stasi Sekon, Paroki Santo Fransiskus Asisi Mamsena, Minggu (31/5/2026), berlangsung khidmat dan penuh makna. Dalam misa kudus yang dipimpin oleh Pater Vinsentius Wun, SVD, umat diajak semakin mendalami misteri Allah Tritunggal melalui kehidupan yang berlandaskan kasih, pengampunan, dan damai sejahtera.
Di hadapan umat yang memadati gereja, Pater Vinsen menegaskan bahwa kasih merupakan fondasi utama kehidupan manusia, terutama dalam keluarga.
Menurutnya, kasih menjadi kekuatan yang menjaga kesetiaan dalam relasi suami dan istri serta menjadi dasar kehidupan yang dikehendaki Allah bagi umat-Nya.
“Landasan hidup dalam keluarga adalah kasih. Kasih yang menuntun orang untuk tetap setia dalam hidup. Karena kasih pula Allah datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia,” ujar Pater Vinsen dalam homilinya.
Dari Musa hingga Yesus, Kisah Kasih Allah kepada Manusia
Dalam renungannya, Pater Vinsen mengajak umat melihat perjalanan karya keselamatan Allah yang telah dinyatakan sejak zaman Perjanjian Lama.
Ia menyinggung kisah Nabi Musa, sosok yang dikenal rendah hati dan dipilih Allah untuk membimbing bangsa Israel. Musa menerima dua loh batu yang berisi hukum Tuhan sebagai pedoman hidup manusia sekaligus menjadi tanda hubungan antara Allah dan umat-Nya.
“Musa berseru bahwa Tuhan adalah Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar serta berlimpah kasih setia. Karena itu Musa sujud dan menyembah Allah,” tuturnya.
Menurut Pater Vinsen, Allah yang dahulu tidak kelihatan kemudian menyatakan diri secara nyata melalui Yesus Kristus yang lahir ke dunia melalui Bunda Maria. Kehadiran Yesus menjadi bukti nyata kasih Allah kepada manusia.
Tidak berhenti sampai di situ, Yesus juga mengutus Roh Kudus untuk terus menyertai dan membimbing umat manusia dalam perjalanan hidupnya.
“Dalam iman Kristiani, Allah yang esa hadir dalam tiga pribadi, yaitu Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Ketiganya adalah satu dalam kasih yang sempurna bagi manusia,” katanya.
Kasih yang Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari
Pater Vinsen menegaskan bahwa misteri Tritunggal Mahakudus tidak hanya dipahami sebagai ajaran iman, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Menurut dia, tanda salib yang dibuat umat setiap hari merupakan simbol iman kepada Allah Tritunggal sekaligus pengingat untuk hidup dalam kasih.
Kasih, lanjutnya, tampak ketika seseorang mampu mendoakan orang yang menyakitinya, mengampuni kesalahan sesama, dan memilih membalas keburukan dengan kebaikan.
Ia mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam sikap dendam maupun tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani.
“Jika ada orang yang berbuat tidak baik kepada kita, jangan membalas dengan kecurangan atau tindakan yang sama. Doakan mereka. Kasih yang sejati justru terlihat ketika kita mampu membalas kejahatan dengan kebaikan,” ujarnya.
Rosario dan Kehidupan Damai
Dalam kesempatan itu, Pater Vinsen juga mengajak umat untuk terus membangun kehidupan doa, khususnya melalui doa Rosario.
Menurutnya, doa yang dilakukan dengan penuh iman akan memperkuat hubungan manusia dengan Allah dan menumbuhkan kepercayaan yang semakin mendalam kepada-Nya.
Ia mengutip pesan Rasul Paulus agar umat hidup dalam persatuan, sehati sepikir, dan saling memberi salam dalam kasih.
“Bersukacitalah, usahakan dirimu supaya sehati sepikir dan hiduplah dalam damai sejahtera. Maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu,” katanya.
Menghadirkan Allah Lewat Kasih dan Pengampunan
Pada bagian akhir homilinya, Pater Vinsen mengajak umat mensyukuri kasih Allah Bapa yang begitu besar sehingga mengaruniakan Putra-Nya demi keselamatan dunia.
Ia mengingatkan bahwa kehadiran Allah Tritunggal Mahakudus dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari ketika manusia saling mengampuni, berbagi kasih, dan menjadi pembawa damai bagi sesama.
“Marilah di Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini kita semakin mengimani peran Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang senantiasa membimbing serta menyertai hidup kita. Kehadiran Allah Tritunggal nyata ketika kita saling mengampuni, berbagi kasih satu sama lain, dan ketika kehadiran kita membawa damai sejahtera,” ungkapnya.
Ia berharap sabda Tuhan terus bergema dalam hati setiap umat sehingga mampu menjadi saksi kasih Kristus di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
“Semoga dengan iman yang benar kita mengakui kemuliaan Tritunggal yang kekal dan menyembah keesaan-Nya dalam keagungan kuasa-Nya. Semoga pula sabda Tuhan selalu hidup dalam hati kita sehingga mampu mewartakan cinta kasih Tuhan bagi dunia,” pesan Pater Vinsen menutup homilinya.
Perayaan Hari Raya Tritunggal Mahakudus di Stasi Sekon menjadi momentum bagi umat untuk kembali merefleksikan makna kasih sebagai inti kehidupan Kristiani. Di tengah berbagai tantangan kehidupan, kasih tetap menjadi jalan yang mempersatukan, menguatkan, dan menghadirkan damai bagi sesama.
Bergitha abi















