Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Desa Usapi Tmam Apa Masih Gelap, Warga Sambut DPRD NTT dengan Satu Harapan: Listrik Masuk Kampung  

6
×

Desa Usapi Tmam Apa Masih Gelap, Warga Sambut DPRD NTT dengan Satu Harapan: Listrik Masuk Kampung  

Sebarkan artikel ini

SOE,BreakingNewsPost.id – Antusiasme tinggi mewarnai kunjungan kerja Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Reny Marlina Un, ke Desa Persiapan Usapi Tmam Apa, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Di balik hangatnya penyambutan adat yang mendalam, tersimpan satu harapan besar yang selama ini menjadi beban pikiran masyarakat: kehadiran penerangan listrik.

Desa yang terletak di wilayah yang cukup terpencil ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang hingga saat ini belum menikmati aliran listrik dari jaringan utama. Kondisi keterbatasan energi ini, menurut warga, telah berlangsung bertahun-tahun dan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari proses belajar mengajar anak-anak, aktivitas ekonomi, hingga pelayanan dasar masyarakat.

Acara penyambutan diawali dengan sambutan dari Pejabat Kepala Desa Usapi Tmam Apa, Maksi R. Angket, yang juga bertindak sebagai pembawa acara. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam karena wakil rakyat bersedia meluangkan waktu datang langsung menembus wilayah yang akses jalannya dinilai masih cukup sulit dan memprihatinkan.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Reny Marlina Un dan rombongan. Meskipun jalan menuju desa kami masih jauh dari memadai, Ibu tetap hadir untuk mendengar langsung aspirasi kami. Ini bentuk perhatian yang sangat kami hargai,” ujar Maksi.

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, masyarakat menyambut kedatangan rombongan dengan prosesi adat Natoni. Ucapan selamat disampaikan dalam bahasa daerah setempat, sementara para tetua mengalungkan selendang khas kepada Reny Marlina Un dan seluruh anggota rombongan sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan.

Dalam sesi dialog yang berlangsung akrab namun penuh haru, masyarakat menyampaikan bahwa mereka tidak meminta hal-hal yang berlebihan. Aspirasi utama yang didengungkan sangat sederhana namun sangat mendasar: kehadiran jaringan listrik PLN agar desa mereka tidak lagi dijuluki sebagai “desa gelap”.

Kami merasa belum sepenuhnya merasakan nikmatnya pembangunan. Selama ini kami masih mengandalkan sumber energi terbatas yang belum bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, kami berharap pemerintah dan DPRD bisa memperjuangkan agar listrik segera masuk ke kampung kami,” ujar salah seorang warga yang mewakili aspirasi masyarakat.

Menanggapi harapan tersebut, Reny Marlina Un memberikan respons positif. Ia meminta pemerintah desa segera menyiapkan dokumen dan proposal resmi yang nantinya akan diajukan dan dikawal bersama Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, serta manajemen PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur.

Reny mengakui bahwa terdapat tantangan teknis yang cukup berat dalam upaya elektrifikasi desa ini. Salah satu kendala utama adalah adanya kawasan hutan produksi yang membentang sekira enam kilometer yang harus dilalui sebelum kabel jaringan dapat mencapai permukiman warga.

Menyadari kondisi geografis dan regulasi yang berlaku, memang tidak mudah. Namun, saya optimis jika semua pihak bersinergi, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, desa, hingga PLN, jalan keluar pasti bisa ditemukan,” kata Reny.

Saya percaya dengan kerja sama dan komunikasi yang baik, masyarakat Desa Usapi Tmam Apa tidak akan lama lagi bisa menikmati cahaya listrik seperti desa-desa lainnya,” tegasnya.

Sementara itu, Tokoh Masyarakat setempat, Lot Nitsa’e, menambahkan bahwa desa mereka sebenarnya menyimpan potensi sumber daya alam yang cukup besar. Sayangnya, keterbatasan infrastruktur, terutama listrik dan jalan, menjadi penghambat utama sehingga potensi tersebut belum bisa digali dan dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan warga.

Lot juga menyampaikan harapan lain terkait kepastian hukum bagi salah satu usaha masyarakat, agar dapat berkembang lebih baik dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Pertemuan ini menjadi catatan penting bahwa pembangunan infrastruktur dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar di sejumlah wilayah pedalaman NTT. Warga berharap aspirasi yang telah disampaikan tidak hanya berhenti sebagai catatan kunjungan, melainkan segera ditindaklanjuti menjadi realitas.

Pewarta: Maklon Angket

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *