Flores Timur | BreakingNewsPost.id — Di ruang-ruang kelas yang beberapa waktu lalu dibayangi rasa takut akibat konflik sosial, tawa anak-anak perlahan kembali terdengar. Senin (27/7/2026), suasana berbeda menyelimuti SDK St. Theresia Bele, Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur. Sejumlah personel Polri hadir bukan membawa perlengkapan pengamanan, melainkan permainan edukatif, motivasi, dan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang terdampak konflik.
Kegiatan Trauma Healing dan Ultimate the Source Body, Mind, Soul Emotional Freedom Technique (USEFT) atau Ultimate SBMS Emotional Freedom Technique yang digelar Polres Flores Timur menjadi bagian dari upaya pemulihan psikososial pascakonflik antara warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dan Dusun Lewonara, Desa Narasaosina.
Program yang dimulai sekitar pukul 09.00 WITA tersebut dipimpin langsung oleh Wakapolres Flores Timur, Kompol I Ketut Mastina, S.Sos., sebagai bentuk pendekatan humanis Polri untuk membantu memulihkan kondisi mental anak-anak yang terdampak konflik.
Turut hadir Kepala Sekolah SDK St. Theresia Bele, Suster Martina Lasar, S.Pd., lima personel Polwan Polres Flores Timur, para guru dan tenaga pendidik, serta sekitar 100 siswa-siswi kelas I hingga kelas VI.
Trauma Pascakonflik Tak Selalu Tampak
Konflik sosial tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat memunculkan dampak psikologis, terutama bagi anak-anak. Rasa takut, kecemasan, sulit berkonsentrasi, hingga menurunnya semangat belajar menjadi kondisi yang kerap muncul setelah mereka menyaksikan atau merasakan situasi yang menegangkan di lingkungan tempat tinggalnya.
Melalui kegiatan ini, Polres Flores Timur berupaya membantu anak-anak kembali merasakan lingkungan yang aman dan nyaman sehingga proses belajar dapat berlangsung secara normal.
Rangkaian kegiatan diawali dengan permainan edukatif, bernyanyi bersama, dan berbagai aktivitas kelompok yang dirancang untuk mencairkan suasana sekaligus membangun kedekatan emosional antara personel Polri dan para siswa.
Suasana yang semula canggung perlahan berubah menjadi penuh keceriaan. Anak-anak tampak mulai aktif mengikuti permainan, berinteraksi dengan teman-temannya, dan menunjukkan ekspresi yang lebih rileks.
Pendekatan Humanis Melalui Trauma Healing dan USEFT
Selain permainan edukatif, para peserta juga mengikuti sesi trauma healing yang berisi motivasi, penguatan mental, edukasi tentang pentingnya hidup rukun, toleransi, persaudaraan, serta semangat menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Dalam sesi berikutnya, personel Polres Flores Timur memperkenalkan terapi USEFT (Ultimate the Source Body, Mind, Soul Emotional Freedom Technique), yaitu metode relaksasi yang memadukan teknik tapping, pengenalan emosi, afirmasi positif, dan latihan pengendalian diri.
Kegiatan tersebut bertujuan membantu anak-anak mengurangi tekanan emosional, membangun kembali rasa percaya diri, serta mendorong mereka agar kembali bersemangat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Dukungan Nyata bagi Dunia Pendidikan
Sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak terdampak konflik, Polres Flores Timur juga menyerahkan bantuan berupa tas sekolah, buku tulis, alat tulis, dan kotak pensil.
Bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi tambahan kepada para siswa agar tetap bersemangat melanjutkan pendidikan meskipun sempat mengalami situasi yang tidak mudah.
Berdasarkan hasil pemantauan selama kegiatan berlangsung, anak-anak mengikuti seluruh rangkaian acara dengan antusias. Mereka terlihat lebih ceria, mulai berani berinteraksi dengan personel Polri maupun teman-temannya, sementara rasa cemas yang sebelumnya tampak mulai berangsur berkurang.
Pemulihan Tidak Hanya Soal Keamanan
Kapolda Nusa Tenggara Timur Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., melalui Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pemulihan pascakonflik tidak dapat hanya diukur dari terciptanya situasi keamanan.
Menurutnya, aspek psikologis masyarakat, terutama anak-anak, merupakan bagian penting yang harus dipulihkan agar kehidupan sosial dapat kembali berjalan normal.
«”Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami dampak psikologis akibat konflik. Karena itu, Polri hadir bukan hanya untuk menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan pendampingan agar dapat kembali merasa aman, ceria, dan semangat menjalani proses belajar,” ujar Kombes Pol Henry Novika Chandra.»
Ia menjelaskan bahwa trauma healing dan terapi USEFT merupakan bagian dari strategi pendekatan humanis Polri untuk mempercepat proses pemulihan sosial di tengah masyarakat.
«”Melalui pendekatan yang humanis dan penuh empati, kami berharap trauma yang dialami anak-anak dapat berangsur pulih sehingga mereka dapat kembali beraktivitas secara normal. Ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polri sekaligus mendukung terciptanya rekonsiliasi yang berkelanjutan,” jelasnya.»
Mengajak Masyarakat Menjaga Perdamaian
Kabid Humas Polda NTT juga mengingatkan bahwa proses pemulihan pascakonflik membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, menjaga perdamaian menjadi tanggung jawab bersama agar konflik serupa tidak kembali terjadi.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi maupun berbagai bentuk provokasi yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan.
«”Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga perdamaian yang telah terbangun. Jangan mudah terpengaruh isu maupun provokasi yang dapat memicu konflik baru. Polri akan terus hadir melalui langkah-langkah preventif, preemtif, dan humanis guna memastikan proses pemulihan berjalan optimal serta terciptanya situasi kamtibmas yang aman, damai, dan kondusif di Kabupaten Flores Timur,” tutup Kombes Pol Henry Novika Chandra.»
Seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 12.00 WITA dalam suasana aman, tertib, dan kondusif. Pendampingan psikologis tersebut menjadi salah satu langkah yang ditempuh Polri untuk membantu anak-anak kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan rasa aman, sekaligus mendukung proses rekonsiliasi sosial di wilayah Adonara Timur pascakonflik.
Reporter: Bergita Abi















