Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pertanian

Mentan Amran Batalkan Rapat Penting di Jakarta, Pilih Turun ke Alor untuk Tekan Kemiskinan

74
×

Mentan Amran Batalkan Rapat Penting di Jakarta, Pilih Turun ke Alor untuk Tekan Kemiskinan

Sebarkan artikel ini

ALOR | BreakingNewspost.id — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta dan memilih terbang langsung ke Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (8/8/2026).

Keputusan itu diambil setelah Amran mendengar aspirasi mahasiswa asal Alor, Adriano Padama, dalam kuliah umum di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Kamis (6/8/2026).

Adriano menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat Alor, mulai dari harga dan distribusi beras hingga kebutuhan dukungan pemerintah untuk memperkuat sektor pertanian. Aspirasi tersebut kemudian ditindaklanjuti Amran dengan kunjungan langsung ke daerah.

Bagi Amran, persoalan masyarakat di daerah tidak cukup hanya dibicarakan dari pusat. Pemerintah, menurut dia, perlu melihat langsung kondisi lapangan agar kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Insyaallah kami langsung turun. Kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta dan langsung terbang ke Alor. Kami sudah lihat, semua permintaan kami penuhi di bawah naungan Kementerian Pertanian,” kata Amran.

Dari Aspirasi Mahasiswa ke Kebijakan di Lapangan

Amran menilai keberanian mahasiswa menyampaikan persoalan masyarakat kepada pemerintah merupakan bagian penting dari kontrol sosial.

Menurut dia, aspirasi yang disampaikan Adriano tidak berangkat dari kepentingan pribadi, melainkan membawa persoalan masyarakat Alor.

“Dia membawa aspirasi rakyat, bukan kepentingan pribadi. Saya bangga dengan Adriano, ini putra terbaik NTT. Aspirasi seperti ini harus kita kawal karena mereka membaca denyut nadi masyarakat, mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat,” ujar Amran.

Dari titik itulah persoalan Alor kemudian ditempatkan bukan semata sebagai persoalan distribusi pangan, tetapi sebagai tantangan yang berkaitan dengan kemiskinan, produktivitas pertanian, akses terhadap sarana produksi, dan kemampuan masyarakat memperoleh sumber pendapatan berkelanjutan.

Setibanya di Alor, Amran meninjau sejumlah lokasi dan berdialog dengan pemerintah daerah serta masyarakat. Dari peninjauan tersebut, ia menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu instrumen utama untuk menekan kemiskinan di wilayah tersebut.

Beras Jadi Persoalan Jangka Pendek

Amran membagi intervensi pemerintah ke dalam dua horizon: kebutuhan pangan jangka pendek dan penguatan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang.

Untuk jangka pendek, perhatian diarahkan pada ketersediaan dan keterjangkauan harga beras.

Amran mengatakan stok beras untuk Alor telah tersedia di gudang. Namun, keberadaan stok tersebut harus diikuti dengan harga yang terjangkau masyarakat.

“Beras sudah aman, sudah ada di gudang. Harganya harus sama dengan Jakarta, sekitar Rp13 ribu. Jangan sampai ada lagi masyarakat yang membeli beras dengan harga Rp25 ribu atau Rp30 ribu. Kalau dibutuhkan, Bulog lakukan operasi pasar,” katanya.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan pangan tidak berhenti pada ketersediaan stok. Distribusi dan harga di tingkat masyarakat menjadi bagian penting yang harus dipastikan pemerintah.

Karena itu, Amran meminta Bulog menjaga ketersediaan beras dan melakukan operasi pasar apabila diperlukan.

Benih, Alsintan, dan Pompa Disiapkan

Di sektor produksi, Kementerian Pertanian menyiapkan sejumlah dukungan berupa benih padi dan jagung, alat dan mesin pertanian atau alsintan, serta pompa untuk mendukung lahan yang memiliki sumber air.

Dalam kunjungan tersebut, dukungan alsintan dan pompa juga disebut ditambah berdasarkan kebutuhan yang disampaikan pemerintah daerah dan masyarakat.

Langkah itu diarahkan untuk mempercepat peningkatan produktivitas pertanian sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Namun, keberhasilan bantuan pertanian tidak hanya ditentukan oleh jumlah benih, pompa, maupun mesin yang disalurkan. Pendampingan, kesiapan lahan, sumber air, tenaga kerja, akses pasar, hingga kemampuan petani merawat tanaman menjadi faktor yang menentukan apakah intervensi tersebut benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi.

Karena itu, Amran meminta penyuluh pertanian lapangan atau PPL mengawal program tersebut sampai tanaman tumbuh dan berhasil.

“Bibitnya dari pemerintah, biaya tanamnya juga dari pemerintah. Gratis untuk rakyat. PPL harus mengawal sampai tumbuh dan berhasil. Ini kesempatan untuk membangun Alor dan mengubah kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Target 10.000 Hektare untuk Komoditas Jangka Panjang

Jika beras, benih, dan sarana produksi diarahkan untuk menjawab kebutuhan jangka pendek, Amran menyiapkan strategi berbeda untuk jangka panjang.

Ia mendorong pengembangan tanaman perkebunan yang dinilai sesuai dengan kondisi Alor, terutama kelapa, kakao, dan jambu mete.

Menurut Amran, komoditas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tanaman produksi, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dalam jangka panjang.

Pemerintah menargetkan pengembangan tanaman hingga 10.000 hektare.

“Kita targetkan tanaman minimal 10 ribu hektare di Alor. Kalau satu hektare dikelola satu keluarga, berarti ada 10 ribu keluarga yang mendapat sumber penghasilan. Kalau satu keluarga empat orang, sekitar 40 ribu orang bisa merasakan manfaatnya. Karena itu, kita harus kerja sungguh-sungguh agar kemiskinan di Alor bisa ditekan,” kata Amran.

Target tersebut, jika terealisasi sesuai skema yang disampaikan Amran, memiliki konsekuensi besar terhadap pengelolaan lahan, penyediaan bibit, pendampingan petani, pembiayaan, hingga pemasaran hasil produksi.

Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar menanam 10.000 hektare, tetapi memastikan tanaman tersebut tumbuh, menghasilkan, dan memiliki rantai pasar yang mampu memberikan pendapatan layak kepada masyarakat.

Kakao, Mete, dan Kelapa sebagai Investasi Jangka Panjang

Saat meninjau tanaman kakao, Amran mengapresiasi pertumbuhan bibit yang telah dikembangkan di Alor.

Ia menilai kakao, jambu mete, dan kelapa memiliki prospek sebagai sumber penghasilan masyarakat dalam jangka panjang.

“Ini masa depan Alor. Kakao, mete, dan kelapa bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Yang penting sekarang kita tanam dengan bibit unggul dan kita kawal sampai berhasil,” katanya.

Pernyataan itu memperlihatkan perubahan pendekatan dari sekadar mengatasi persoalan pangan menuju pembangunan basis ekonomi masyarakat.

Pertanian diposisikan sebagai jalan keluar yang diharapkan mampu memberikan penghasilan berkelanjutan, terutama bagi keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor agraria.

Tetapi program jangka panjang memiliki ukuran keberhasilan yang berbeda dengan bantuan jangka pendek. Tanaman yang baru ditanam belum otomatis meningkatkan pendapatan rumah tangga. Manfaat ekonominya baru dapat dirasakan apabila tanaman bertahan, produktif, hasilnya terserap pasar, dan petani memperoleh harga yang memadai.

Di titik inilah pengawalan pemerintah menjadi penting.

Pemerintah Dituntut Tidak Berhenti pada Penyaluran Bantuan

Kunjungan Amran ke Alor juga membawa pesan bahwa kebijakan pertanian harus diuji di lapangan.

Bantuan benih, alsintan, pompa, maupun pengembangan komoditas perkebunan pada akhirnya harus diukur berdasarkan dampaknya terhadap produksi dan kesejahteraan masyarakat.

Amran menegaskan pemerintah tidak ingin program berhenti pada tahap perencanaan atau penyaluran bantuan.

“Kita tidak boleh hanya berbicara dari Jakarta. Saya datang ke sini untuk melihat langsung, mendengar langsung, dan langsung memutuskan apa yang harus dikerjakan. Ada program jangka pendek, ada jangka panjang. Dua-duanya kita jalankan,” pungkasnya.

Kunjungan tersebut menempatkan Alor sebagai salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus dalam strategi intervensi pertanian pemerintah.Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *