KEFAMENANU, BreakingNewsPost.id — Sebanyak 73 pria mengikuti Camp Pria Sejati Katolik (Priskat) Angkatan XVII yang digelar Catholic Family Ministry (CFM) Keuskupan Atambua di Biara SVD Noemeto, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Jumat-Minggu (4-6/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang pembinaan dan refleksi bagi para peserta untuk memperkuat iman sekaligus merefleksikan kembali peran mereka sebagai pria, suami, ayah, dan kepala keluarga.
Mengusung tema “We are the Shepherd for His Glory”, Camp Priskat diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Moderator Keuskupan Atambua, Romo Kristo Oki, Pr.
Selama tiga hari, peserta mengikuti 12 materi pembinaan yang disampaikan tim CFM Keuskupan Surabaya. Materi diarahkan pada penguatan kehidupan iman dan keluarga dengan penekanan bahwa keluarga merupakan tempat bertumbuhnya iman dan cinta.
Ketua Panitia Stefanus Nautu mengatakan, 73 peserta berasal dari wilayah Keuskupan Atambua dan Timor-Leste. Peserta dari Timor-Leste berasal dari Keuskupan Suai, Maliana, Dili, dan Lospalos.
Keterlibatan peserta lintas keuskupan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kebersamaan dan memperkuat pembinaan keluarga Katolik di kawasan Timor.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Perayaan Misa Kudus yang dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua, Pater Vinsentius Wun, SVD, Minggu (6/9/2026).
Dalam sambutannya, Pater Vinsentius meminta CFM Keuskupan Atambua meneruskan semangat pembinaan tersebut kepada keluarga-keluarga Katolik, termasuk di wilayah Keuskupan Agung Kupang.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Komisi Keluarga Keuskupan Atambua dan CFM Keuskupan Atambua yang dinilai telah memberikan perhatian terhadap pembinaan keluarga melalui Camp Priskat.
Sementara itu, Romo Kristo Oki menegaskan bahwa Camp Priskat tidak semestinya dipandang hanya sebagai kegiatan selama tiga hari. Menurut dia, camp merupakan proses untuk berhenti sejenak, melihat kembali diri sendiri, serta merefleksikan tanggung jawab sebagai pria dalam keluarga dan sebagai pribadi yang beriman.
“Camp ini bukan sekadar kegiatan. Camp ini adalah sebuah proses,” ujar Romo Kristo.
Ia mengingatkan peserta bahwa persoalan keluarga dan kehidupan tidak serta-merta selesai setelah camp berakhir. Luka lama mungkin masih ada dan hubungan dalam keluarga belum tentu langsung berubah ketika peserta kembali ke rumah.
Namun, ia berharap pengalaman selama camp dapat mendorong peserta pulang dengan kesadaran dan komitmen baru.
Menurut Romo Kristo, peserta perlu menyadari bahwa ada sesuatu yang telah disentuh, dibangkitkan, dan diingatkan Tuhan selama proses pembinaan. Hal itu, kata dia, selanjutnya harus diperjuangkan dalam kehidupan keluarga.
Ia juga mengajak peserta memahami makna “tatapan empat mata” dengan Tuhan sebagai pengalaman iman.
Menurut Romo Kristo, Tuhan menegur manusia bukan untuk menghakimi atau mempermalukan kelemahannya. Teguran tersebut merupakan bagian dari kasih yang mendorong seseorang menyadari kekurangan dan membuka ruang bagi penyembuhan.
“Ia menegur tanpa menghancurkan. Ia menyadarkan tanpa mempermalukan. Ia membuka luka bukan untuk memperbesar rasa sakit, melainkan supaya luka itu dapat disembuhkan,” katanya.
Romo Kristo berharap pengalaman tersebut tidak berhenti di lokasi camp, tetapi diterjemahkan peserta dalam kehidupan nyata, terutama melalui tanggung jawab dan keteladanan mereka di tengah keluarga.
Pada kesempatan itu, Romo Kristo juga menyampaikan terima kasih kepada Vikjen Keuskupan Atambua, para kephale CFM tingkat keuskupan dan distrik, moderator, pembicara, fasilitator, Hadfas, tim backing prayer, panitia, pimpinan Rumah Laat Manekan Biara SVD Noemeto, serta tim doa yang mendukung kegiatan selama 24 jam.
Camp Priskat Angkatan XVII CFM Keuskupan Atambua kemudian resmi berakhir setelah Perayaan Misa Kudus penutupan. Para peserta diharapkan membawa hasil refleksi dan pembinaan tersebut kembali ke keluarga masing-masing.
Reporter: Bergita Abi















