Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Diseminasi Ekosistem Kewirausahaan Iklim Digelar di Kupang, Pemprov NTT Dorong Kolaborasi Transisi Energi Berkelanjutan

6
×

Diseminasi Ekosistem Kewirausahaan Iklim Digelar di Kupang, Pemprov NTT Dorong Kolaborasi Transisi Energi Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

Kupang-Breakingnewspost.id – Upaya memperkuat ekosistem kewirausahaan iklim dan mendorong transisi energi berkelanjutan di kawasan Indonesia Timur menjadi sorotan dalam kegiatan Diseminasi Hasil Pemetaan Ekosistem Kewirausahaan Iklim di Indonesia Timur yang digelar di Hotel Aston Kupang, Selasa (12/5/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, sektor keuangan, perguruan tinggi, pelaku usaha, hingga pemerhati lingkungan untuk membahas kondisi aktual, tantangan, dan peluang pengembangan kewirausahaan berbasis iklim di wilayah timur Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama New Energy Nexus Indonesia dengan dukungan Kemitraan Iklim dan Infrastruktur Australia–Indonesia (KINETIK) melalui rangkaian Climate Innovation Workshop dan Baseline Interview yang sebelumnya dilakukan di Ambon, Kupang, dan Makassar.

Diseminasi tersebut bertujuan menyampaikan hasil pemetaan ekosistem kewirausahaan iklim, mengidentifikasi kesenjangan utama, memvalidasi hasil kajian bersama para pemangku kepentingan, sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung pembangunan ekonomi hijau dan transisi energi yang inklusif.

Hadir dalam kegiatan itu Staf Ahli Gubernur Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi NTT sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Biro Administrasi Pimpinan, Jusuf Lery Rupidara, Minister-Counsellor (Economic, Investment and Infrastructure) Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Jonathan Gilbert, perwakilan Kementerian Keuangan, akademisi, pelaku UMKM, hingga komunitas pemerhati lingkungan.

Mewakili Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Jusuf Lery Rupidara menyampaikan apresiasi terhadap kerja sama Indonesia dan Australia yang dinilai membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru berbasis inovasi iklim dan energi berkelanjutan.

“Pemerintah Provinsi NTT sangat mengapresiasi kerja sama antara Australia dan Indonesia yang diimplementasikan melalui New Energy Nexus dan KINETIK untuk membuka sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui penguatan kewirausahaan iklim di tingkat lokal,” ujarnya.

Menurut Jusuf, kegiatan tersebut bukan sekadar forum diskusi, tetapi dapat menjadi dasar penguatan kebijakan publik yang berkaitan dengan pengelolaan iklim, pembangunan ekonomi, dan pengembangan kewirausahaan di daerah.

Ia menilai NTT membutuhkan ruang dialog yang mampu mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas agar tercipta sinergi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

“Ini ruang dialog yang strategis. Manfaatnya harus menyebar luas di berbagai kalangan dan lembaga. Inovator daerah, UMKM, dan pelaku usaha rintisan juga harus menjadi bagian dari proses berkelanjutan ini,” katanya.

Sorotan dalam forum tersebut juga mengarah pada pentingnya membangun transisi energi yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

Minister-Counsellor Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Jonathan Gilbert, menegaskan bahwa kerja sama Australia dan Indonesia diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi, solusi iklim, serta pembangunan ekonomi berkelanjutan, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

“Kami menjaga komitmen Australia dan Indonesia untuk memperkuat kerja sama di bidang ketahanan energi, solusi iklim, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dan pembangunan inklusif,” ujarnya.

Menurut Jonathan, keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari besarnya produksi energi terbarukan atau penurunan emisi karbon, tetapi juga dari sejauh mana kebijakan tersebut mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan memperluas manfaat ekonomi.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem kewirausahaan iklim yang kuat dan berkelanjutan.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pembangunan ekonomi daerah, forum tersebut dinilai menjadi momentum penting bagi NTT dan kawasan Indonesia Timur untuk memperkuat arah pembangunan hijau berbasis inovasi, kolaborasi, dan pengembangan ekonomi lokal.

Pemerintah Provinsi NTT berharap hasil diseminasi tersebut tidak berhenti pada tataran kajian, tetapi mampu diterjemahkan menjadi kebijakan, program nyata, dan kolaborasi jangka panjang yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Bergita Abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *