SOPPENG | BreakingNewsPost.id — Garuda Arpas Desa Abbanuange, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, memiliki sejumlah pemain muda yang dinilai berpotensi berkembang. Pemerhati bola voli Rudiandi, C.FLE., C.BJ., C.EJ., C.In., Kamis (20/8/2026), menilai tantangan Garuda Arpas kini bukan sekadar memiliki pemain berbakat, tetapi memastikan potensi tersebut mendapat pembinaan yang terarah.
Rudiandi menyebut A’an Anugrah, Abil Ahmad, Ahmad Farel, dan Halil Ahmad sebagai talenta muda yang layak mendapat perhatian. Kemampuan mereka, kata dia, dapat menjadi modal penting bagi Garuda Arpas membangun regenerasi tim.
“Pemain muda di Abbanuange punya potensi. Yang diperlukan sekarang pembinaan yang konsisten dan pelatih yang mampu mengarahkan mereka,” ujar Rudiandi.
Menurut dia, bakat tidak otomatis berubah menjadi prestasi. Teknik dasar, kebugaran, mental bertanding, disiplin, strategi, dan kerja sama tim membutuhkan program latihan yang terukur serta evaluasi berkelanjutan.
Karena itu, keberadaan pelatih berpengalaman dinilai menjadi salah satu kebutuhan penting Garuda Arpas. Pelatih tidak cukup hanya memimpin latihan, tetapi juga harus mampu membaca karakter pemain, menyusun program sesuai kemampuan, memperbaiki kelemahan, dan membangun pola permainan tim.
Rudiandi juga menekankan pentingnya kompetisi bagi pemain muda. Pertandingan menjadi ruang untuk menguji hasil latihan, membangun mental bertanding, serta menambah pengalaman menghadapi berbagai karakter permainan lawan.
Menurutnya, pembinaan Garuda Arpas perlu dipandang sebagai proses jangka panjang. Ukuran keberhasilan tidak semata-mata kemenangan dalam satu turnamen, melainkan kemampuan klub menciptakan regenerasi dan meningkatkan kualitas pemain secara berkelanjutan.
Dukungan terhadap pembinaan juga tidak hanya bergantung pada pelatih. Pengurus klub, pemerintah desa, masyarakat, fasilitas latihan, dan kesempatan mengikuti kompetisi turut menentukan perkembangan pemain.
Dengan materi pemain muda yang dinilai menjanjikan, Rudiandi melihat Garuda Arpas memiliki modal untuk membangun tim yang lebih kompetitif. Namun tanpa pembinaan yang konsisten, potensi tersebut berisiko berhenti sebagai bakat lokal.
“Bakat sudah ada. Pekerjaan berikutnya adalah membentuknya menjadi prestasi,” kata Rudiandi.
Tim/red
















