Polewali Mandar-BreakingNewspost.id — Hamparan kopra yang dijemur di badan jalan menjadi pemandangan yang kian lazim ditemui di sejumlah titik di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Di Desa Tamangalle, aktivitas ini berlangsung hampir setiap hari, mencerminkan perjuangan warga dalam mempertahankan sumber penghidupan di tengah keterbatasan fasilitas.
Kopra, atau daging kelapa yang dikeringkan, masih menjadi komoditas utama bagi masyarakat pesisir di wilayah ini. Hasil penjualannya menjadi penopang ekonomi rumah tangga, digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar hingga biaya pendidikan anak. Namun di balik peran vital tersebut, para petani harus berhadapan dengan berbagai tantangan yang tak ringan.
Proses pengolahan kopra masih didominasi metode tradisional. Warga memulai dari pemisahan isi kelapa dari tempurung atau yang dikenal dengan istilah “pasisi”, kemudian menjemurnya di bawah terik matahari hingga mencapai tingkat kekeringan tertentu. Keterbatasan lahan khusus pengeringan membuat badan jalan menjadi pilihan paling memungkinkan, meski menyimpan risiko.
Selain berpotensi mengganggu arus lalu lintas, penjemuran di jalan juga rentan terhadap debu dan kotoran yang dapat memengaruhi kualitas hasil produksi. Namun bagi warga, pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Minimnya fasilitas penunjang seperti lantai jemur atau rumah pengering membuat mereka harus memanfaatkan ruang yang tersedia.
Meski demikian, terdapat upaya dari sebagian petani untuk meningkatkan kualitas kopra. Di beberapa titik, kopra yang dijemur tampak lebih utuh dan tersusun rapi, berbeda dengan bentuk “polo-polongan” yang umum dihasilkan melalui metode konvensional. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya kualitas untuk memperoleh harga jual yang lebih baik di pasar.
Sejumlah warga mengaku, harga kopra yang fluktuatif kerap menjadi tantangan tersendiri. Ketika harga turun, pendapatan petani ikut tergerus, sementara biaya produksi dan kebutuhan hidup tetap berjalan. Kondisi ini membuat mereka harus bekerja lebih keras untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Di sisi lain, belum optimalnya dukungan infrastruktur dari pihak terkait menjadi sorotan. Hingga kini, fasilitas pengeringan yang layak dan memadai masih terbatas. Padahal, dengan adanya sarana tersebut, kualitas kopra dapat ditingkatkan sekaligus meminimalisasi risiko keselamatan di jalan raya.
Pemerintah daerah diharapkan dapat melihat kondisi ini sebagai bagian dari kebutuhan mendesak masyarakat. Intervensi dalam bentuk penyediaan fasilitas, pelatihan pengolahan pascapanen, hingga stabilisasi harga dinilai penting untuk mendorong kesejahteraan petani kopra di wilayah Balanipa.
Di tengah berbagai keterbatasan, semangat warga tetap terjaga. Aktivitas menjemur kopra di badan jalan bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol ketahanan ekonomi masyarakat lokal. Mereka terus berupaya menjaga kualitas produksi, berharap hasil kerja keras tersebut mampu membawa kehidupan yang lebih baik.
Bagi warga Balanipa, kopra bukan hanya komoditas. Ia adalah bagian dari identitas dan warisan yang terus dipertahankan, meski harus dijalani di atas keterbatasan.Tim















