Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Lonjakan Kasus Campak di Luwu, 90 Anak Terpapar, Dua Meninggal

8
×

Lonjakan Kasus Campak di Luwu, 90 Anak Terpapar, Dua Meninggal

Sebarkan artikel ini

Luwu-BreakingNewspost.id — Lonjakan kasus campak di Kabupaten Luwu memicu kekhawatiran serius. Hingga pertengahan April 2026, tercatat sekitar 90 kasus dengan dua anak dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi penyakit tersebut. Kondisi ini mendorong peningkatan status kewaspadaan di sejumlah wilayah, terutama di tingkat desa.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan, penyebaran kasus mengalami peningkatan sejak Maret dan masih terus bertambah. Wilayah utara Luwu menjadi salah satu area dengan tingkat penularan tertinggi.

Desa Lawandi dan Lamasi Jadi Fokus Penanganan

Kasus terbanyak dilaporkan berasal dari Desa Lawandi dan Desa Lamasi. Kedua wilayah ini kini menjadi fokus penanganan intensif karena tingkat penularan yang relatif cepat, terutama di lingkungan keluarga dan sekolah.

Tenaga kesehatan terus melakukan pemantauan dan penanganan langsung di lapangan. Warga di dua desa tersebut juga mulai meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap anak-anak yang menunjukkan gejala awal seperti demam, batuk, serta munculnya ruam merah pada kulit.

Anak-Anak Rentan, Warga Mulai Resah

Kelompok anak-anak menjadi yang paling terdampak dalam lonjakan kasus ini. Sebagian besar pasien diketahui belum mendapatkan imunisasi lengkap, sehingga rentan terhadap penularan.

Di sejumlah dusun, orang tua kini lebih sigap membawa anak ke fasilitas kesehatan saat gejala awal muncul.

“Kalau sudah panas atau ada bintik merah sedikit saja, langsung dibawa ke puskesmas,” ujar salah satu warga.

Walenrang dan Walenrang Barat Dominan

Selain Lawandi dan Lamasi, penyebaran juga terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Walenrang dan Kecamatan Walenrang Barat yang menjadi fokus utama penanganan pemerintah daerah.

Puskesmas di wilayah terdampak kini mengalami peningkatan kunjungan pasien. Tenaga kesehatan juga dikerahkan untuk melakukan pelacakan kasus secara aktif hingga ke tingkat desa.

Imunisasi Darurat Dikebut

Sebagai langkah pengendalian, pemerintah melalui Dinas Kesehatan menggelar Outbreak Response Immunization (ORI), yakni imunisasi darurat bagi anak usia 9 hingga 59 bulan.

Langkah ini dinilai krusial untuk memutus rantai penularan sekaligus melindungi kelompok rentan.

“Ini langkah cepat untuk melindungi anak-anak dan menekan penyebaran,” ujar perwakilan Dinas Kesehatan.

Wilayah Sekitar Ikut Waspada

Pengawasan juga diperketat di wilayah sekitar, termasuk Kota Palopo, yang mulai melaporkan kasus suspek campak meski belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala campak. Demam tinggi, batuk, mata merah, dan ruam kulit harus segera ditangani oleh tenaga medis.

Lonjakan kasus ini menjadi peringatan serius akan pentingnya imunisasi dan kewaspadaan dini. Pemerintah berharap kerja sama masyarakat dapat mempercepat pengendalian wabah serta mencegah bertambahnya korban, terutama di kalangan anak-anak.

Penulis: AsL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *