Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Menjelang Purnabakti, Staf Humas Kemenag TTU Refleksikan Makna Pengabdian di Balik Seragam Korpri

4
×

Menjelang Purnabakti, Staf Humas Kemenag TTU Refleksikan Makna Pengabdian di Balik Seragam Korpri

Sebarkan artikel ini

Timor Tengah Utara — Menjelang masa purnabakti, seorang staf humas di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) membagikan refleksi mendalam tentang makna pengabdian, tepat pada Senin (27/4/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30.

Dalam momen tersebut, ia mendampingi Pelaksana Harian Kepala Kantor Kemenag TTU, Maximus Fanu, dalam upacara yang berlangsung di lapangan Kantor Bupati TTU. Namun, kehadiran itu tidak sekadar sebagai bagian dari tugas, melainkan menjadi ruang perenungan atas perjalanan pengabdian yang telah dilalui.

Mengakhiri masa tugas sebagai PLO atau staf humas PPPK setelah sekitar sepuluh bulan mengabdi, hari tersebut menjadi momen terakhir baginya mengenakan seragam Korpri. Seragam yang selama ini identik dengan aparatur sipil negara itu, menurutnya, tidak hanya simbol formalitas, tetapi juga membawa tanggung jawab moral yang besar.

Dalam refleksinya, ia mengakui bahwa perjalanan pengabdian yang dijalani masih jauh dari sempurna. Namun, kesadaran akan keterbatasan tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam menjalankan tugas pelayanan publik.

Upacara yang berlangsung di tengah rintik hujan di wilayah Bikomi itu menjadi latar yang memperkuat suasana kontemplatif. Di tengah barisan peserta yang mengenakan seragam Korpri, muncul kesadaran bahwa pengabdian sejati tidak diukur dari atribut yang dikenakan, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Ia menilai, momentum peringatan Hari Otonomi Daerah tidak semata menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga pengingat akan pentingnya menghadirkan pelayanan yang lebih bermakna dan berdampak bagi publik.

“Seragam bisa dilepas, tetapi tanggung jawab dan panggilan untuk melayani tidak pernah berakhir,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam refleksi tersebut.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pengabdian tidak bergantung pada jabatan maupun atribut formal, melainkan pada komitmen dan ketulusan hati dalam melayani masyarakat. Nilai tersebut, menurutnya, harus tetap dijaga meskipun masa tugas formal telah berakhir.

Refleksi ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap fase pengabdian, yang terpenting bukanlah awal atau akhir perjalanan, melainkan konsistensi dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Di penghujung masa tugasnya, ia berharap semangat pelayanan tetap hidup, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh aparatur negara dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *