Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaDAERAH

Orang Muda Flores Timur Berkumpul di Pesisir Kawaliwu, Menjawab Krisis Iklim dengan Aksi Nyata

5
×

Orang Muda Flores Timur Berkumpul di Pesisir Kawaliwu, Menjawab Krisis Iklim dengan Aksi Nyata

Sebarkan artikel ini

FLORES TIMUR-BreakingNewspost.id – Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan masyarakat pesisir, puluhan orang muda dari Flores Timur, Lembata, dan Maumere memilih mengambil langkah berbeda. Mereka tidak sekadar berbicara tentang krisis lingkungan, tetapi turun langsung ke lapangan untuk membangun kesadaran, menyusun solusi, dan merancang gerakan bersama.

Melalui kegiatan bertajuk “Camping Edukasi: Mura Rame Pesta 2026”, Koalisi KOPI (Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim) Mura Rame Flores Timur bersama Komunitas Orang Muda Kawaliwu menggelar konsolidasi gerakan iklim di kawasan pesisir Kawaliwu, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 20–21 Juni 2026.

Mengusung tema “Suara Orang Muda dari Pesisir Kawaliwu untuk Keadilan Iklim”, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas anak muda yang memiliki kepedulian terhadap masa depan lingkungan dan keberlanjutan hidup masyarakat kepulauan.

 

Krisis iklim yang selama ini kerap dipandang sebagai isu global ternyata telah hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Flores Timur. Abrasi pantai yang terus menggerus garis pesisir, cuaca ekstrem yang mengganggu aktivitas nelayan dan petani, hingga persoalan sampah laut yang semakin masif menjadi gambaran nyata tantangan yang dihadapi wilayah kepulauan.

Dalam konteks itulah Kawaliwu dipilih sebagai titik pertemuan. Bukan hanya karena keindahan pesisirnya, tetapi juga karena kawasan tersebut menjadi salah satu wilayah yang merasakan langsung dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

Ketua Koalisi KOPI Mura Rame Flores Timur, Elsyn Puka, mengatakan bahwa orang muda tidak boleh lagi ditempatkan hanya sebagai kelompok yang menerima dampak kebijakan. Mereka harus hadir sebagai bagian dari solusi.

Orang muda Flores Timur memiliki energi kreatif dan kapasitas adaptasi yang tinggi untuk menawarkan solusi alternatif. Pesisir Kawaliwu kami pilih sebagai ruang aman untuk mengkonsolidasikan gagasan, memetakan persoalan lingkungan, sekaligus menyuarakan komitmen merawat laut dan memperjuangkan hak atas masa depan yang layak,” ujarnya.

Selama dua hari pelaksanaan kegiatan, peserta tidak hanya berdiskusi mengenai isu perubahan iklim. Berbagai aktivitas dirancang untuk menghubungkan pengetahuan, kreativitas, budaya lokal, dan aksi konservasi secara langsung.

Pada hari pertama, anak-anak dan remaja di sekitar kawasan pesisir diajak mengikuti kegiatan Gelar Lapak Baca, sebuah ruang literasi terbuka yang menghadirkan berbagai bacaan di tepi pantai. Di tengah keterbatasan akses literasi di sejumlah wilayah pesisir, kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan dan kesadaran lingkungan harus berjalan beriringan.

Peserta juga mengikuti Workshop Kriya Pesisir, yakni pelatihan mengolah sampah plastik, kerang, ranting, dan berbagai limbah laut menjadi produk kreatif bernilai ekonomi. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa persoalan sampah tidak semata-mata dipandang sebagai masalah lingkungan, tetapi juga dapat diubah menjadi peluang ekonomi berbasis kreativitas masyarakat.

Komitmen terhadap prinsip keberlanjutan juga tampak melalui penerapan konsep Zero Waste selama kegiatan berlangsung. Seluruh peserta diwajibkan membawa alat makan dan minum sendiri guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Pada sesi Makan Malam dan Pangan Berdaulat, peserta berbagi berbagai pangan lokal seperti ubi, jagung, pisang rebus, lawar, hasil olahan laut, hingga aneka produk berbahan sorgum. Langkah ini tidak hanya memperkenalkan kekayaan pangan lokal Flores Timur, tetapi juga menjadi kampanye nyata untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Malam hari menjadi momentum refleksi bersama. Di bawah langit pesisir Kawaliwu, peserta menyaksikan pemutaran film dokumenter yang mengangkat kisah dua anak muda pegiat pangan dan lingkungan di Flores Timur. Film tersebut menggambarkan tantangan sosial dan ekologis yang dihadapi masyarakat sekaligus memperlihatkan bagaimana inisiatif lokal mampu menghadirkan perubahan.

Refleksi kemudian dilanjutkan melalui sesi Bedah Isu dan Ruang Aman, sebuah forum dialog terbuka yang memungkinkan peserta berbagi pengalaman, kegelisahan, serta gagasan tanpa sekat dan tanpa penghakiman.

Dari proses diskusi tersebut lahirlah sembilan rekomendasi strategis yang ditujukan kepada pemerintah daerah, institusi pendidikan, komunitas masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Rekomendasi tersebut mencakup desakan penanganan serius terhadap sampah kiriman di pesisir Kawaliwu, penerapan aturan lokal bagi wisatawan untuk membawa pulang sampah mereka sendiri, penyediaan fasilitas pemilahan sampah di sekolah, penguatan kemitraan dengan Bank Sampah, pengembangan jaringan pengawas laut berbasis komunitas, hingga penguatan program pangan lokal sebagai solusi ekonomi dan adaptasi iklim.

Selain itu, peserta juga mendorong pelaksanaan penanaman mangrove secara berkelanjutan sebagai langkah mitigasi abrasi pantai serta pengembangan konsep wisata ekologi yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

Bagi para peserta, sembilan rekomendasi tersebut bukan sekadar dokumen hasil diskusi. Rekomendasi itu dipandang sebagai peta jalan gerakan orang muda Flores Timur dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Kami ingin menunjukkan bahwa orang muda tidak hanya mampu mengkritik keadaan. Kami juga mampu menawarkan solusi. Sembilan rekomendasi ini adalah bentuk tanggung jawab kami terhadap masa depan Flores Timur,” ujar salah seorang perwakilan panitia.

Kegiatan di Kawaliwu menunjukkan bahwa gerakan iklim tidak selalu lahir dari ruang konferensi besar atau forum internasional. Di sebuah pesisir kecil di Flores Timur, sekelompok anak muda justru memperlihatkan bahwa perubahan dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana, dari percakapan, gotong royong, dan keberanian untuk bertindak.

Ketika ancaman perubahan iklim semakin dekat, suara-suara dari pesisir seperti Kawaliwu menjadi pengingat bahwa masa depan lingkungan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keberanian generasi muda untuk mengambil peran dan bergerak bersama menjaga bumi yang mereka warisi.Penulis: Yuven Fernandez

Flores Timur, Nusa Tenggara Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *