MAUMERE,BreakingNewspost.id — Harapan yang dibangun bertahun-tahun melalui kerja keras di tanah rantau seketika berubah menjadi kepulan asap dan puing-puing. Rumah milik Heronimus Hiro, seorang petani di Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, ludes dilalap api pada Jumat dini hari (10/7/2026). Kebakaran tersebut tidak hanya menghanguskan bangunan tempat tinggal, tetapi juga memusnahkan seluruh harta benda dan hasil panen yang menjadi tumpuan hidup keluarganya.
Rumah sederhana berukuran sekitar 6 x 8 meter itu merupakan buah dari perjuangan Heronimus saat merantau selama bertahun-tahun di Kalimantan Timur sebagai pekerja di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Dari hasil kerja yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, ia akhirnya mampu membangun rumah bagi keluarganya pada 2021.
Namun, rumah yang menjadi simbol pengorbanan dan harapan masa depan itu kini tinggal puing-puing.
Saat musibah terjadi, Heronimus bersama istrinya, Maria Kasiasi (56), dan keempat anak mereka tengah tertidur lelap. Di tengah malam yang sunyi, ia tiba-tiba merasakan hawa panas yang tidak biasa dari dalam kamar.
Saya sedang tidur di kamar. Tiba-tiba terasa panas. Setelah bangun saya melihat api sudah membesar berasal dari dinding luar rumah,” tutur Heronimus.
Tanpa berpikir panjang, ia segera membangunkan seluruh anggota keluarganya. Keempat anak mereka, yakni Novensius Harianto (18), penyandang disabilitas, Padarina (14), Riky (13), dan Robi (11), berhasil dievakuasi keluar rumah sebelum kobaran api menguasai seluruh bangunan.
Di tengah kepanikan, Maria Kasiasi sempat berusaha kembali masuk ke rumah untuk menyelamatkan dokumen-dokumen penting keluarga. Namun kobaran api yang dengan cepat menjalar melalui dinding bambu dan bagian dapur yang masih menyatu dengan rumah membuat upaya tersebut gagal dilakukan.
Dalam waktu singkat, seluruh bangunan semi permanen itu habis terbakar.
Musibah tersebut tidak hanya menghilangkan tempat tinggal keluarga Heronimus. Api juga menghanguskan uang tunai sekitar Rp500 ribu, satu sertifikat tanah, dua kartu tanda penduduk (KTP), satu kartu keluarga (KK), empat akta kelahiran, serta satu unit telepon genggam.
Lebih menyakitkan lagi, hasil panen yang menjadi harapan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup juga tidak terselamatkan. Uang hasil penjualan jambu mete, dua karung asam yang rencananya akan dipasarkan pada hari itu, serta empat karung jagung kering ikut menjadi santapan si jago merah.
Bagi keluarga petani tersebut, kehilangan itu bukan sekadar kerugian materi. Musibah tersebut juga menghapus hasil kerja keras bertahun-tahun yang dibangun melalui pengorbanan merantau jauh dari keluarga demi memperoleh kehidupan yang lebih layak.
Tetangga korban, Romanus, mengatakan warga berdatangan begitu mengetahui adanya kebakaran. Namun ketika mereka tiba di lokasi, kobaran api telah membesar sehingga upaya penyelamatan rumah tidak lagi memungkinkan.
Saat kami datang membantu, api sudah membesar dan membakar seluruh bagian rumah,” katanya.
Berdasarkan data aparat di lapangan, tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp60 juta.
Hingga kini penyebab kebakaran masih belum diketahui. Aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan sumber api. Babinsa yang menerima laporan dari kepala dusun segera mendatangi lokasi guna mengamankan tempat kejadian perkara (TKP), sementara Tim Inafis Polres Sikka bersama personel Polsek Waigete melakukan olah TKP pada Jumat pagi untuk mengumpulkan bukti dan meminta keterangan dari para saksi.
Hasil penyelidikan tersebut diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kebakaran sehingga tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Kini Heronimus bersama istri dan keempat anaknya harus memulai kehidupan dari awal. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung, hasil panen yang menjadi sumber penghidupan, serta dokumen-dokumen penting yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari telah berubah menjadi abu.
Di balik musibah tersebut tersimpan potret rapuhnya kehidupan sebagian masyarakat pedesaan, di mana satu bencana dapat menghapus hasil perjuangan bertahun-tahun dalam hitungan menit. Perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu keluarga Heronimus bangkit kembali, sembari menunggu hasil resmi penyelidikan aparat mengenai penyebab kebakaran.Naskah ini tetap menjaga prinsip cover both sides dengan tidak menyimpulkan penyebab kebakaran sebelum hasil penyelidikan resmi diumumkan, serta membedakan secara jelas antara fakta lapangan, keterangan korban, kesaksian warga, dan tindakan aparat.
Yuven fernandez
















