ALOR, NTT — BreakingNewsPost.id — Kondisi kehidupan Nenek Rahel, warga Desa Probur, Kecamatan Alor Barat Daya (ABAD), Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sebelumnya menjadi perhatian di media sosial, mendapat respons dari Perum Bulog Cabang Kalabahi.
Petugas Bulog Kalabahi mendatangi kediaman Nenek Rahel pada Senin (10/8/2026). Selain melihat langsung kondisi warga tersebut, petugas juga menyerahkan bantuan berupa paket sembako, termasuk beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Bantuan itu diberikan setelah kondisi Nenek Rahel ramai diperbincangkan di media sosial Facebook. Informasi mengenai kehidupannya sebelumnya diunggah oleh seorang petugas Sensus Ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Alor, Petrus Eryah.
Unggahan tersebut menggambarkan kondisi tempat tinggal Nenek Rahel yang disebut sangat sederhana dan membutuhkan perhatian.
Berawal dari Pendataan
Petrus mengatakan, kondisi Nenek Rahel diketahuinya ketika ia melakukan kegiatan pendataan di Desa Probur.
Dalam unggahan yang kemudian menyebar di media sosial itu, Petrus menceritakan pertemuannya dengan Nenek Rahel. Ia mengaku melihat langsung kondisi perempuan lanjut usia tersebut dan rumah yang ditempatinya.
Menurut cerita Petrus, Nenek Rahel menghampirinya dengan langkah yang sudah lambat. Dari lokasi tersebut, ia kemudian melihat kondisi rumah yang menjadi tempat tinggal Nenek Rahel.
Rumah tersebut digambarkan sebagai bangunan sederhana dengan sejumlah bagian yang telah mengalami kerusakan. Dinding disebut berlubang dan lapuk, sementara pada bagian atap terdapat sejumlah titik yang juga mengalami kerusakan.
Lantai rumah masih berupa tanah dan kondisinya tidak rata. Perlengkapan rumah tangga yang terlihat di dalam rumah juga disebut sangat terbatas.
Kondisi tersebut membuat Petrus merasa prihatin karena rumah itu menjadi tempat Nenek Rahel menjalani kehidupan sehari-hari.
Momen Haru Saat Bertemu
Pertemuan tersebut juga menjadi pengalaman emosional bagi Petrus.
Dalam unggahannya, Petrus menceritakan bahwa Nenek Rahel sempat memeluk dirinya. Dalam suasana tersebut, Nenek Rahel disebut meneteskan air mata sembari menyampaikan kesedihan mengenai kehidupan yang dijalaninya.
Petrus menggambarkan suara Nenek Rahel terdengar lemah dan bergetar ketika berbicara mengenai kehidupannya.
Tatapan mata Nenek Rahel, menurut Petrus, memperlihatkan harapan sekaligus beratnya kehidupan yang harus dijalani dalam keterbatasan ekonomi.
Setelah berbincang, Nenek Rahel kemudian berjalan kembali menuju rumahnya sambil menggenggam tangan Petrus.
Pengalaman tersebut kemudian dibagikan Petrus melalui media sosial. Unggahan itu menarik perhatian masyarakat dan mendorong munculnya kepedulian terhadap kondisi Nenek Rahel.
Bulog Turun Langsung
Sehari setelah informasi mengenai kondisi Nenek Rahel mendapat perhatian publik, petugas Perum Bulog Cabang Kalabahi mendatangi Desa Probur.
Kedatangan petugas Bulog tidak hanya untuk melihat kondisi Nenek Rahel secara langsung, tetapi juga menyerahkan bantuan berupa paket sembako, termasuk beras SPHP.
Bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap warga yang tengah menghadapi keterbatasan kebutuhan hidup.
Beras SPHP sendiri merupakan bagian dari program pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Dalam konteks bantuan kepada Nenek Rahel, beras tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Bantuan Pangan Belum Menyelesaikan Persoalan Hunian
Meski bantuan pangan menjadi langkah awal yang berarti, kondisi tempat tinggal Nenek Rahel masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Rumah yang berdasarkan dokumentasi dan cerita dalam unggahan tersebut disebut mengalami sejumlah kerusakan membutuhkan penanganan agar penghuni memperoleh tempat tinggal yang aman dan layak.
Karena itu, perhatian terhadap Nenek Rahel diharapkan tidak berhenti pada bantuan sembako. Pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat melihat secara langsung kondisi tersebut untuk menentukan bentuk intervensi yang sesuai, termasuk kemungkinan bantuan perbaikan atau penyediaan hunian yang lebih layak apabila memenuhi kriteria program yang tersedia.
Kisah Nenek Rahel juga memperlihatkan bagaimana informasi dari kegiatan pendataan di tingkat desa dapat membuka perhatian publik terhadap warga yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Respons Bulog menjadi salah satu bentuk kepedulian yang muncul setelah kondisi tersebut diketahui publik. Namun, keberlanjutan dukungan tetap membutuhkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait agar kebutuhan dasar serta persoalan hunian dapat ditangani secara lebih menyeluruh.
Bagi Nenek Rahel, bantuan beras dan sembako mungkin menjadi langkah kecil untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, di balik bantuan tersebut terdapat persoalan yang lebih besar: bagaimana memastikan warga yang hidup dalam keterbatasan tetap mendapatkan perhatian dan akses terhadap bantuan sosial maupun layanan dasar secara layak.
Rilis: Warta Alor
Foto: Bulog















