Majene-BreakingNewspost.id — Menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, harga tabung gas bersubsidi elpiji 3 kg Rabu 18 maret 2026, sejumlah wilayah di Majene dilaporkan melonjak tajam hingga menembus Rp50.000 per tabung. Angka tersebut jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Kenaikan harga ini memicu keresahan masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah yang sangat bergantung pada elpiji subsidi untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Di tengah meningkatnya kebutuhan menjelang hari raya, kondisi tersebut dinilai semakin menekan daya beli warga.
Sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh elpiji dengan harga normal. Selain harga yang melambung, pasokan di tingkat pengecer juga disebut tidak stabil. Situasi ini memunculkan dugaan adanya gangguan dalam rantai distribusi, mulai dari agen hingga pengecer.
Ketua DPW APKAN RI, Nugroho Eko, menilai persoalan tersebut tidak lepas dari lemahnya pengawasan di lapangan. Ia menyoroti adanya indikasi praktik tidak wajar dalam distribusi elpiji bersubsidi.
“Ini harus menjadi perhatian serius. Elpiji 3 kg merupakan barang subsidi untuk masyarakat kecil. Ketika harga di lapangan menembus Rp50 ribu, patut diduga ada persoalan dalam sistem distribusinya,” ujarnya.
Ia mendesak pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum untuk segera melakukan operasi pasar serta penertiban terhadap agen dan pengecer yang menjual di atas HET. Menurutnya, langkah cepat dan tegas diperlukan guna mencegah kondisi semakin memburuk menjelang puncak konsumsi Idulfitri.
Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait kondisi stok dan mekanisme distribusi elpiji bersubsidi. Transparansi dinilai penting untuk menghindari spekulasi sekaligus memastikan bahwa subsidi benar-benar tepat sasaran.
Pengamat kebijakan publik menilai, lonjakan harga elpiji 3 kg menjelang hari besar keagamaan merupakan fenomena berulang yang belum sepenuhnya teratasi. Hal ini menunjukkan perlunya pembenahan sistem distribusi yang lebih ketat dan terintegrasi, termasuk pengawasan hingga ke tingkat paling bawah.
Selain itu, pemerintah juga didorong untuk memastikan ketersediaan pasokan dengan mempertimbangkan penambahan kuota guna mengantisipasi lonjakan permintaan. Tanpa intervensi yang cepat dan terukur, kondisi ini berpotensi dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk meraup keuntungan.
Sementara itu, masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar harga elpiji kembali stabil dan terjangkau. Bagi mereka, elpiji 3 kg bukan sekadar komoditas energi, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan keberlangsungan aktivitas rumah tangga, terutama di tengah tekanan ekonomi menjelang hari raya.
Reporter;m.arfullah















