Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaDAERAH

Antara Gelombang dan Sepinya Pembeli, Pedagang Ikan Tetap Bertahan Demi Keluarga

5
×

Antara Gelombang dan Sepinya Pembeli, Pedagang Ikan Tetap Bertahan Demi Keluarga

Sebarkan artikel ini

Kefamenanu-BreakingNewspost.id —Musim hujan yang berlangsung sejak awal tahun membawa tantangan berlapis bagi pelaku usaha kecil di daerah. Di Pasar Lama Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, para pedagang ikan harus berhadapan dengan terbatasnya pasokan sekaligus fluktuasi daya beli masyarakat.

Antonius Salem (41), salah satu pedagang ikan di pasar tersebut, merasakan langsung dampak kondisi cuaca terhadap keberlangsungan usahanya. Gelombang laut yang tinggi dan curah hujan yang intens sejak Januari hingga Maret membuat nelayan kesulitan melaut. Akibatnya, pasokan ikan mentah di tingkat pedagang menjadi terbatas.

“Kalau musim seperti ini, ikan susah didapat. Harga juga otomatis naik karena barangnya sedikit,” kata Antonius saat ditemui, Rabu (18/3/2026).

Kondisi tersebut memengaruhi harga sejumlah komoditas ikan yang umum dijual di pasar, seperti ikan tembang, kombong, kombong padi, hingga cakalang. Kenaikan harga di satu sisi menjadi konsekuensi dari kelangkaan, namun di sisi lain berdampak pada minat beli masyarakat yang cenderung menurun.

Menurut Antonius, situasi ini menciptakan ketidakpastian dalam pendapatan harian. Pada hari-hari sepi, omzet yang diperoleh hanya berkisar Rp500.000. Sementara pada kondisi normal, pendapatan dapat mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari. Adapun pada momen hari besar keagamaan, permintaan biasanya meningkat dan mampu mendorong omzet hingga Rp3 juta sampai Rp4 juta.

Meski demikian, peningkatan tersebut tidak terjadi secara merata sepanjang waktu. Dalam beberapa kesempatan, ia mengaku harus menerima kenyataan dagangan tidak habis terjual, bahkan berisiko merugi.

Fenomena ini mencerminkan keterkaitan erat antara kondisi cuaca, aktivitas nelayan, serta stabilitas harga dan distribusi pangan di tingkat lokal. Ketika nelayan tidak dapat melaut secara optimal, rantai pasok terganggu dan berdampak langsung pada pedagang serta konsumen.

Di tengah situasi yang tidak menentu itu, Antonius memilih untuk tetap bertahan. Ia menilai, usaha yang dijalankannya bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap keluarga.

“Saya tetap jalani dengan ikhlas. Yang penting bisa bertanggung jawab untuk keluarga dan tetap bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Ketahanan yang ditunjukkan para pedagang seperti Antonius menjadi gambaran nyata daya juang pelaku ekonomi kecil dalam menghadapi tekanan eksternal. Di tengah keterbatasan, mereka terus beradaptasi, menjaga keberlangsungan usaha, sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya dukungan terhadap sektor perikanan dan perdagangan kecil, terutama dalam menghadapi faktor-faktor alam yang sulit diprediksi.

Reporter: Bergita Abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *