Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaDAERAH

Kerukunan di Kota Kupang: Membangun Persaudaraan dalam Keberagaman

6
×

Kerukunan di Kota Kupang: Membangun Persaudaraan dalam Keberagaman

Sebarkan artikel ini

Kupang-BreakingNewspost.id –Suasana keberagaman yang harmonis di Kota Kupang kembali menjadi sorotan. Dalam sebuah momen diskusi bersama awak media Apkannews pada Selasa (24/3/2026), Drs. Ambrosius Karbafo, M.Si, membagikan pandangannya mengenai pentingnya membangun dan merawat kerukunan di tengah kemajemukan masyarakat.

Ambrosius Karbafo, seorang pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten TTU, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang, serta Kepala Bagian Hukum, Kerukunan, dan Hubungan Kemasyarakatan (Hukmas) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT, menilai bahwa Kota Kupang memiliki keunikan tersendiri.

Menurutnya, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dihuni oleh masyarakat dari beragam latar belakang suku, budaya, bahasa, dan agama yang berasal dari ratusan pulau di wilayah NTT. Kondisi ini menjadikan Kota Kupang sebagai miniatur keberagaman yang hidup dan berkembang dalam suasana aman dan damai.

“Kota Kupang yang terus berkembang ini menjadi tempat tujuan banyak orang dari seluruh pelosok NTT untuk mencari penghidupan. Ratusan suku kini berdomisili di sini, menjadikannya kota yang keras namun tetap aman, menawan, dan dikenal sebagai kota toleransi,” ujar Ambrosius.

Ia menekankan bahwa mengelola keberagaman membutuhkan sikap tulus dalam menghargai dan menghormati perbedaan. Nilai-nilai persaudaraan, menurutnya, telah diwariskan oleh para pendahulu bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Hikmah dari leluhur kita adalah bahwa dahulu kita memiliki satu musuh bersama, yakni penjajahan. Dari situ lahir semangat persaudaraan, senasib dan sepenanggungan. Namun setelah merdeka, tantangan justru datang dari dalam, seperti korupsi, intimidasi, dan kepentingan kelompok yang berpotensi merusak kemajemukan,” ungkapnya.

Ambrosius, yang merupakan alumni Universitas Nusa Cendana dan pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana, juga menegaskan bahwa kerukunan harus dibangun di atas prinsip kesetaraan. Ia menyebut keberagaman sebagai “sunatullah” yang harus diterima dan dikelola dengan bijak.

“Bangsa ini harus dikelola dengan seni—seni merawat keberagaman menjadi persaudaraan sejati. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi sebagai anak bangsa,” tegasnya.

Ia juga mengangkat filosofi “ratna mutu manikam”, yang menggambarkan keberagaman sebagai kekayaan yang memiliki keindahan tersendiri jika dirawat dengan kasih, saling mengayomi, dan tanpa mempertentangkan perbedaan.

Secara khusus, Ambrosius menyoroti keunikan Kota Kupang, termasuk kondisi iklimnya yang berciri hujan singkat dan musim panas panjang. Namun di balik itu, terdapat kekhasan nilai kasih yang tumbuh di tengah masyarakat lintas agama, yang membuka ruang dialog dan kebersamaan.

“Tahun 2026 menjadi istimewa karena perayaan hari besar keagamaan berlangsung berdekatan—Nyepi, Idul Fitri, hingga Paskah. Ini menjadi momentum penting untuk saling memahami dan menghayati bahwa kita semua adalah ciptaan Tuhan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keberagaman bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang harus dikelola secara bijak demi menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Dengan semangat tersebut, Ambrosius berharap Kota Kupang dapat terus menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam merawat kerukunan dan membangun persaudaraan dalam keberagaman.

Reporter:Yohanes Tafaib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *