MAKASSAR — Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling, membagikan pengalaman hidup serta kisah inspiratif kepada para pemuda dalam kunjungan kerjanya di Makassar, Kamis (26/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mendorong semangat generasi muda sebagai penggerak pembangunan bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045.
Dalam dialog kepemudaan bertajuk “Motivasi dan Inspirasi Bagi Pemuda Bangsa Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045” yang diselenggarakan oleh GMKI Cabang Makassar, Yulius hadir sebagai narasumber utama. Di hadapan peserta, ia memaparkan perjalanan kariernya, mulai dari latar belakang di dunia militer hingga mengemban amanah sebagai kepala daerah.
Yulius menekankan pentingnya totalitas dalam menjalankan setiap tanggung jawab. Menurut dia, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh peluang, tetapi juga oleh komitmen individu dalam memberikan kinerja terbaik di setiap peran yang dijalani.
“Setiap peran harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Totalitas adalah kunci utama untuk mencapai hasil yang maksimal,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, ia juga mengungkapkan bahwa dirinya banyak terinspirasi dari karya klasik strategi militer The Art of War karya Sun Tzu. Ia mengutip filosofi yang menekankan pentingnya pemahaman diri dan lingkungan sebagai dasar dalam meraih keberhasilan.
“Kenali dirimu, kenali tantangan yang dihadapi, maka peluang untuk berhasil akan semakin besar. Prinsip ini tidak hanya relevan dalam peperangan, tetapi juga dalam tata kelola pemerintahan modern,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam konteks pemerintahan, mengenali diri berarti memahami kondisi internal secara objektif, termasuk potensi sumber daya, tantangan birokrasi, serta kebutuhan riil masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, kebijakan yang dihasilkan diharapkan lebih tepat sasaran dan berdampak langsung bagi publik.
Di sisi lain, Yulius menegaskan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pembangunan nasional. Menurutnya, pemuda tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek utama yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa.
Ia mendorong para pemuda untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat daya saing, serta adaptif terhadap dinamika global yang terus berkembang.
“Pemuda adalah harapan bangsa. Mereka harus dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan yang mampu menjawab tantangan zaman dan membawa Indonesia menjadi negara maju,” ujarnya.
Kegiatan dialog ini mendapat respons positif dari peserta yang terdiri dari mahasiswa dan kader organisasi kepemudaan. Mereka menilai pengalaman yang dibagikan memberikan perspektif baru mengenai kepemimpinan, pengabdian, serta pentingnya kesiapan menghadapi masa depan.
Meski demikian, sejumlah peserta juga berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, agar pembinaan generasi muda dapat berjalan lebih sistematis dan inklusif.
Dengan demikian, forum dialog seperti ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya peran pemuda dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Ferdinand sahempa















