Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Air Tak Salah Arah, Tata Kelola yang Keliru: Banjir Berulang di Polewali Mandar Disorot

16
×

Air Tak Salah Arah, Tata Kelola yang Keliru: Banjir Berulang di Polewali Mandar Disorot

Sebarkan artikel ini

Polewali Mandar-BreakingNewspost. Id – Banjir yang kembali merendam sejumlah titik di Polewali Mandar memperlihatkan persoalan yang lebih dalam dari sekadar curah hujan tinggi. Di balik genangan yang berulang, tersimpan masalah klasik: tata kelola drainase yang tak kunjung beres dan pendekatan penanganan yang dinilai keliru.

Air menggenangi jalan dan permukiman warga tak lama setelah hujan turun. Di beberapa lokasi, genangan bertahan cukup lama, menandakan aliran air tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bagi warga, ini bukan lagi kejadian insidental, melainkan pola yang terus berulang.

Sorotan mengarah pada kondisi gorong-gorong yang justru mengalami peninggian akibat timbunan material. Alih-alih memperlancar aliran, kondisi tersebut menciptakan hambatan baru. Air yang seharusnya mengalir turun secara gravitasi justru tertahan dan meluap ke permukaan.

“Air seperti tidak punya jalan. Gorong-gorong lebih tinggi dari saluran, jadi alirannya terhenti,” ujar seorang warga.

Masalah kian kompleks ketika kondisi selokan di banyak titik dipenuhi sedimentasi dan sampah. Saluran yang menyempit bahkan tersumbat membuat kapasitas tampung air menurun drastis. Ketika hujan datang, sistem yang seharusnya mengalirkan air justru berubah menjadi titik genangan.

Di sinilah kritik warga mengeras. Mereka menilai penanganan yang dilakukan selama ini belum menyentuh akar persoalan. Peninggian gorong-gorong dianggap bukan solusi, melainkan bagian dari masalah.

“Seharusnya selokan yang dibersihkan dan dinormalisasi. Kalau aliran lancar, air tidak akan menggenang,” kata warga lainnya.

Pengamat tata kota melihat fenomena ini sebagai cerminan lemahnya perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur drainase. Dalam sistem yang ideal, setiap elemen—mulai dari selokan hingga gorong-gorong—harus berada dalam satu kesatuan elevasi yang selaras. Ketidaksesuaian ketinggian akan menciptakan efek “bottle neck” yang memicu genangan.

Lebih jauh, persoalan ini juga menunjukkan absennya pemeliharaan rutin. Normalisasi saluran, pengerukan sedimen, hingga pengendalian sampah seharusnya menjadi agenda berkala, bukan reaktif saat banjir terjadi.

Dampaknya tidak berhenti pada genangan sesaat. Infrastruktur jalan terancam rusak, aktivitas ekonomi terganggu, dan risiko penyakit meningkat—terutama di kawasan padat penduduk yang rentan terhadap sanitasi buruk.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat berharap adanya perubahan pendekatan. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dinilai mendesak, termasuk penyesuaian desain konstruksi gorong-gorong agar sesuai dengan kontur dan arah aliran air.

Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai langkah konkret yang akan diambil. Kekosongan respons ini memperkuat kesan bahwa persoalan banjir masih ditangani secara parsial, bukan sistemik.

Banjir di Polewali Mandar pada akhirnya bukan semata soal hujan yang turun, melainkan bagaimana air tidak diberi ruang untuk mengalir. Selama persoalan dasar ini belum dibenahi, genangan tampaknya akan terus menjadi cerita berulang setiap musim hujan datang. Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *