KUPANG–BreakingNewspost.id — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meresmikan program revitalisasi satuan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Peresmian dipusatkan di SMA Negeri 9 Kota Kupang, Selasa (5/5/2026), dan dihadiri sejumlah pejabat pusat dan daerah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa program tersebut mencakup ratusan sekolah di berbagai wilayah NTT. Pada tahun 2025, sebanyak 576 satuan pendidikan telah menerima bantuan revitalisasi, dan program ini akan berlanjut pada tahun 2026.

“Revitalisasi ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi bagian dari upaya memuliakan pendidikan—memuliakan murid, guru, dan ilmu pengetahuan,” ujar Abdul Mu’ti dalam sambutannya.
Program revitalisasi mencakup perbaikan infrastruktur sekolah sekaligus mendorong transformasi pembelajaran berbasis teknologi. Pemerintah menargetkan terciptanya lingkungan belajar yang aman, layak, dan mendukung pengembangan potensi siswa secara optimal.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan pendidikan di wilayahnya. Ia menilai program tersebut menjadi langkah strategis dalam mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di NTT.
“Program ini sangat membantu daerah, khususnya dalam memperbaiki fasilitas pendidikan dan mendorong kualitas pembelajaran,” kata Melki.
Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan tidak hanya bertumpu pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan pengembangan kewirausahaan di kalangan siswa. Ia mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan penguatan nilai moral.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya membangun karakter generasi muda yang tangguh. Ia menyebut pendidikan harus mampu membentuk siswa yang memiliki daya tahan, pola pikir maju, serta tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan budaya sekolah melalui konsep lingkungan “ASRI” (aman, sehat, resik, dan indah), sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang belajar yang nyaman dan inspiratif.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut anggota Komisi X DPR RI, pejabat Kemendikdasmen, serta kepala daerah dan pimpinan perguruan tinggi di NTT. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan ini mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong kemajuan pendidikan.
Meski demikian, sejumlah pengamat pendidikan menilai bahwa keberhasilan program revitalisasi tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga pada keberlanjutan pengelolaan, peningkatan kualitas tenaga pendidik, serta konsistensi implementasi di lapangan.
Dengan demikian, program revitalisasi diharapkan tidak berhenti pada seremoni peresmian, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan akses belajar di NTT.
Pemerintah daerah dan satuan pendidikan pun diharapkan mampu menjaga dan memanfaatkan fasilitas yang telah dibangun, agar tujuan jangka panjang—yakni peningkatan kualitas generasi muda—dapat tercapai secara berkelanjutan.
Bergitha abi















