Majene-BreakingNewspost.id — Derita warga di Kecamatan Ulumanda kab majene provinsi Sulawesi Barat,kian terasa di tengah kondisi infrastruktur jalan yang semakin memprihatinkan. Hujan deras yang terus mengguyur wilayah pegunungan, dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan longsor di banyak titik dan membuat badan jalan ambles hampir di sepanjang jalur utama menuju Ulumanda.
Kerusakan tersebut bukan hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga perlahan melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan.
Di sejumlah titik, badan jalan terlihat retak dan tergerus longsor hingga menyisakan jalur sempit yang hanya bisa dilewati kendaraan secara bergantian. Material tanah dan bebatuan yang menutup badan jalan membuat pengendara harus ekstra hati-hati saat melintas, terutama ketika hujan kembali turun.
Bagi warga Ulumanda, kondisi itu bukan sekadar persoalan infrastruktur. Jalan tersebut merupakan satu-satunya urat nadi penghubung masyarakat dengan pusat ekonomi, pendidikan, layanan kesehatan, dan distribusi kebutuhan pokok.
“Kalau hujan turun, kami benar-benar takut lewat. Jalan licin, longsor bisa jatuh kapan saja. Tapi mau bagaimana lagi, kami tetap harus lewat untuk cari makan,” ujar warga meminta namanya tidak di publik.
Keluhan paling besar datang dari para petani. Hasil perkebunan seperti kakao, kopi, cengkeh, dan berbagai komoditas lainnya kini sulit dibawa keluar daerah akibat akses transportasi yang rusak parah. Biaya angkut meningkat, waktu tempuh bertambah panjang, sementara harga hasil panen di tingkat petani ikut tertekan.
Tidak sedikit petani yang memilih menunda pengiriman hasil kebun karena khawatir kendaraan terjebak di jalur longsor atau mengalami kecelakaan di jalan yang nyaris putus.
Kami ini hidup dari hasil kebun. Kalau jalan rusak seperti ini terus, bagaimana hasil panen mau dijual? Kadang mobil tidak berani masuk.
Kondisi tersebut juga berdampak terhadap distribusi kebutuhan pokok ke wilayah Ulumanda. Sejumlah warga mengaku harga barang mulai mengalami kenaikan karena biaya transportasi semakin mahal dan pasokan tersendat.
Di sisi lain, akses layanan kesehatan menjadi persoalan serius yang paling dikhawatirkan masyarakat. Warga yang membutuhkan penanganan medis darurat harus melewati jalur ekstrem yang rawan longsor, bahkan pada malam hari.
Anak-anak sekolah pun ikut merasakan dampaknya. Beberapa pelajar terpaksa berjalan kaki melewati jalan berlumpur dan licin demi tetap bisa mengikuti proses belajar.
Masyarakat menilai kerusakan jalan di Ulumanda bukan lagi persoalan baru. Namun hingga kini, warga mengaku belum melihat adanya langkah penanganan besar dan serius yang mampu menjawab keresahan masyarakat secara menyeluruh.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi segera turun tangan melakukan penanganan darurat sebelum kondisi semakin parah dan benar-benar memutus akses menuju Ulumanda.
Mereka meminta pemerintah segera mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor, memperbaiki badan jalan yang ambles, serta membangun penguatan tebing pada titik-titik rawan longsor.
Menurut warga, penanganan sementara saja tidak cukup jika tidak dibarengi pembangunan infrastruktur jalan yang lebih kuat dan tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem di wilayah pegunungan.
“Jangan tunggu ada korban jiwa atau jalan putus total baru ditangani serius,” ujar seorang tokoh masyarakat.
Hingga kini, masyarakat Ulumanda masih bertahan di tengah keterbatasan akses yang semakin sulit. Namun jika kerusakan terus dibiarkan tanpa penanganan cepat dan terukur, warga khawatir wilayah tersebut perlahan akan terisolasi dari dunia luar.
Di tengah jeritan para petani dan keresahan masyarakat, satu harapan terus disuarakan: hadirnya perhatian nyata dari pemerintah agar akses kehidupan di Ulumanda tidak benar-benar lumpuh.
#SAVEULUMANDA
















