Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Laurensius Lepo: Ritual Wewar Huler Wair, Budaya Turun-Temurun yang Mengakar Kuat di Sikka

22
×

Laurensius Lepo: Ritual Wewar Huler Wair, Budaya Turun-Temurun yang Mengakar Kuat di Sikka

Sebarkan artikel ini

Maumere-Breakingnewspost.id — Bagi masyarakat Kabupaten Sikka, ritual Wewar Huler Wair atau pemercikan air bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan identitas budaya yang telah hidup dan mengakar secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Ritual ini sarat makna dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat.

Menurut Laurensius Lepo, pelaku Huler Wair dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, tradisi ini mengandung nilai-nilai positif yang relevan dalam pembentukan karakter generasi masa kini.

“Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, budaya harus menjadi filter yang baik. Banyak nilai yang bisa dipetik dari ritual huler wair,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, salah satu fungsi utama ritual ini adalah dalam penyambutan tamu. Dalam budaya Sikka, setiap tamu—terutama pejabat, tokoh penting, atau anggota komunitas yang kembali—akan diterima melalui prosesi Huler Wair sebagai simbol penerimaan resmi.

Percikan air kelapa menggunakan daun huler (awar-awar) melambangkan penyucian diri dari hal-hal negatif sebelum seseorang memasuki lingkungan baru atau berinteraksi lebih jauh dengan masyarakat.

Lebih dari sekadar simbol, ritual ini juga merupakan bentuk doa. Masyarakat memohon restu kepada alam, arwah leluhur, dan Tuhan agar tamu yang datang mendapatkan perlindungan, keselamatan, serta kenyamanan selama berada di wilayah tersebut.

“Melalui ritual ini, diyakini segala hambatan dan rintangan dapat dihindari karena mereka dilindungi dan dituntun oleh kekuatan alam, leluhur, dan Tuhan,” tambahnya.

Prosesi Huler Wair umumnya dilakukan oleh tokoh adat yang disebut du’a moan, yang menyampaikan tutur adat sambil memercikkan air kepada tamu. Setiap syair adat yang diucapkan bersifat kontekstual, disesuaikan dengan momen dan status orang yang disambut.

Misalnya, syair untuk penyambutan anak komuni, pernikahan, hingga kunjungan pejabat negara memiliki perbedaan yang signifikan. Karena itu, pelaku ritual dituntut memiliki pemahaman mendalam serta penghayatan terhadap makna setiap tutur adat.

Sebagai pelaku yang kerap dipercaya menjalankan ritual tersebut, Laurensius mengaku bangga sekaligus menyadari tanggung jawab besar yang diemban.

“Kelihatannya sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan oleh semua orang. Diperlukan pemahaman, penghayatan, serta kemampuan menyampaikan syair adat yang tepat sesuai momen,” jelasnya.

Ia juga membagikan sejumlah pengalaman berkesan selama menjalankan ritual Huler Wair, di antaranya saat menyambut kunjungan Mahfud MD dan Listyo Sigit Prabowo di Kabupaten Sikka.

Tak hanya itu, momen yang paling berkesan baginya adalah saat menerima kunjungan utusan UNESCO pada tahun 2013, di mana ia menyampaikan tutur adat dalam tiga bahasa: bahasa adat, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal tidak hanya hidup di ruang tradisional, tetapi juga mampu tampil di panggung internasional.

Melalui pelestarian ritual seperti Wewar Huler Wair, masyarakat Sikka berharap generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan menjaga warisan budaya leluhur sebagai bagian dari jati diri yang tak tergantikan.

Penulis:Yuven Fernandez

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *