Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaDAERAH

Membongkar yang Tersembunyi, Meluruskan yang Bengkok: Haerul “Duga-Duga” dan Jalan Sunyi Kontrol Sosial di Soppeng

0
×

Membongkar yang Tersembunyi, Meluruskan yang Bengkok: Haerul “Duga-Duga” dan Jalan Sunyi Kontrol Sosial di Soppeng

Sebarkan artikel ini

SOPPENG-BreakingNewspost.id — Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali dipenuhi pencitraan, klaim keberhasilan, dan narasi serba positif, suara-suara kritis kerap menjadi elemen yang langka. Dalam situasi itulah, sosok Haerul, wartawan yang dikenal luas dengan julukan “Duga-Duga”, memilih mengambil posisi yang tidak selalu nyaman: mempertanyakan, menguji, dan membongkar berbagai persoalan yang menurutnya luput dari perhatian publik.

Bagi sebagian orang, julukan “Duga-Duga” mungkin terdengar kontroversial. Namun bagi Haerul, sebutan tersebut justru menjadi simbol dari semangat jurnalistik yang selama ini ia pegang. Sebab dalam dunia investigasi, setiap fakta besar sering kali berawal dari sebuah dugaan yang kemudian ditelusuri, diuji, dan dibuktikan melalui kerja lapangan yang panjang.

Di tengah kultur masyarakat yang kadang lebih menyukai kabar baik daripada kritik yang mengusik kenyamanan, Haerul memilih berdiri di ruang yang berbeda. Ia meyakini bahwa tugas wartawan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjalankan fungsi kontrol sosial untuk memastikan kekuasaan, kebijakan, dan pelayanan publik tetap berada dalam koridor kepentingan masyarakat.

“Dalam setiap persoalan, selalu ada dua sisi yang harus dilihat. Tetapi ketika ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka tugas pers adalah menghadirkannya ke ruang publik agar bisa diperbaiki,” ujar Haerul dalam perbincangan eksklusif, Kamis (11/6).

Pandangan tersebut lahir dari pengalamannya bertahun-tahun menyaksikan berbagai persoalan di lapangan. Mulai dari keluhan masyarakat terkait pelayanan publik, persoalan bantuan sosial, infrastruktur, hingga berbagai isu yang menurutnya sering tenggelam di balik laporan-laporan formal yang terlihat baik di atas kertas.

Menurut Haerul, tidak sedikit persoalan yang sesungguhnya diketahui masyarakat, tetapi tidak pernah sampai menjadi perhatian serius karena minimnya ruang untuk menyampaikan kritik secara terbuka. Dalam kondisi seperti itu, media memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi jembatan antara suara warga dan pengambil kebijakan.

Ia menilai bahwa kritik yang disampaikan secara konstruktif tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, kritik merupakan instrumen penting dalam membangun pemerintahan yang sehat dan akuntabel.

“Kalau semuanya hanya memuji, siapa yang akan menunjukkan bagian yang perlu diperbaiki? Kritik bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk memastikan sistem berjalan sebagaimana mestinya,” katanya.

Meski demikian, Haerul menyadari bahwa memilih jalan sebagai pengkritik bukanlah pilihan yang mudah. Tidak jarang ia menghadapi resistensi, perbedaan pandangan, bahkan penilaian negatif dari pihak-pihak yang merasa terusik oleh pemberitaan atau pertanyaan yang ia ajukan.

Namun baginya, risiko tersebut merupakan konsekuensi dari profesi yang dijalani. Ia percaya bahwa wartawan tidak boleh kehilangan keberanian untuk bertanya hanya karena khawatir terhadap tekanan atau ketidaknyamanan yang muncul.

Dalam pandangannya, jurnalisme yang sehat bukanlah jurnalisme yang selalu mencari kesalahan, melainkan jurnalisme yang berani mengungkap fakta secara utuh dan berimbang. Karena itu, setiap informasi yang ia peroleh selalu diupayakan untuk diverifikasi sebelum dipublikasikan.

“Yang saya bawa bukan asumsi. Saya turun langsung melihat kondisi di lapangan, mendengar keluhan masyarakat, lalu mencocokkannya dengan fakta yang ada. Kalau ada dugaan, maka dugaan itu harus diuji dengan data dan kenyataan,” tegasnya.

Prinsip tersebut menjadi alasan mengapa julukan “Duga-Duga” yang awalnya mungkin dianggap sebagai sindiran justru berubah menjadi identitas yang melekat pada dirinya. Sebuah identitas yang mencerminkan proses pencarian kebenaran, bukan sekadar spekulasi.

Di tengah tantangan dunia jurnalistik yang semakin kompleks, Haerul berharap kehadirannya dapat menjadi pengingat bahwa demokrasi membutuhkan partisipasi publik yang aktif. Masyarakat, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Ia mendorong warga untuk lebih berani menyampaikan aspirasi, kritik, maupun laporan terhadap berbagai permasalahan yang mereka temui. Sebab perubahan, kata dia, sering kali bermula dari keberanian seseorang untuk bersuara.

Bagi Haerul, kerja jurnalistik bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial untuk menjaga agar ruang publik tetap dipenuhi fakta, bukan sekadar narasi. Ia percaya bahwa ketika fakta diberi ruang untuk berbicara, masyarakat akan memiliki kesempatan lebih besar untuk menilai, mengawasi, dan mendorong perubahan.

Di tengah berbagai dinamika yang terjadi di Kabupaten Soppeng, kehadiran suara-suara kritis seperti Haerul menunjukkan bahwa fungsi kontrol sosial masih hidup. Bahwa di balik berbagai klaim keberhasilan, masih ada pihak yang memilih bertanya. Dan sering kali, dari sebuah pertanyaan sederhana itulah lahir jawaban-jawaban yang dibutuhkan masyarakat.

Karena pada akhirnya, demokrasi yang sehat bukan ditandai oleh absennya kritik, melainkan oleh keberanian untuk mendengar kritik dan kesediaan untuk memperbaiki apa yang masih bengkok demi kepentingan publik yang lebih besar.

Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan profil tokoh yang menyoroti pandangan dan peran Haerul dalam menjalankan fungsi kontrol sosial melalui aktivitas jurnalistiknya. Pandangan yang disampaikan merupakan bagian dari perspektif narasumber dan tidak dimaksudkan sebagai penilaian terhadap pihak tertentu. :::

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *