Maumere-BreakingNewspost.id — Panti Santa Dymphna di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan komitmennya sebagai lembaga rehabilitasi yang inklusif. Seorang perempuan beragama Islam dengan gangguan jiwa (ODGJ), Eka Yuni Sari, resmi diterima untuk menjalani proses rehabilitasi.
Penerimaan dilakukan langsung oleh pimpinan panti, Lucia, pada Selasa (7/4/2026). Langkah ini menegaskan bahwa layanan di panti tersebut terbuka bagi semua kalangan, tanpa memandang latar belakang agama.
Koordinator Program, Dion Ngeta, menyampaikan bahwa keluarga telah mempercayakan sepenuhnya proses penanganan kepada pihak panti.
“Kami percaya bentuk bimbingan dan pelayanan yang dirancang lembaga adalah yang terbaik. Karena itu kami berterima kasih kepada pimpinan panti yang telah menerima anggota keluarga kami untuk direhabilitasi,” ujar perwakilan keluarga.
Suasana haru sempat mewarnai pertemuan awal. Saat pertama tiba, Eka langsung menyalami dan memeluk Suster Lucia. Interaksi spontan tersebut mencerminkan kedekatan emosional yang cepat terbangun, meski baru pertama kali bertemu.
Eka diketahui berasal dari Kabupaten Ende dan telah mengalami gangguan jiwa sejak 2014. Dalam empat tahun terakhir, ia sempat menjalani perawatan di salah satu panti di Ende, namun belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Hasil observasi awal tim psikologi panti menunjukkan bahwa klien memiliki kecenderungan aktif dan mudah berinteraksi, tanpa menunjukkan perilaku agresif. Sejak hari pertama, Eka terlihat cepat beradaptasi dan mulai mengikuti berbagai program rehabilitasi.
Program yang dijalani mencakup pendekatan psikologi, fisik, serta psiko-spiritual, seperti doa, pendampingan rohani, hingga aktivitas harian yang terstruktur. Meski berbasis Katolik, pihak panti menegaskan pendekatan pelayanan didasarkan pada nilai kemanusiaan universal.
“Panti ini terbuka bagi semua ODGJ, termasuk dari agama lain. Kami menempatkan nilai belas kasih sebagai dasar pelayanan,” tegas Suster Lucia.
Namun demikian, pihak panti menekankan bahwa setiap klien wajib mengikuti program yang telah ditetapkan sebagai bagian dari proses rehabilitasi. Pendekatan psiko-spiritual menjadi salah satu metode utama yang diterapkan.
Data terakhir per April 2026 mencatat jumlah penghuni panti mencapai 136 orang, terdiri dari 16 laki-laki dan 120 perempuan. Jumlah tersebut menjadi tantangan tersendiri, baik dari sisi pengelolaan maupun pembiayaan operasional.
“Tidak mudah mengurus 136 klien dengan karakter yang berbeda. Kebutuhan makan, kesehatan, hingga perbaikan fasilitas menjadi tantangan besar,” ungkap Suster Lucia.
Di tengah meningkatnya biaya kebutuhan pokok dan menurunnya dukungan donatur, pihak panti berharap adanya partisipasi aktif dari keluarga klien. Saat ini, hanya sebagian kecil keluarga yang secara rutin memberikan dukungan.
Meski demikian, pihak panti tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh klien. Dukungan dari keluarga dan donatur dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan layanan rehabilitasi.
Penerimaan Eka Yuni Sari menjadi contoh bahwa pelayanan kesehatan mental dapat berjalan secara inklusif, dengan mengedepankan nilai kemanusiaan di atas perbedaan latar belakang.
Reporter: Yuven Fernandez















