KEFAMENANU-BreakingNewspost.id — Umat Katolik di Paroki Santa Theresia Kefamenanu merayakan Hari Raya Pentekosta dengan penuh khidmat pada Minggu pagi, 24 Mei 2026. Dalam Perayaan Misa Kudus yang dipimpin oleh Gabriel Bouk, umat diajak untuk kembali menyadari bahwa Roh Kudus merupakan napas kehidupan Gereja yang terus menghidupkan iman umat hingga saat ini.
Dalam homilinya, Romo Gabriel Bouk atau yang akrab disapa Romo Gab menegaskan bahwa Hari Raya Pentekosta bukan sekadar peringatan liturgis tahunan, melainkan momentum iman yang menandai kelahiran Gereja dan karya Roh Kudus yang terus hidup di tengah umat manusia.
“Hari Raya Pentekosta adalah hari kelahiran Gereja. Hari ketika Roh Kudus turun dan mengubah para murid yang pengecut menjadi pewarta yang berani,” ungkapnya di hadapan umat.
Ia menekankan bahwa selama lebih dari dua ribu tahun, Gereja tetap hidup bukan semata-mata karena kecerdasan para pemimpin atau keuletan umatnya, tetapi karena Roh Kudus yang terus dihembuskan Allah dalam kehidupan Gereja.
“Pentekosta bukan sekadar perayaan masa lalu, tetapi tentang api Roh Allah yang tetap menghidupi Gereja sampai hari ini,” lanjutnya.
Mengacu pada Injil Yohanes yang menuliskan, “Ia lalu menghembusi mereka dan berkata: Terimalah Roh Kudus,” Romo Gab menjelaskan tiga fungsi utama Roh Kudus dalam kehidupan manusia dan Gereja.
Roh Kudus Adalah Napas Ilahi yang Menghidupkan
Dalam bagian pertama homilinya, Romo Gab menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah napas ilahi yang memberi kehidupan baru kepada manusia.
Menurutnya, ketika Yesus menghembusi para murid, Ia tidak hanya memberi semangat, tetapi juga menghadirkan kehidupan baru yang berasal dari Allah sendiri.
“Roh Kudus adalah napas Allah sendiri yang menghidupkan setiap manusia dan Gereja. Ia masuk ke dalam hati mereka yang letih dan memberi harapan. Ia masuk ke dalam iman mereka yang redup dan menyalakan kembali api kasih,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Gereja tanpa Roh Kudus mungkin tetap berjalan secara lahiriah, tetapi kehilangan jiwa dan daya hidupnya.
“Tubuh tanpa napas menjadi mati, demikian pula Gereja tanpa Roh Kudus kehilangan daya hidupnya,” katanya.
Karena itu, Pentekosta disebutnya sebagai pengingat bahwa Gereja hanya dapat hidup apabila terus bernapas dalam Roh Kudus.
Roh Kudus Adalah Roh Pengetahuan
Romo Gab juga menegaskan bahwa Roh Kudus merupakan Roh Pengetahuan yang menerangi pikiran manusia agar mampu melihat kebenaran Allah dengan lebih jernih.
Ia mengatakan Roh Kudus menolong manusia membedakan antara kehendak Allah dan jalan kesesatan, sekaligus membimbing umat agar tidak terjebak dalam kebingungan dan egoisme.
“Dalam terang Roh Kudus, manusia tidak lagi berjalan dalam kebingungan tetapi mampu berpikir dengan bijaksana, mencari jalan keluar dari persoalan, bukan menyembah masalah,” katanya.
Menurutnya, Roh Kudus juga menuntun manusia untuk membangun damai dan memilih kebenaran, bukan sekadar mengikuti suara yang paling keras.
“Pikiran yang cerdas tanpa Roh Kudus bisa akurat dalam logika, tetapi tersesat dalam kebenaran,” tegasnya.
Roh Kudus Mempersatukan dalam Bahasa Kasih
Pada bagian akhir homilinya, Romo Gab menyoroti karya Roh Kudus yang mempersatukan manusia dalam kasih.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa Pentekosta menunjukkan bagaimana orang-orang dari berbagai bangsa mampu memahami pewartaan para rasul dalam bahasa mereka masing-masing. Baginya, hal itu bukan hanya mukjizat bahasa, tetapi tanda bahwa Roh Kudus bekerja melampaui sekat-sekat manusia.
“Bahasa Roh Kudus adalah bahasa kasih. Bahasa yang tidak membutuhkan kekerasan untuk dimengerti. Bahasa yang tidak melukai untuk didengar,” ujarnya.
Ia juga menyinggung situasi dunia saat ini yang dinilainya dipenuhi bahasa kebencian, provokasi, penghinaan, dan perpecahan.
“Hari ini dunia kita menemukan banyak orang keracunan bahasa roh: bahasa kebencian, bahasa provokasi, bahasa penghinaan dan bahasa yang memecah persaudaraan,” katanya.
Menurut Romo Gab, kasih merupakan satu-satunya bahasa universal yang mampu dipahami semua manusia tanpa memandang suku, agama, budaya, maupun perbedaan lainnya.
“Bahasa Roh Kudus adalah kasih, bahasa yang tidak memecah belah tetapi mempersatukan, tidak melukai tetapi menyembuhkan luka,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa Roh Kudus juga memberi keberanian kepada manusia untuk bangkit dari ketakutan, sebagaimana para murid yang sebelumnya tertutup kemudian tampil sebagai pewarta iman yang berani.
“Roh Kudus mengubah ketakutan menjadi kesaksian, kelemahan menjadi kekuatan, dan keraguan menjadi kepastian iman yang hidup,” ungkapnya.
Di akhir homili, Romo Gabriel Bouk menyampaikan ucapan selamat Hari Minggu kepada seluruh umat Paroki Santa Theresia Kefamenanu sekaligus mengajak umat menjadikan Hari Raya Pentekosta sebagai momentum memperbarui hidup dalam kasih, persaudaraan, dan damai.
“Roh Kudus adalah napas kehidupan Gereja yang menghidupkan dan menguatkan. Roh Kudus mempersatukan semua perbedaan dalam satu tubuh Kristus dengan satu bahasa, yaitu bahasa kasih,” pesannya menutup homili.
Reporter: Bergita Abi.















