Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Budaya

Sayyang Pattuq “Kuda Menari”, Ketika Tradisi Khatam Al-Qur’an Diuji Perubahan Zaman

10
×

Sayyang Pattuq “Kuda Menari”, Ketika Tradisi Khatam Al-Qur’an Diuji Perubahan Zaman

Sebarkan artikel ini

POLEWALI MANDAR  — Sayyang Pattuq atau “kuda menari” kembali menjadi bagian dari perayaan khatam Al-Qur’an masyarakat Mandar di Kabupaten Polewali Mandar, Minggu (20/9/2026), pada momentum bulan Maulid. Tradisi yang memadukan arak-arakan kuda, tabuhan rebana, dan lantunan syair Mandar itu tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga membuka pertanyaan tentang bagaimana warisan budaya dipahami dan diwariskan di tengah perubahan zaman.

Dalam prosesi Sayyang Pattuq, anak yang telah khatam Al-Qur’an menjadi bagian utama arak-arakan. Mereka dibawa menggunakan kuda yang telah dilatih mengikuti irama musik tradisional, sementara keluarga dan masyarakat mengikuti atau menyaksikan prosesi tersebut.

Khatam Al-Qur’an menjadi momentum keluarga memberikan penghargaan kepada anak yang telah menyelesaikan pembelajaran membaca Al-Qur’an. Perayaan itu sekaligus menghadirkan unsur budaya melalui penggunaan kuda, musik tradisional, syair, dan arak-arakan.

Di titik inilah Sayyang Pattuq tidak sekadar dapat dilihat sebagai kemeriahan seremonial. Tradisi tersebut mempertemukan praktik keagamaan dengan ekspresi budaya masyarakat Mandar yang diwariskan antargenerasi.

Persoalannya, keberlangsungan tradisi tidak cukup diukur dari apakah prosesi masih digelar. Pengetahuan mengenai tata cara, nilai, dan konteks budaya Sayyang Pattuq juga perlu diteruskan kepada generasi muda agar tradisi tidak kehilangan pemahaman di balik bentuk seremonialnya.

Generasi muda menjadi bagian penting dalam mata rantai pewarisan tersebut. Mereka bukan hanya peserta prosesi, tetapi juga calon penerus yang akan menentukan bagaimana Sayyang Pattuq dipahami dan dijalankan pada masa mendatang.

Aspek penyelenggaraan juga perlu diperhatikan. Penggunaan kuda dalam arak-arakan menuntut pengelolaan yang memperhatikan keselamatan anak dan penonton, ketertiban prosesi, serta kondisi dan perlakuan terhadap hewan yang digunakan.

Karena itu, pelestarian Sayyang Pattuq tidak semata-mata berkaitan dengan seberapa sering tradisi tersebut digelar. Keterlibatan generasi muda, pemahaman terhadap nilai budaya, ketertiban, dan keselamatan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutannya.

Di Polewali Mandar, Sayyang Pattuq tetap hadir dalam perayaan khatam Al-Qur’an pada bulan Maulid. Tradisi ini mempertemukan unsur keagamaan, kesenian, dan kebersamaan masyarakat dalam satu rangkaian budaya.

Tantangannya adalah menjaga agar kemeriahan tidak mengaburkan makna. Pewarisan Sayyang Pattuq perlu mencakup bukan hanya bentuk arak-arakan, tetapi juga pengetahuan dan nilai yang menyertainya.

Menjaga Sayyang Pattuq pada akhirnya bukan sekadar mempertahankan pertunjukan budaya. Upaya itu juga menyangkut bagaimana masyarakat Mandar memastikan generasi berikutnya mengenal, memahami, dan mampu meneruskan kearifan lokal yang hidup dalam tradisi khatam Al-Qur’an.Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *